Sekira sebulanan lalu, saya dan beberapa teman yang belakangan jadi teman ngopi dan diskusi di malam minggu, punya agenda dadakan bertajuk Wisata Literasi. Pinginnya, acara yang direncanakan diadakan sebulan sekali ini mengambil format studi banding ke sejumlah komunitas literasi maupun gerakan pemberdayaan di sejumlah daerah di Jawa Timur.

Komunitas ataupun kelompok pemberdayaan yang kami sambangi dalam program perdana Wisata Literasi kali ini yakni ke kawasan kampung nelayan Gunung Anyar Tambak, Surabaya. Lokasinya tak jauh dari muara sungai yang membatasi wilayah Surabaya dengan Kabupaten Sidoarjo. Di sana kami menemui ibu Kusniati, pendiri Bank Sampah Bintang Mangrove (BSBM), Surabaya.

Meski hanya tamatan SD, ibu dua anak ini memiliki kesadaran lingkungan yang sangat tinggi. Ia ikut mendirikan bank sampah sekaligus memberi penyadaran tentang lingkungan kepada warga. Hasilnya, lingkungan bersih, warga pun mendapatkan penghasilan tambahan yang cukup berarti. Berkat jasanya itu, ia diganjar dengan berbagai penghargaan nasional juga internasional. Wajahnya bahkan sempat nampang di acara talkshow inspiratif; Kick Andy.

Tapi, dalam tulisan kali ini saya tidak hendak membahas kisah sukses bagaimana Kusniati sampai mendirikan bank sampah, ataupun kisah-kisah heroisme perjuangannya. Cerita-cerita itu bisa anda temukan dengan mengetikkan kata kunci pada mesin pencari google: Bank Sampah Bintang Mangrove. Oiya, kali ini kami juga mengikutsertakan salah satu penggagas Kampung Warna-warni Jodipan (KWJ) Malang, Salis Fitria.

Dengan mengajak Salis, kami juga berharap untuk bisa saling bertukar pikiran perihal strategi pemberdayaan yang mungkin dilakukan di tempat yang jadi ikon masing-masing kota ini. BSBM yang maju dalam pemberdayaan, namun minim pengelolaan wisata. Sementara KWJ punya masalah yang berkebalikan; unggul wisatanya, minim pemberdayaan. Kami hendak mengawinkan masing-masing gagasan besar itu untuk dieksekusi di tempatnya masing-masing.

Kemarin siang (18/2), saat membuka secara random feed snapgram, secara tidak sengaja saya membuka feed milik Bang Faldo Maldini, mantan Ketua Bem UI; Ketua PPI United Kingdom; serta pendiri PulangKampuang(dot)com. Pada postingan itu saya mendapati sebuah tantangan dari Bang Faldo melalui tagar #BerbuatBaik. Saat membaca sekilas, belum sempat terpikirkan tentang apapun gerakan yang hendak dikerjakan.

Seperti biasa, jelang tengah malam, saya biasanya mencari inspirasi untuk membuat sebuah tulisan. Entah angin dari mana, tiba-tiba ide ini muncul dengan sendirinya. Hingga akhirnya, tercetuslah sebuah gagasan bernama #PulangKampungBawaCerita. Berangkat dari kegiatan gerakan Wisata Literasi lewat studi banding ke tempat Ibu Kusniati itu, munculah ide ini.

Secara sederhana #PulangKampungBawaCerita (yang kemudian disingkat #PKBC) mungkin rumusannya akan serupa dengan gerakan Kelas Inspirasi yang menghadirkan para inspirator dari tiap-tiap profesi untuk menggugah anak-anak sekolah dasar agar punya mimpi melanjutkan sekolah setinggi mungkin, dan tidak takut memilih profesi yang belum pernah mereka pikirkan sebelumnya. Simpulan saya, Kelas Inspirasi berhasil ‘menjual cerita’.

Seperti halnya apa yang dilakukan Fahd Pahdepie dalam epilog novel Bang Tato-nya yang mengusung gagasan ‘Melawan dengan Cerita’. Bagi Fahd, cerita-cerita kecil dalam hidup ini, hal-hal yang bersifat lokal, personal dan cenderung terlihat terpisah dari arus cerita lain, pada dasarnya tetap ber-tawaf dalam sebuah gelombang besar cerita yang diyakini dan disepakati nilai-nilainya oleh masyarakat.

“Cerita-cerita kecil itu (stories) sebenarnya tak pernah terpisah dari cerita-cerita besar yang mencangkanginya (grand narratives) yang kita sebut dengan beragam nama: agama, ideologi, madzhab, atau apa saja.” – Fahd Pahdepie, Melawan dengan Cerita

Demikian dengan #PKBC, gerakan ini hendak menyebarkan narasi positif kepada anak-anak daerah, namun bukan di dimensi pendidikan, seperti halnya Kelas Inspirasi. Melainkan penanaman sejak dini nilai-nilai kedaerahan (local wisdom) yang semestinya mereka dapatkan (lewat rumusan pendidikan karakter, dll). Karena bagaimanapun, mereka adalah generasi-generasi yang diharapkan merawat kearifan-kearifan yang diwariskan para leluhurnya, juga penjagaan atas potensi serta sumber daya yang ada di sekitar mereka.

