Temukan Dirimu

Carilah wajahmu dalam renung sunyi. Biarkan angin bertiup, membawamu terbang kembali menembus batas-batas lorong waktu dimasalalu. Di sanalah wajah dan jiwamu pernah bersemayam. Jejaknya bahkan masih utuh di dalam benakmu. Kau pernah singgah di tempat itu. Hanya saja waktu itu kau pergi tanpa pamit. Meninggalkannya. Dan melupakannya yg pernah menghidupkan jiwamu yang mati. 

Memang benar, masalalu tidak pernah kembali. Namun ia dapat membuatmu tumbuh kuat dan dewasa. 

Ketika wajahmu telah kau temukan, lalu terbanglah ke gerbang masadepan dengan sebuah rencana yang indah. Karena rencana adalah mesin waktu yang mampu membawamu terbang ke masa depan. Ke tempat yg belum pernah terlihat oleh dua bola matamu yang mungil. 

Renungkanlah wahai hati yang lembut, jangan biarkan ia membeku diselimuti waktu.


Kenangan

Kepadamu yang maha misteri, hujan dimalam ini melumuri waktu dengan suara yang merdu. Tenggelamlah kau di dalam mimpimu,  peluk bayangmu takkan kulepas. 

Di sini kenangan tetaplah kenangan, terus mengalir bagaikan sungai yang membelah daratan bumi. Meski dapat ku telusuri jejak kenangan itu, namun takkan lagi ku temukan air yang sama. Hanyalah kebodohan jika ingin menyentuhnya kembali. 

Kita tetaplah kenangan. Kenangan yang semakin luntur oleh tinta awan yang jernih. Oleh hujan yang berjatuhan dari langit. Yang tersisa hanyalah angan.

 Dan kita adalah sebuah kenangan.


Pengembara

Aku adalah seorang pengembara, atau seorang musafir yang kemalaman di perjalanan, berjalan menelusuri tiap-tiap jengkal malam yang kelam, melewati tiap-tiap lorong kehidupan yang terkadang tertinggal oleh sang cahaya...

Cinta terus membayangi di ujung sana, seperti tarian bayangan yang terbawa angin, dan lalu tertiup menghilang di pelupuk mata..

Aku hampir tersesat, hampir tenggelam di dalam lautan penantian..

Rasanya gelap telah tumpah dimana-mana, hingga menelan cahayaku, lenyap dan pudar. 

Selamanya


Angin

Rinduku, hanyalah untuk angin yang bertiup. Yang tak tersentuh oleh tangan, yang tak terlihat oleh mata, dan juga tak berwujud layaknya jasad.

Sekalipun kutahu, itu hanyalah suatu kebodohan yang semu, namun angin telah membuat ragaku tetap hidup. Ia telah memberiku nafas dan waktu yang panjang. 

Jadilah seperti angin, dia tak pernah terlihat namun semua orang tahu bahwa ia pasti ada.

Angin telah mengubah hidupku. Mengubah dunia ini menjadi subur. Menjadikan hujan dari awan yang hitam. Lalu menurunkanya kembali untuk menyulap tandus menjadi suatu negeri yang hijau. 

Angin,  tetaplah kau bertiup. Tetaplah bersemayam di dalam jiwaku. Jangan pergi. Tanpamu dunia ini akan mati. Tanpamu, aku tak akan pernah hidup, dan tanpamu aku tak akan pernah bernafas.


Penyesalan

Waktu menyaksikan semesta..
Setiap hari..
Daun-daun mengalah..
Kepada angin yang bertiup, mereka bernyanyi..
Sampai larut, sampai jatuh dan terkubur di perut bumi..
Tidak sadar menghibur duka yang justru menambah luka..
Seperti hati yang memaksakan diri
Walau harus menentang otak
Sudahlah...
Jujurlah kepada waktu yang selalu mengintipmu..
Tiada guna melawan diri..
Kelak Ruhmu akan menjerit..
Menyesali tiap-tiap jengkal waktu yang kau bohongi..
Catatan dunia sudah tertulis, Ia sembunyikan jauh di balik lapisan langit..
Bahwa, selamanya kebenaran akan tetap berkuasa..
Membungkam dusta yang penuh noda...


Orang yang Bijak

Mendung,
Akan menumbuhkan pelangi setelah redanya hujan..
Waktu, memang terkadang layak untuk kita tertawakan..
Silih berganti ia menukar masa di bumi, menghancurkan dinasti dan kemudian membangunnya kembali tanpa lelah...

Hari ini cerah belum ada jaminan untuk esok yang indah...
Orang yang paling bijak itu seperti semut, yang menumpuk-numpuk makanan untuk persiapan konsumsi mereka dimasa paceklik. Bukan seperti rayap yang justru melahap rumahnya sendiri...


Cinta Tak Terbalas

Bayanganmu gesit..
Menari lincah mengikuti nada semesta yang bertiup..
Seperti gumpalan asap yang lenyap..

Belum sempat aku memotretnya dengan kilatan cahaya di benakku, menghafal setiap lekuk bekuk di wajahmu..
Apalagi seluk beluk tentangmu?
Kau malah berpaling, tak pernah muncul kembali setiap kali matahari datang membungkus dunia..

Apakah kau tahu?
Kini tubuhku hancur lebur? Seperti abu hitam yang rindu kepada asap putihnya?

Kini, harapanku lenyap ditelang waktu..
Semakin lapuk tersiram hujan menjadi debu..

Yang tersisa hanyalah kehampaan..


Negeri Terjajah

Saksikanlah.

Di sini tiada bintang yang menghiasi langit..
Tiada iblis yang akan dilempar..
Malam sudah terlalu lama kelam, gelap  telah melunturkan warna pelangi yang mewah disepanjang hari..
Hujan sudah tidak berdaya lagi menghapus darah, membuat rumput tidak ada yang berani tumbuh..
Di kota bisu ini, kesunyian berkuasa abadi..
Kemanakah canda tawa itu pergi?
Suara nyanyian lucu sang malaikat kecil yang bersolek manis?
Lampu kota yang gemerlap indah?
Yang melenggak-lenggok di angkasa lepas?
Siulan burung-burung raksasa melenyapkan mereka, bersama kabut hitam putih yang tebal mengubah dunia.. 

Mengubur masa depan mereka, hingga membusuk dan hancur..

Kini, yang ada hanyalah ketiadaan..