Belajar dari sejarah, kita mendapatkan bukti bahwa manusia yang arogansinya melampaui batas akhirnya binasa. Misalnya Firaun yang menganggap dan mengangkat dirinya sebagai Tuhan bagi orang-orang Mesir ketika itu. 

Demi kekuasaan, kenikmatan, kejayaan, dan keagungan, ia membantai siapa pun yang menentangnya. Hingga akhirnya ia binasa karena tenggelam di Laut Merah.

Kehebatan manusia itu ada batasnya. Para genius memiliki keterbatasan, sehingga mereka memiliki keunggulan di bidang yang mereka kuasai. Para penemu pun demikian. Juga para pelopor dan para perintis.

Mereka tak akan mampu menandingi ilmu Allah. Firman Allah SWT dalam surah Ath Thalaaq ayat 12 dengan gamblang menjelaskannya.

"Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasannya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu."

Filosofi ojo dumeh atau jangan mentang-mentang, juga mengingatkan agar kita tidak arogan terhadap orang lain. Jangan mentang-mentang sedang berkuasa, jangan mentang-mentang kaya raya, jangan mentang-mentang memiliki segalanya, adalah filosofi orang Jawa yang layak diambil makna dan hikmahnya bagi kehidupan untuk meninggikan harkat, derajat, dan martabat kemanusiaan.

Sementara itu, di sisi yang lain, masih banyak orang yang mengalami kekurangan dan kemiskinan. Mereka adalah kaum marginal yang cuma menjadi penonton. Mereka tak mampu berbuat apa-apa dan tak berkutik karena keterbatasan modal yang dimiliki.

Padahal, dalam surah Al-Ma'un ayat 1 hingga 7, Allah mengingatkan, "Tahukah kamu orang yang mendustakan Hari Pembalasan. Itulah orang yang menolak hak anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan terhadap orang-orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) mereka yang melalaikan terhadap salatnya. Yaitu orang yang menampak-nampakkan (riya) dan enggan (untuk memberi bantuan)."

***

Sekarang marilah kita nikmati puisi "Walau" karya Sutardji Calzoum Bachri.

WALAU

Walau penyair besar
takkan sampai sebatas allah
dulu pernah kuminta tuhan
dalam diri
sekarang tak
kalau mati
mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat 

tujuh puncak membilang-bilang
nyeri hari mengucap-ucap
di butir pasir kutulis rindu rindu
walau huruf habislah sudah
alif bataku belum sebatas allah

Tampaknya penyair Sutardji Calzoum Bachri menyadari keterbatasannya. Meski ia disebut-sebut sebagai presiden penyair, huruf-huruf dan kata-kata yang telah ia jinakkan kemudian ia gubah menjadi puisi, tak akan mampu menandingi kemahabesaran Allah.

Walau penyair besar/ takkan sampai sebatas allah/ .... walau huruf habislah sudah/ alif bataku belum sebatas allah// Meskipun sebelumnya ia ... dulu pernah kuminta tuhan/ dalam diri/. Sebab kesadaran pula maka ia ...sekarang tak/.

Sadar akan keterbatasannya, maka ... di butir pasir kutulis rindu rindu/. Ia rindu kepada Allah Yang Maha Kuasa. Lagi pula, kesadaran bahwa ... kalau mati/ mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat/, dan ketika ... tujuh puncak membilang-bilang/, yang memunculkan suasana ketakjuban, ia menyadari juga mengalami ... nyeri hari mengucap-ucap/, yang memunculkan suasana kesakitan.

Manusia memang serba terbatas. Ia bukan tuhan. Penyair besar sekelas Sutardji Calzoum Bachri pun lebih dulu menyadari hal itu. Dalam Surah Luqman ayat 27 Allah berfirman, "Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Dalam Surah Al Kahfi ayat 109, Allah pun berfirman, "Katakanlah, "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)."

***

Puisi "Jembatan" karya Sutardji Calzoum Bachri tampak sangat memihak  kepada kaum yang terpinggirkan. Orang-orang pinggiran tak mampu  menikmati hasil pembangunan. Sebab, pembangunan hanya berdampak nikmat  bagi si kaya. 

Sementara itu, si miskin hanya menjadi penonton.  Padahal, mereka saudara kita pemilik Republik ini. Jurang pemisah antara  si kaya dan si miskin makin melebar. Sangat menyedihkan, memang! Kita baca puisi tersebut.

JEMBATAN

Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung airmata
bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi
dalam teduh pekewuh dalam isyarat dan kisah tanpa makna.
Maka aku pun pergi menatap pada wajah berjuta. Wajah orang
jalanan yang berdiri satu kaki dalam penuh sesak bis kota.
Wajah orang tergusur. Wajah yang ditilang malang. Wajah legam
para pemulung yang memungut remah-remah pembangunan.
Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar penonton etalase
indah di berbagai plaza. Wajah yang diam-diam menjerit
mengucap
tanah air kita satu
bangsa kita satu
bahasa kita satu
bendera kita satu!
Tapi wahai saudara satu bendera kenapa sementara jalan-jalan
mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan
tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah
yang ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang
di antara kita?
Di lembah-lembah kusam pada puncak tilang kersang dan otot
linu mengerang mereka pancangkan koyak-moyak bendera hati
dipijak ketidakpedulian pada saudara. Gerimis tak ammpu
mengucapkan kibarnya.
Lalu tanpa tangis mereka menyanyi padamu negeri airmata kami.

Saya menyukai puisi ini. Sebab, ketika sengketa sedang melanda kalangan  atas yang sedang berkuasa, puisi ini seakan menyampaikan pesan yang  jelas. Bahwa kalangan bawah yang terpinggirkan itu jangan ditinggalkan.  Harta dan tahta memang senantiasa menjadi ajang perebutan antar-mereka  yang bersengketa. Akan tetapi, rakyat kecil juga yang menjadi tumbalnya.  Wallahualam bissawab.