Dua hari yang lalu, saya ditelepon Letnan Jenderal TNI (Purn) Rais Abin. Suaranya masih terdengar keras dan lantang, meski usianya sudah memasuki usia 93 tahun. 

Ia lahir pada 15 Agustus 2018 di Koto Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat. Usia cukup lama dan berpengalaman seperti Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad yang ketika terpilih, juga berusia persis sama, yaitu  92 tahun. Rais Abin pun sekarang masih aktif memimpin Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Awalnya tidak banyak yang saya ketahui tentang beliau, hingga suatu hari seorang teman mengatakan, "Anda tidak tahu tentang Rais Abin?" ujarnya setengah heran. "Baca ini," ujarnya kembali sambil memberikan koran harian Pikiran Rakyat edis 19 Januari 1977.

Saya baca selintas tentang pengangkatan Mayor Jenderal Rais Abin sebagai Panglima Pasukan Perdamaian PBB, di mana Sekjen PBB waktu itu, Kurt Waldheim membacakan keputusan pengangkatannya menjadi Panglima UNEF (United Nations Emergency Force/Pasukan Perdamaian PBB di Timur Tengah).

Naluri jurnalistik saya bekerja. Saya langsung mewawancarai beliau sebagaimana terlihat dalam foto di atas. Waktu itu saya bekerja sebagai staf redaksi majalah Biografi Politik

Sejak itu hubungan saya dengan Rais Abin terjalin baik dan pada tahun 2012. Saya menulis buku untuk beliau berjudul Mission Accomplished, Mengawal Keberhasilan Perjanjian Camp David, yang diterbitkan penerbit Buku Kompas tahun 2012. Pak Jacob Oetama sebagai Pemimpin Umum Harian Kompas meluangkan waktunya menulis Sekapur Sirih dari buku tersebut.

Buku Pak Rais Abin (Dokumentasi)

Di bawah komando Rais Abin, pasukan UNEF II yang beranggotakan 4.031 personel berhasil mengamankan jalan menuju perundingan damai antara Mesir dan Israel yang berperang.

Pada 1978, Rais melaporkan kepada PBB telah dilakukan persiapan perundingan tingkat tinggi antara para pemimpin Mesir dan Israel. Perdamaian akhirnya terwujud di Amerika Serikat pada 1979, diawali dengan perundingan perdamaian di Camp David. Di bawah pimpinan Rais dengan anggota pasukan berbagai negara itu, termasuk dari Indonesia sendiri, akhirnya terciptalah sebuah perdamaian antara Mesir dan Israel.

Ini bukan langkah yang mudah, apalagi jika berbicara dengan Israel, negara yang selalu menganggap dirinya selalu benar. Tetapi berkat kepemimpinan Rais Abin, Israel berkeinginan berdamai dengan Mesir.

Ada yang berharap, Rais Abin itu sebaiknya bertindak seperti Jenderal MacArthur. Saya menganggap kedua jenderal itu menghadapi situasi dan kondisi yang berbeda. Letjen TNI (Purn) Rais Abin dipercaya memimpin pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sedangkan Jenderal MacArthur memimpin pasukan Amerika Serikat bertempur di lapangan.

Menarik untuk dikenang ialah ketika MacArthur memimpin pasukannya di Papua. Itu terjadi setelah pasukan Jepang menguasai Pulau Jawa. 

Sesudah tentara Belanda di Pulau Jawa menyerah kepada pasukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, markas besar Kekaisaran Jepang di Tokyo mengeluarkan perintah untuk terus bergerak ke arah timur. Hingga akhirnya Jepang berhasil menduduki Nieuw Guinea (Wilayah Tanah Papua). Pada tanggal 19 April 1942, untuk kali pertama Jepang mendarat di Hollandia (Jayapura) dan selanjutnya menguasai seluruh Papua, kecuali Merauke.

Akan tetapi, pada bulan April 1944, di bawah komando MacArthur, pasukan Sekutu sudah siap melakukan serangan besar-besaran bahkan terbesar dalam sejarah Perang Dunia II di kawasan Asia Pasifik.

Di Papua, hingga sekarang, masih kita dapati Tugu MacArthur yang dibangun di atas bukit di mana masyarakat Sentani bisa menyaksikannya di atas bukit. Situs yang berada di tengah markas militer ini pernah direnovasi tahun 1980 serta dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua. Itulah cerita singkat dua jenderal dari Indonesia dan Amerika Serikat (tetapi bersinggungan dengan Indonesia di Papua)