Acara sekelas Indonesia Lawyer Club (ILC) yang beritme tegang, karena biasanya saling debat dan tarik kepentingan, seketika berubah menjadi acara yang penuh empati. Itu ketika tokoh nasionalis Mahfud MD angkat suara menceritakan soal jabatan cawapres yang seolah-olah memastikan dirinya terpilih, namun nyatanya tidak demikian.

Dalam episode ILC yang mengangkat tema Antara Mahar dan PHP, Mahfud MD menceritakan semuanya secara blak-blakan tanpa menahan diri sedikitpun. Tergambar jelas kebesaran hati dan jiwa seorang Mahfud MD ketika dirinya menceritakan setiap detail kejadian hingga batal menjadi calon wakil presiden.

Keseluruhan cerita seorang Mahfud MD yang berdurasi kurang lebih 40 menit dalam episode ILC tersebut menggambarkan betul bagaimana politik kita hari ini. Politik yang tidak beretika karena vokalnya seperti bunglon yang menyesuaikan kondisi tanpa memikirkan korban dari caranya bertahan hidup itu.

Politik oligarki yang melukai hati seorang nasionalis yang berjiwa besar. Tentu tidak terasa sakitnya, tapi cara mereka membentuk narasi tersebut patut diketahui publik.

Mahfud MD memang digadang-gadang menjadi cawapres untuk Presiden Jokowi yang paling kuat. Karena dirinya dianggap sosok yang cocok dengan mantan wakil Jokowi yang sebelum-sebelumnya. Sejarah berbicara bahwa mantan wakil jJkowi adalah orang yang berjiwa fighter dan berpeluang kuat untuk naik menjadi kepala negara di periode berikutnya. Contohnya adalah Ahok.

Jangan-jangan hal inilah yang ditakutkan oleh para elite partai jika cawapresnya adalah seorang Mahfud MD yang memiliki karakter kebangsaan yang kuat, bahkan mungkin dapat dikatakan selevel dengan Presiden Jokowi. Seorang yang sangat senior dalam tata negara, jujur, bersih, berjiwa nasionalis tinggi, berpola pikir yang menyatukan dengan segala kritik kebangsaan tanpa memandang teman dan berpeluang untuk dicintai rakyat karena sejak lama terkenal dengan track record yang sangat positif. 

Para elite partai takut jika nantinya Jokowi berhasil terpilih menjadi presiden pada tahun 2019-2024 dan kemudian di Pilpres berikutnya, yaitu tahun 2024, Mahfud MD akan menjadi sosok yang kuat untuk terpilih menjadi presiden. 

Dengan adanya narasi itu, tentu saja para elite partai yang bagaikan bom waktu, menunggu-nunggu waktu yang tepat untuk meledakkan ambisinya untuk menjadi presiden, merasa tidak nyaman. Karena secara tidak langsung, narasi tersebut akan menutup peluangnya.

Akhirnya KH Ma'ruf Amin (KMA)-lah yang menjadi cawapres untuk Presiden Jokowi. Patut kita berikan apresiasi atas kebesaran hati seorang Mahfud MD yang ikhlas dan mengerti betul dinamika politik.

Dalam cerita Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia Luhut Binsar Panjaitan di salah satu episode program Mata Najwa bertopik 'Utak-atik 2019', menyatakan bahwa dalam satu kesempatan terkait dengan cawapres ini, Presiden Jokowi secara langsung meminta maaf kepada Mahfud MD. Dan Mahfud MD sendiri menyatakan bahwa presiden tidak perlu meminta maaf, dirinya mengerti bahwa keputusan tersebut sangat sulit dan percaya bahwa keputusan presiden adalah keputusan yang terbaik.

Sungguh kebesaran hati 2 orang kesatria tergambar dalam momentum tersebut. Jabatan tertinggi sekelas presiden tidak sungkan meminta maaf kepada salah satu anggota Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila, yaitu Mahfud MD, kemudian direspons dengan jawaban yang begitu mendamaikan. 

Kaputusan memilih KMA sebagai cawapres juga bukanlah langkah yang salah. Pasalnya, bangsa kita saat ini sedang kental sekali dengan politik SARA dan berkembangnya isu PKI yang menimpa Jokowi. Dengan cawapres seorang kiai, tentu saja secara langsung menampik persepsi bahwa Jokowi adalah seorang PKI, karena memang Jokowi bukanlah PKI.

Pemilih Jokowi adalah pemilih yang sadar betul dengan karakter toleransinya, maka seharusnya pemilih Jokowi dapat percaya terhadapnya atas pilihannya. Pilihan Jokowi ini dipercaya dapat menyatukan Indonesia agar terhindar dari isu SARA.

Jokowi akan lebih mudah menjaga stabilitas politik karena terhindar dari kebodohan isu SARA yang harus dihentikan perkembangannya. Jokowi memilih tidak dalam kondisi tertekan, tapi berdasarkan proses demokrasi dan kondisi negara yang matang dipertimbangkan.

Langkah cerdas Jokowi dalam memilih KMA juga patut diapresiasi. Karena dirinya sadar betul bahwa Indonesia saat ini membutuhkan sosok pemuka agama agar Indonesia lebih stabil bergerak maju ke depan. Jiwa-jiwa segelintir kaum intoleran akan dimatikan oleh sosok Presiden Jokowi dan cawapres yang merupakan seorang kiai.

Proses pemilihan presiden di tahun depan harusnya berjalan dengan damai. Karena isu-isu negatif yang diprediksi akan memecah bangsa sudah dimatikan sebelum berkembang ramai.

Berkompetisilah dengan beradu gagasan yang mengindahkan masa depan dan bukan saling cari kelemahan. Kita bangsa Indonesia, membutuhkan beraneka ragam pilihan kebaikan, bukan pilihan berdasarkan kelemahan.