Dalam tradisi Gereja Kristen, Katolik Roma maupun Protestanisme, Rabu Abu adalah hari pertama masa Pra-Paskah dalam liturgi tahunan gerejawi. Hari ini biasanya jatuh pada Rabu, 40 hari sebelum hari paskah tanpa menghitung hari-hari Minggu, atau 44 hari sebelum Jumaat Agung.

Ciri khas Rabu Abu adalah upacara abu yang ditandai dengan pemberikan tanda salib dari abu sebagai simbol pertobatan, penyesalan, dan kepedihan, seperti dalam ritual Israel kuno di mana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda pertobatan. 

Atau seperti yang ditegaskan dalam injil (Markus 1 : 15), “Bertobatlah, dan percayalah pada Injil”; dan dalam kitab Perjanjian Lama (Kejadian 3 : 19), “Ingat bahwa kamu berasal dari debu, dan akan kembali menjadi debu".

Perayaan Abu pada hari Rabu juga berintensi untuk mengingatkan kefanaan manusia. Karena itu, umat Katolik diwajibkan untuk berpuasa dan berpantang, seperti halnya Tuhan Yesus sendiri yang berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun sebelum memulai pewartaan-Nya (Matius 4: 2).

Terlepas dari makna substansi religius dari perayaan Rabu Abu ini, menariknya bahwa aktus kontestasi perpolitikan nasional kali ini jatuh pada pekan suci umat Katolik. Dengan ini, pemilihan umum pada April mendatang mengisyaratkan suatu drama politik yang suci, kudus, dan damai.

Namun, melihat perkembangan manuver politik mutakhir, benih-benih fanatisme dan kebencian masih beterbangan ke mana-mana, kampanye abal-abalan muncul tak terbendung, serta problematika politik uang yang semakin mengakartunggang dalam pentas perpolitikan kita.

Inilah dosa-dosa politik yang harus diberi tanda salib dengan abu agar bertobat dan kembali mewujudkan suatu kontestasi politik yang sehat, suci, dan damai.

Abu dan Dosa Politik

Dalam suatu kesempatan, Machiavelli berkomentar bahwa politik tidak lebih dari ‘seni tipu daya sebagai kunci mendapatkan hasil’. Atau secara sarkastik, dalam pembicaraannya tentang poralitas-politik, Emanuel Kant mengatakan bahwa tentang politik ‘hendaklah cerdas seperti ular’ (Otto Gusti, 2013: xx-xxi). 

Tentu potret politik dari dua filsuf di atas merujuk pada suatu pandangan yang keras atas realitas keberdosaan politik itu sendiri.

Di Indonesia, sebentar lagi pesta demokrasi akan segera dirayakan. Konstelasi politik menjelang pemilu pun makin memanas. 

Bagi yang bertarung dalam kontestasi politik, semua jurus harus dikeluarkan untuk mendulang dukungan dan suara rakyat. Baik jurus yang halal maupun jurus yang haram, semuanya dieksplorasi dalam ring politik kali ini.

Tentang jurus yang haram, tidak jarang para politisi kita menggunakan senjata fanatisme dan primordialisme agama, suku, dan ras sebagai basis politik untuk menghancurkan kandidat lain. Efeknya, eskalasi perpolitikan kita menjadi seram karena dihantui oleh genre politik “ketakutan”. 

Kemudian, tidak puas dengan senjata fanatisme, para politisi kita intens menggunakan media sosial sebagai ruang kampanye yang abal-abalan. Berita hoaks yang berisi konten kebencian, caci-maki, data-data palsu kian mendiskreditkan integritas ruang publik kita. 

Ruang publik seperti medsos tidak lagi dilihat sebagai ruang diskursus yang inovatif-konstruktif; justru sebaliknya, menjadi lokus penuh teror dan kebencian.

Kegaduhan politik juga makin menggila ketika aktus politik uang menjadi langkah alternatif para politisi untuk merayu masyarakat akar rumput. Uang dijadikan sebagai instrumen politis strategis untuk meraup suara pemilih. 

Apalagi jika disambut baik oleh masyarakat, maka tamatlah riwayat demokrasi bangsa ini. Sehingga, secara teknis politis, Machiavelli dan Kant benar bahwa politik sejatinya sebuah tipu daya dan ‘kelicikan’ untuk mendapatkan hasil .

Baca Juga: Ejaan Politik

Inilah beberapa dosa politik yang sedang dilakoni oleh para politisi bangsa ini. Karena itu, perayaan Rabu Abu harus dilihat sebagai momen “metanoia” atau pertobatan serta membarui diri untuk menjadi pribadi politis yang berintegitas. 

Atau dalam bahasa Michael Sandel disebut sebagai “Manusia Politis”, yakni manusia-manusia yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip politik yang benar dan baik. Dan rujukan prinsipalitas politik kita adalah kesejahteraan bersama (bonnum commune) dan bukannya kepentingan pribadi.

Kiranya perayaan Rabu Abu kali ini menjadi titik tonggak perubahan bagi para politisi yang berani kembali kepada hakikat suci politik yang sesungguhnya. Menyetir Max Regus dalam bukunya “Tobat Politik” (2011), simbol pertobatan politik adalah jalan pulang menuju politik kerakyatan dengan mengusung nilai-nilai utama kehidupan dan kemanusiaan.