Ledakan bom yang terjadi di tiga gereja di Surabaya—Gereja Pantekosta, Gereja Santa Maria, dan Gereja Kristen Indonesia—telah menjadi bukti terhadap kembali mencuatnya aksi teror di negara kita, Indonesia. Dalam beberapa tahun belakangan ini, setelah Bom Sarinah dan bom JW Marriot beberapa tahun silam, Indonesia kembali digemparkan dengan serangan bom bunuh diri yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tak dikenal (baca: teroris). Hal ini membuat rentetan aksi teror seolah masih tersisa, Indonesia belum seratus persen bebas dari berbagai macam ancaman teroris.

Negara kita sejatinya adalah negara yang mengusung perdamaian. Terlihat jelas dari sikap toleran yang senantiasa kita jumpai setiap saatnya. Walaupun mayoritas warga negara kita beragama Islam, akan tetapi Indonesia tidak menyebut dirinya sebagai sebuah negara Islam (khilafah). Sila pertama telah menjadi bukti atas kebebasan beragama yang sesuai dengan Ketuhanan yang Maha Esa. Ditambah lagi dengan slogan Bhineka Tunggal Ika-nya yang sangat kental sebagai simbol keberagaman.

Biarpun begitu, nyatanya egosentrisitas masih berkembang biak di luar nalar dan ekspektasi sebagai negara yang toleran. Ternyata, masih banyak beberapa kelompok yang menginginkan negara Indonesia hanya dihuni oleh umat Islam saja. Relalitas ini bisa kita amati dari konsep negara khilafah sebagai pengganti negara Pancasila yang diusung oleh kelompok tertentu. Fenomena ini bisa menjadikan persoalan di dalam negeri akan menjadi persoalan yang lebih rumit ketimbang persoalan yang timbul dari luar. Kondisi ini juga mengindikasikan bahwa persoalan agama masih menjadi faktor utama atas pergolakan yang melangit dan sulit untuk diselesaikan.

Banyak pakar yang memprediksi bahwa serangan teroris akan tetap ada, sampai Indonesia benar-benar menunjukkan bahwa dirinya adalah negara yang majemuk. Sebab, paham terorisme ini muncul akibat radikalisme beragama yang masih merebak—selain sikap toleran yang belum menjangkit ke seantero umat Islam. Paham radikal (radikalisme) inilah yang kemudian menjadi sebuah masalah yang merujuk pada rendahnya pendidikan tentang agama. Itu tandanya, bahwa masih banyak warga negara Indonesia yang mudah terhasut oleh paham agama yang radikal, kekirian.

Selaras dengan itu, seperti yang telah dijelaskan oleh Malala Youzafzai bahwa Senjata dapat membunuh teroris dan pendidikan dapat membunuh terorisme. Atau dalam bahasa asingnya, “With guns, you can kill terrorist. With educations, you can kill terrorism.” Berdasarkan penjelasan ini, kita bisa memahami bahwa fenomena terorisme yang masih membumi dan seolah sukar untuk ditumpaskan berawal dari pemahaman yang keliru mengenai agama. Paham radikal yang masih mendarahdaging menjadi batu ganjal atas sikap toleran dan mengotori perdamaian di Bumi Pertiwi. Paham inilah yang menjadi muasal lahirnya paham yang menyesatkan (terorisme).

Sudah barang tentu, kita harus saling membangun Indonesia dan membersihkan negara ini dari segala macam ancaman teror. Melalui hastag #KamiTidakTakut—yang sempat menjadi trending topic—Indonesia harus bangun dari tidur panjangnya. Sebab, masalah radikalisme dan terorisme bukan hanya menjadi tugas aparat penegak hukum, melainkan menjadi sebuah tanggung jawab yang harus kita selesaikan secara bersama. Bukan tidak mungkin, apabila warga negara belum berbenah, ledakan di tiga geraja di Surabaya bakal menjadi awal mula dari rentetan ledakan yang lain.

Momentum Ramadan

Mengacu pada pembahasan di atas, maka sudah semestinya semuanya bermula dari diri kita pribadi sebagai salah seorang warga negara. Bisa jadi, teroris yang sebenarnya adalah kita. Untuk itu, kita—sebagai warga negara—selain ikut mengkampanyekan perdamaian dengan berbagai macam cara dan medium, juga harus saling berbenah. Bisa jadi, kita turut terhasut oleh paham radikal, sehingga membuat pemikiran kita cenderung ke arah kiri. Justru, hal itu lebih berbahaya. Bukannya menjaga, tetapi malah merusak. Membuat Indonesia kian semrawut.

Supaya persoalan tidak semakin larut, sejatinya kita diuntungkan dengan kedatangan Bulan Suci, Ramadan. Melalui Ramadan ini, kita bisa saling berbenah. Kasus teror yang terjadi memanglah bermula dari pemahaman yang radikal. Nah, salah satu upaya deradikalisasi bisa dilakukan di bulan Ramadan. Paham-paham kekirian yang menyesatkan dapat ditanggulangi dengan pemahaman yang benar—yang sesuai dengan syariat Islam melalui berbagai macam kegiatan keagamaan di bulan puasa ini.

Kita, sebagai salah seorang warga negara harus menyucikan hati dan pikiran. Memahami Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, bukan sebagai agama yang anarkis. Ramadan menjadi sebuah momentum untuk membenahi berbagai aspek keagamaan. Masalah-masalah pemahaman agama yang keliru, yang eksplosif, yang egosentris, yang ekstrem, dan lain-lain. Fakta juga menunjukkan tidak adanya kasus teror di bulan Ramadan. Inilah momentum yang sangat disayangkan bila kita tidak memanfaatkannya.

Selain untuk membenahi pemahaman keagamaan dan meningkatkan ketakwaan, Ramadan bisa jadi sebuah momentum untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah. Nilai-nilai persaudaraan bisa kita rajut kembali di bulan ini. Umat Islam bisa lebih memahami esensi kebersamaan dan kekeluargaan. Hal itu dapat meminimalisir radikalisme, dan paham-paham lain yang memecahbelahkan umat. Ukhuwah tidak hanya dibangun antar sesama umat Islam belaka. Namun, juga antar sesama umat agama yang lain, yang masih berada di Bumi Pertiwi, menjadi bagian dari warga negara Indonesia.

 Dua konteks tersebut menjadi solusi alternatif untuk memerangi radikalisme sebagai salah satu akar kuat yang memicu terjadinya aksi teror, atau serangan bom. Melalui Ramadan, warga negara Indonesia dapat memperdalam ilmu keagamaan (agama Islam). Membenahi paham radikal, paham kekirian yang keliru. Pun juga sebagai wahana untuk menambah semangat beribadah, memperkuat Iman. Warga negara Indonesia juga dapat meningkatkan ukhuwah. Menjalin silaturahmi dan solidaritas antar sesama umat beragama, baik agama Islam maupun non Islam. Sehingga, kita bisa turut mengurangi aksi teror yang meresahkan.