Melalui pendekatan permasalahan lokal yang tengah terjadi di daerah tersebut, inspirator atau yang diminta bicara nantinya, bukan bercerita perihal jurusan kuliah apa yang dia ambil di rantauan tempat dia menimba ilmu. Melainkan, membawa kisah perjuangan dan kesuksesan mereka di rantau tentang kegiatan pemberdayaan juga proyek-proyek kebaikan suksesnya di sana. Sekali lagi saya tekankan, kisah-kisah yang diceritakan, tarikannya harus sejalan dengan permasalahan yang tengah dialami di mana dia lahirkan.

Sebelum lebih jauh lagi saya menjelaskan keyakinan saya bahwa cerita akan punya dampak yang besar, saya hendak menceritakan problem di kampung halaman saya, Cirebon, Jawa Barat. Di desa berjarak sekitar 9 Km ke arah barat dari ibu kota Kabupaten Cirebon ini terdapat daerah pegunungan (mungkin lebih tepat disebut perbukitan karena ukurannya yang tak terlalu besar) yang salah satunya dinamai Gunung Kuda. Gunung ini melingkupi beberapa kecamatan.

Dulu, mitos Kuda Sembrani (kuda bersayap) yang pasti akan sampai di telinga-telinga anak-anak di sekitar gunung setinggi 300 meteran itu. Sekarang, cerita-cerita yang tersiar tak lagi sama. Justru yang dominan tersiar adalah cerita mistis di balik longsornya batu di gunung kuda. Memang tiap tahun gunung ini kerap menelan ‘tumbal’. Sejak penambangan dilakukan secara serampangan dan berlebihan, longsor beralih menjadi momok paling menakutkan bagi para penambang. Kabar terakhir, 15 Februari kemarin kembali terjadi longsong besar.

Dampak lingkungan juga tak terelakan dari kegiatan memperkosa alam ini (notabene penambangan sudah dilakukan mulai tahun 60an). Padi-padi menjadi tak lagi tumbuh baik, karena aliran air limbah yang dibuang sembarangan ke sungai menggerus nutrisi dan mineral yang dibawa air untuk mengairi sawah. Ladang-ladangpun beralih fungsi menjadi pabrik-pabrik rumahan pemotongan batu. Tiap rumah-rumah warganya kala siang hari juga tak lagi tentram lantaran bising dengan pekikan mesin-mesin pemotong.

Sungguh dilematis. Di sisi lain, karena Gunung Kuda lah, kami bisa hidup sejahtera. Penghidupan jauh lebih baik berkat kegiatan pertambangan ini. Anak-anak kampung jadi bisa sekolah. Buruh tani yang tadinya hanya menggantungkan pekerjaan pada sawah -yang tiap tahunnya sebenarnya bisa sampai genap 3 kali panen- kini mereka bisa hidup lebih layak, meski hanya bergantung pada profesi sebagai buruh angkut batu di pabrik milik tetangganya. Entah, wajah alam seperti apa yang bakal kami wariskan untuk anak-cucu di masa depan.

Selain si perantau yang bercerita, opsi lainnya dalam gerakan #PKBC, bisa menghadirkan seorang kawan yang dibawanya dari rantau untuk dijadikan roll model inspirasi pemberdayaan. Menghadirkan penggagas BSBM atau KWJ yang notabene satu almamater dengan penulis, misalnya. Tarikannya lagi-lagi spirit cerita yang dibawa nantinya adalah yang ada kesamaan substansi dengan persoalan yang terjadi di daerah tersebut. Serta dilakukan sosialisasi kearifan-kearifan lokal yang berkaitan dengan interaksi dengan alam, manusia dan Tuhannya.

Melalui unggahan video berdurasi 1 menit, Bang Faldo menantang kami untuk membuat tawaran gerakan yang diyakini bisa menjadi gerakan yang viral serta berdampak. Tapi sayangnya saya tidak yakin dengan lamanya durasi itu dapat menjelaskan semuanya. Tulisan ini hadir untuk memberikan penggambaran utuh tentang apa yang hendak kita kerjakan bersama nantinya.

Semoga, Allah menggerakan hati Bang Faldo Maldini usai membaca tulisan ini, lantas kemudian menggerakan tangannya untuk menghubungi saya agar dapat mewujudkan gerakan ini bersama-sama. Meminjam lagi istilah Fahd, perlawanan akan menampakkan kemenangannya jika gelombang besar cerita (grand narrative) yang telah diyakini dan disepakati nilai-nilainya oleh masyarakat akan dapat berdampak, jika tepat metode yang dijalankannya. Dan #PulangKampungBawaCerita, adalah salah satu tawaran metode itu. Insya Allah.