Satu lagi guru di Purwokerto dipolisikan karena menampar siswanya. Tulisan ini tidak hendak menyalahkan siapa pun. Baik guru yang menampar dan siswa yang ditampar, semuanya adalah korban dari sistem yang ada.

Siswa yang ditampar adalah korban dari kurang mampunya sistem pendidikan kita dalam menghadirkan pendidikan yang ramah anak. Guru yang menampar adalah korban dari budaya kekerasan yang terus menghantui pendidikan kita.

Budaya memberi hukuman dalam mendidik memang hampir mendarah daging di negara ini. Alasannya, karena sebagian besar dari kita tumbuh dan dididik dengan cara-cara kekerasan. 

Saat pendidikan masih menjadi hak eksklusif keluarga kerajaan, seorang murid kastanya selalu berada di bawah sang guru. Guru bahkan bisa memberi kutukan. Membantah guru berarti harus siap kualat. Agaknya, budaya semacam ini pada sistem kerajaan dulu dipengaruhi oleh ajaran-ajaran pendidikan kuno.

Setelah Indonesia diduduki Belanda, tradisi menghukum semakin menjadi. Cara-cara Belanda dalam mendidik pribumi untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan mereka, selalu diselimuti kekerasan dan hukuman.

Bahkan guru-guru dari bangsa Eropa yang dihadirkan di sekolah untuk mendidik pribumi adalah guru-guru angkuh yang merasa bahwa mereka adalah ras super yang berhak melakukan apa saja kepada siswa ras rendahan pribuminya. Sehingga, terus-menerus budaya kekerasan dan hukuman terus diturunkan pada pendidikan kita sampai dewasa ini.

Sebenarnya ada cara-cara alternatif selain menghukum yang bisa ditempuh guru dalam mendidik siswanya, terutama dalam menangani perilakunya. Dalam psikologi behaviourisme yang menekankan bahwa proses belajar adalah perubahan perilaku, ada dua hal yang paling utama dapat digunakan guru untuk menangani perilaku seorang anak. Dua hal itu adalah reinforcement (penguatan) dan punishment (hukuman). Apa bedanya?

Reinforcement adalah segala tindakan yang dilakukan pendidik agar perilaku anak didik yang dikehendaki terus atau semakin sering dilakukan. Contoh, ketika seorang anak berani maju ke depan kelas menyampaikan pendapatnya, ia diberi pujian dan tepuk tangan. Nah, pujian dan tepuk tangan adalah reinforcement yang bertujuan agar anak semakin sering berani maju ke depan mengemukakan pendapatnya.

Sedangkan punishment adalah segala tindakan yang dilakukan agar perilaku anak didik yang tidak dikehendaki semakin jarang atau berhenti dilakukan. Contoh, ketika seorang anak membuang sampah sembarangan, ia diminta menjewer telinganya sendiri dan berdiri dengan satu kakinya di depan kelas. 

Nah, tindakan semacam ini adalah bentuk punishment yang bertujuan agar kelak anak tersebut berhenti membuang sampah sembarangan atau setidaknya perilaku tersebut berkurang.

Kedua hal tersebut merupakan tindakan yang sama-sama bisa dilakukan oleh pendidik dalam menangani perilaku anak. Namun begitu, menurut penelitian yang ada akhir-akhir ini, menyebutkan bahwa punishment lebih banyak memberi dampak buruk ketimbang mendidik perilaku siswa. 

Punishment, terutama corporal punishment semakin terbukti hanya memberikan trauma dan mengajarkan kekerasan kepada anak. Anak-anak yang dididik dengan kekerasan cenderung melakukan kekerasan-kekerasan untuk menangani masalah hidupnya.

Lalu bagaimana kita mendidik jika kita tidak boleh menghukum? Bagaimana kita menghentikan perilaku menyimpang seorang anak jika kita tidak diperkenankan melakukan punishment? Bukankah dalam teori behaviorisme punishment diperlukan untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku menyimpang anak?

Begini analoginya. Katakanlah (x) adalah perilaku positif anak yang baik seperti datang di sekolah tepat waktu, membuang sampah pada tempatnya, dsb. Dan (-x) adalah perilaku negatif anak yang merupakan perilaku kebalikannya seperti sering datang terlambat, membuang sampah tidak pada tempatnya, dsb.

Maka untuk menghilangkan perilaku negatif (-x) tanpa memberikan punishment, kita perlu memberi penguatan pada perilaku positif (x) sebagai tandingannya. Jadi, ide dasarnya bukan dengan serta-merta kita menghilangkan perilaku negatif (-x) dengan memberi hukuman, melainkan kita kuatkan perilaku positif (x) dengan reinforcement.

Contoh, ketika kita tidak menghendaki perilaku anak membuang sampah sembarangan, maka untuk mengurangi atau menghentikan perilaku tersebut, kita perlu memberi reinforcement pada perilaku tandingannya, misal kita memberi pujian ketika anak tersebut membuang sampah di tempatnya. 

Dengan reinforcement semacam itu, diharapkan perilaku positif anak membuang sampah pada tempatnya semakin sering atau selalu dilakukan. Sehingga perilaku negatif anak membuang sampah sembarangan semakin berkurang atau berhenti dilakukan.

Contoh lain, misalkan kita tidak menghendaki perilaku anak yang datang terlambat. Untuk menghentikan perilaku tersebut kita harus memberikan reinforcement pada perilaku tandingannya, misalnya kita sambut anak tersebut ketika ia datang tepat waktu, lalu menjadikannya contoh di depan anak lainnya. 

Dengan reinforcement semacam itu, diharapkan perilaku positif datang tepat waktu semakin sering atau selalu dilakukan setiap harinya. Sehingga perilaku negatif anak datang terlambat ke sekolah semakin berkurang atau berhenti dilakukan sama sekali.

Reinforcement seperti dua contoh di atas memang tidak serta merta bisa menghentikan perilaku negatif anak. Sering kali reinforcement tersebut membutuhkan waktu yang lama untuk dilakukan. Meskipun begitu, reinforcement tidak memiliki dampak buruk atau resiko terhadap anak dan gurunya. 

Kita tentu masih ingat filosofi mengisi air ke dalam gelas yang berisi penuh air keruh. Semakin banyak air bersih yang kita isi ke dalam gelas tersebut, semakin berkurang air keruhnya. Sehingga pada akhirnya yang ada dalam gelas tersebut semuanya adalah air yang bersih. Seperti itulah peran reinforcement dalam mendidik perilaku anak.

Dan yang tidak kalah penting dari reinforcement adalah menyadarkan anak bahwa perilaku-perilaku negatif yang dilakukan adalah tindakan yang salah melalui pendekatan-pendekatan psikologi konstruktifisme. Seperti apa caranya? Akan saya bahas di tulisan saya berikutnya.