Pada tahun 2017, saya berkesempatan menghadiri acara Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Cirebon, Jawa Barat. Di dalam bis dari stasiun menuju lokasi kegiatan di pondok pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin, saya duduk bersama seorang laki-laki.

Namanya adalah Rahim. Dia seorang muslim, suku Jawa, mahasiswa pascasarjana, dan dari keluarga pesantren di ujung timur pulau Jawa.

Rahim memiliki suara yang halus dan lembut, kulit yang cerah, penampilan yang bersih dan rapi dan bau parfum yang soft. Di mata saya, Rahim adalah seorang laki-laki yang feminin.

Hari-hari berikutnya, saya pun mulai tahu jika Rahim adalah seorang transman. Transman adalah laki-laki yang terjebak dalam diri tubuh perempuan, orang yang seperti inilah yang mengidentifikasi gender sebagai diri laki-laki. Karena mengidentifikasi gender sebagai laki-laki, transman tertarik secara seksual kepada perempuan. 

Berawal dari pertemuan di dalam bis, kemudian duduk bareng di acara KUPI, pertemanan kami berlanjut hingga dua cangkir kopi di satu meja bersama di Ling-Lung Kopi & Eatery Kota Yogyakarta.

Rahima-Rahim

Rahima adalah nama asli Rahim di Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga. Rahima adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Rahima lahir dan besar di lingkungan pondok pesantren salaf (tradisional).

Pondok pesantren milik kedua orang tua Rahima cukup besar. Santrinya kurang lebih berjumlah 500 orang santri, baik putra maupun putri. 

Abahnya Rahim, di samping sebagai pengasuh pondok pesantren, juga menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di tingkat Provinsi. Sedangkan ummi Rahima adalah seorang ibu Nyai, mengajar santri membaca Alquran, dan setiap tahun berangkat haji karena bertugas sebagai pendamping haji dari Kementerian Agama RI.

Di usia Rahima ke 22 tahun, ia dan keluarga besarnya melaksanakan ibadah haji bersama ke tanah suci Makkah Madinah.

Rahima mengawal pendidikan sekolah dasar di kampungnya, belajar membaca Alquran, dan menulis arab langsung dari kedua orang tuanya. Sejak usia 15 tahun, Rahima menempuh pendidikan Madrasah Aliyah di pesantren khusus Alquran di Wonosobo, Jawa Tengah.

Rahima kemudian melanjutkan pendidikan Strata 1 di Universitas Negeri Semarang dengan mengambil jurusan Bahasa Inggris.

Sejak kecil, Rahima dididik oleh orang tuanya untuk menjadi anak yang salihah, menikah dengan segera, memiliki anak yang saleh/salihah, dan mengabdi di lembaga pesantren milik kedua orang tuanya.

Masih lekat dalam ingatan Rahima bahwa ketika ia duduk di Sekolah Dasar (SD), Rahima merasa nyaman bermain layang-layang, main sepak bola, dan petak umpet bersama teman laki-laki ketimbang bermain boneka-bonekaan bersama teman perempuan. Bahkan Rahima sangat nyaman tidur dengan santri laki-laki ketimbang tidur dengan santri perempuan.

Ketika Rahima berusia 12 tahun, Rahima merasa orang tuanya melakukan pemaksaan dalam tata cara berpakaian Rahima. Orang tua Rahima memaksa Rahima menggunakan jilbab/kerudung ketika sekolah Madrasah Tsanawiyah. Bahkan ummi Rahima memaksanya untuk tidur bersama santri perempuan di asrama pesantren putri dan melarangnya tidur bersama santri putra.

Hingga suatu hari, Rahima melakukan pelanggaran tidur di santri laki-laki dan melakukan pelanggaran pesantren berupa menyemir rambut. Ummi Rahima kemudian memanggilnya dan memberikan sanksi berupa rambutnya digundul.

Hingga di usianya ke 14 tahun, ketika Rahima mengalami haid pertama kalinya dan mengalami perubahan tubuh berupa tumbuhnya payudara, Rahima merasakan apa yang namanya cinta. Ya, cinta pertama Rahima bukan kepada laki-laki. Rahima menyukai perempuan. Menurutnya, perempuan membuat hati Rahima merasa nyaman.

Rasa suka kepada perempuan Rahima simpan dalam hati. Rahima tak berani untuk mengungkapkan hingga usianya ke 23 tahun. 

Menyimpan rasa suka kepada sesama jenis bukan tanpa alasan. Rahima melihat bahwa keluarganya dan teman-temannya mencintai lawan jenis. Pada kondisi inilah batin Rahima bergejolak bertanya dan terus bertanya.

Mengapa aku bertubuh perempuan dan mengapa aku memiliki perasaan kepada perempuan? 

Coming Out & Deklarasi Perubahan Gender 

Setelah Rahima menyelesaikan kuliah S1, Rahima merasa bahwa sudah saatnya menyampaikan identitas gendernya kepada kedua orang tuanya.

Jauh sebelum bercerita kepada kedua orang tuanya, Rahima datang ke ibu Alissa Wahid di Yogyakarta untuk konsultasi psikologi ke seorang psikolog yang sensitif gender. Ibu Alissa mengatakan bahwa ”Menjadi mayoritas dan minoritas adalah persoalan angka”.

Rahima untuk pertama kalinya menyampaikan bahwa dirinya adalah laki-laki kepada umminya. Dengan suara yang lembut dan dengan menggunakan bahasa kromo, Rahima pelan-pelan bercerita tentang dirinya dan ketertarikan seksualnya.

