Kedzaliman akan terus ada, bukan karena banyak orang jahat, tetapi karena diamnya orang baik. ~ Ali bin Abi Thalib

Pernah suatu kali saya menonton film berjudul The Flu, yang menceritakan mengenai wabah virus yang menyerang Negara Korea bagian Selatan. Hingga akhirnya, membuat pemerintah setempat memberlakukan karantina pada daerah tertentu yang diyakini telah dijangkiti virus di mana tiap-tiap orang yang akan melewati batas daerah itu akan ditembak oleh aparat militer.

Hingga suatu ketika, ada seorang anak kecil yang mau melewati garis batas pemisah ini. Dilema pun terjadi pada aparat militer. Apakah tetap menembak atau tidak. Anda tahu apa yang dilakukan militer? Mereka membredel tembakan ke anak itu.

Saya tentu tidak sedang ingin membahas sinopsis atau menjadi seorang spoiler yang tidak disukai, karena memberikan hampir semua ringkasan menarik dari sebuah film. Tetapi saya mau memfokuskan diri pada apa yang dilakukan oleh para tentara, yang telah saya gambarkan secara singkat di atas.

Saya dan Anda tentu sudah tidak asing dengan yang namanya hati nurani. Tiap-tiap kita memilikinya. Di kala terjadi suatu tindakan yang bermaksud menyakiti orang lain, kadangkala kita tidak sanggup untuk melihat dan bahkan mengecam tindakan itu. Hati nurani ibarat dinding hati yang mengarahkan kita untuk sejatinya memanusiakan orang-orang di sekitar kita dengan tidak bermaksud melakukan tindakan jahat.

Tetapi coba kita bayangkan, seandainya di depan kita ada seorang anak yang sedang mencari ayah dan ibunya, menangis dan bahkan terluka di sekujur tubuhnya, dibredel tembakan oleh aparat militer? Sadis, tidak punya hati nurani. Demikian acapkali kita akan meresponi hal ini. Tetapi itu yang terjadi di film yang saya telah kemukakan di atas dan terjadi pula di dunia yang sedang kita hidup kini.

Myanmar, sebuah Negara yang terletak di Asia Tenggara bagian Selatan sedang digoncang dengan peristiwa kemanusiaan. Jika kita sering atau pernah mendengar kata Rohingya, berarti paling tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Masyarakat dengan etnis Rohingya saat ini setiap hari sedang diperhadapkan dengan kekejaman aparat militer, yang bahkan membunuh dengan keji bayi-bayi mereka! Data dari Kumparan.com menunjukkan bahwa ratusan bahkan ribuan orang tewas termasuk di dalamnya anak-anak yang bahkan baru lahir. Aparat militer bertindak dengan beringas dan menembaki siapa saja tanpa pandang bulu.

Kita mungkin bertanya, ke mana hati nurani aparat militer yang melakukan “pembunuhan” itu? Mengapa bisa sedemikian tega mereka melakukan tindakan mengerikan itu? Jawabannya adalah raib! Mereka telah menimbun suara hati nuraninya dengan dalih mengikuti arahan pimpinan komando militernya.

Saya dan anda juga tahu, kalau dalam militer diberlakukan struktur koordinasi di mana bawahan harus tunduk dan taat pada apa yang disampaikan oleh pemimpinnya. Jika tidak, maka ancaman berupa punishment akan diberlakukan. Itu pula yang membuat aparat militer di Myanmar seakan tidak merasa bersalah membunuh sesama manusia dengan dalih mematuhi instruksi pimpinan.

Sebuah percobaan semakin memperkuat hal ini. Milgram experiment dirancang oleh Stanley Milgram ingin mencoba mencari tahu bagaimana hubungan antara kepatuhan pada otoritas dengan suara hati nurani. Saya tidak akan jelaskan secara rinci apa yang dilakukan dalam eksperimen ini, karena anda bisa mencari di google.

Saya langsung saja pada kesimpulan bahwa hasil dari percobaan ini sangat mengejutkan. Orang-orang akan mematuhi suruhan dari atasannya sekalipun itu akan menyakiti orang lain. Tiap-tiap dari orang itu juga berdalih bahwa ia tidak bertanggungjawab akan tindakannya, karena mereka hanya melaksanakan sebuah perintah.

Melalui percobaan ini, kita dapat paham penyebab sedemikian beringas dan  tampak memiliki perasaan aparat militer di Myanmar dalam membunuh etnis Rohingya.

Di sini, saya tidak sedang ingin membenarkan tindakan yang dilakukan oleh aparat militer di Myanmar. Tidak pula menyempitkan penyebab dari kasus yang terjadi di sana, karena memang amatlah kompleks. Tetapi saya berkeinginan mengajak kita semua, yang mana hati nuraninya tidak berada di bawah bayang-bayang ancaman untuk mau peduli dengan penderitaan sesama kita di Myanmar.

Kita tidak bisa hanya mengutuki aparat keamanan yang melakukan tindakan tidak manusiawi itu karena mereka pun berada dalam perintah. Meski hal ini bukan bermaksud untuk menyetujui perbuatan-perbuatan mereka. Karena toh setiap manusia punya pilihan dalam hidupnya. Menyakiti atau mengasihi sesama. Entah pun di bawah paksaan memilih.

Tetapi yang ingin saya maksud adalah mari kita galakkan suara perlawanan hati nurani. Karena kita sadar bahwa tiap-tiap hati nurani kita jelas menentang suatu tindakan yang tidak berpihak pada perlakuan ramah terhadap kemanusiaan. Hati nurani kita jelas tidak mendukung perbuatan menyakiti sesama manusia dengan alasan dan dalih apapun.

Untuk itu, mari bersama pergunakan sosial mediamu untuk menyuarakan ini. Karena mungkin kita jauh dari Myanmar dan tidak mampu mendukung langsung, setidaknya simpatimu diperlukan dalam hal ini. Jika kita diam dan abai, maka sama saja kita merestui tindakan tidak manusiawi yang sedang dialami saudara kita di Myanmar.

Kicaukan suara hati nuranimu akan peristiwa pembunuhan etnis Rohingya. Tuliskan apa yang kau rasakan setelah melihat semua kejadian pemberitaan dan pembunuhan yang sampai saat ini terus berlangsung.

Dengan ini, kita bermaksud kembali men”getarkan” suara hati nurani para pemimpin militer yang mengintruksikan pembantaian pada sesama kita di Myanmar, agar berhenti melakukan itu. Karena sama saja tindakan itu mengkhianati suara hati nuraninya. Lalu, maukah anda  melakukan ini bersama saya? #SuaraHati Nurani #SaveRohingya