Ummi Rahima merespons dengan santai dan dengan mengalihkan pembicaraan, ”Tak kira kau mau bilang kalau kau hamil.” Rahima kemudian tersenyum sendiri.

Beberapa hari setelah menyampaikan ke umminya, abah Rahima memanggilnya dan mengatakan, ”Abah tak bisa ngomong apa-apa, ini mungkin sudah takdirmu.” Rahima terdiam.

Rahima merasa bahwa kedua orang tuanya menerima identitas gendernya yang baru. Tetapi sayangnya, kakak laki-laki Rahima yang pertama menolak bahkan menentang identitas gendernya. Celaan dan hinaan Rahima terima dari kakak kandungnya sendiri yang menolak kehadiran dirinya sebagai transman.

Sejak menyampaikan kepada kedua orang tuannya, Rahima kemudian melepas kerudungnya dan menggantinya dengan sorban yang diikat di atas kepala. Selama proses peralihan kerudung ke sorban, itu Rahima lakukan selama kurang lebih 2 tahun.

Tidak hanya itu, Rahima juga melakukan terapi hormonal selama tiga bulan dengan melakukan suntik hormon tiga minggu sekali sehingga berhenti haid. Rahima juga melakukan pust up agar payudara mengecil.

Di sisi yang lain, abahnya meminta Rahima menjadi sopir pribadi dari kediaman ke kantor DPRD dan memperkenalkan Rahima ke kolega di kantor dewan bahwa Rahima adalah anaknya yang transman.

Ketika teman-teman abahnya bertanya kenapa menjadi transman, abah Rahima menjawab dengan percaya diri bahwa di dalam fikih (hukum Islam), ada istilah Khuntsa dan mukhonnats, yang bermakna bahwa keberadaan transman itu adalah sebuah realitas yang tak bisa dibantah dan ditolak.

Lebih dari itu, orang tua Rahima mengabulkan permintaan Rahima untuk melakukan pergantian nama dari nama Rahima ke Rahim. Rahima kemudian mengurus perpindahan nama dan melakukan sidang di pengadilan Kabupaten, akan tetapi hakim menolak permintaan Rahima dan keluarga besar.

Merasa bahwa Hakim di pengadilan daerahnya tak berperspektif gender, abah Rahima kemudian memindahkan KTP Rahima ke kabupaten lain. Di kabupaten yang baru inilah Rahima melakukan sidang dua kali dan hakim mengabulkan permohonan Rahima untuk ganti nama menjadi Rahim.

Selama proses perjuangan Rahima ganti nama menjadi Rahim, abah Rahima berada di rumah sakit dan menjalani perawatan intensif karena penyakit diabetes. Bahkan ketika hakim mengabulkan permohonan Rahima, beberapa menit kemudian, abah Rahima dipanggil oleh Yang Maha Kuasa (Innalillahi wa Inna Ilahi Rajiun).

Perasaan Rahima kala itu bahagia dicampur sedih. Bahagia karena hakim mengabulkan permohonanya, sedih karena abahnya telah tiada. Rahima merasa bahwa sebenarnya abahnya menunggu pergantian nama Rahima menjadi Rahim.

Selama di rumah sakit inilah kakak kandung Rahima menerima kehadiran dirinya yang transman. Bahkan kakak laki-lakinya dan kakak perempuannya memperkenalkan Rahima kepada teman-teman dan para alumni santri di pondok pesantren sebagai Rahima yang transman.

Setelah tiga tahun kepergian abahnya, ummi Rahima dipanggil oleh Allah (Innalillahi wa Inna Ilahi Rajiun). Rahima merasa kesedihan yang mendalam karena kehilangan orang-orang yang mencintainya dengan tulus dan menerima kehadiran identitas gendernya tanpa penolakan apa pun.

Pandangan Rahim tentang Transman Maskulin 

Yang unik dari peralihan identitas gender Rahima-Rahim dari perempuan ke laki-laki adalah ketidaksetujuan Rahima atas perubahan totalitas dari feminin yang diidentikkan kepada gender perempuan kepada maskulin yang diidentikkan kepada  laki-laki.

Bagi Rahim, menjadi laki-laki tak harus berotot, tak harus bersuara berat, tak harus merokok, tak harus memiliki bulu, tak harus memiliki perut buncit, dan tak harus menolak pekerjaan domestik. Karena itu semua, menurut Rahim, adalah ekspresi laki-laki yang dimaskulinkan.

Rahim dengan tegas menolak pandangan bahwa menjadi laki-laki harus maskulin, bahwa menjadi perempuan harus feminin. Karena memaksa sifat feminin dan maskulin kepada seseorang adalah bentuk pengingkaran terhadap kodrat.

Menurut Rahim, orang lain tak harus menerima ekspresi transman yang maskulin, karena yang terpenting adalah bagaimana orang lain memperlakukan transman dengan penerimaan tanpa syarat.

Rahim justru menjadi diri apa adanya, identitas gender laki-laki dengan sifat feminin yang melekat pada dirinya. Meski Rahim merasa diri sebagai laki-laki, Rahim tetap melakukan aktivitas domestik yang diidentikkan kepada perempuan.

Rahim bersuara lembut, tak memiliki otot, perut tak buncit, melakukan perawatan kulit dan wajah, berpenampilan bersih, rajin mencuci baju dan piring, rajin menyapu halaman rumah, rajin memasak dan menyayangi anak kecil.

Kini, di usia Rahim yang ke-28, Rahim bahagia menjadi dirinya yang transman. Rahim terus berjuang untuk membuktikan kepada dunia bahwa menjadi transman itu bukan dosa, bukan kutukan, dan bukan sumber bencana alam.