Ada perbedaan yang mendasar antara puisi/sajak dalam masyarakat modern dan tradisional, di mana, dalam kasus yang  terakhir ini, belum berlangsung dalam kadar yang mendalam pemisahan yang tegas antara “yang pribadi” dan “yang sosial”.

Dalam masyarakat tradisional, puisi adalah semacam wadah yang menyimpan pengalaman sosial bersama – common wisdom. Dia adalah semacam arsip bagi pengetahuan masyarakat. Puisi, dalam masyarakat seperti itu, bukanlah ditujukan pertama-tama sebagai alat ungkap untuk pengalaman pribadi yang sifatnya unik dan intim.

Dalam masyarakat modern, keadaannya terbalik sepenuhnya. Dengan makin menguatnya lembaga-lembaga pengetahuan dan agama di sana, puisi hanyalah bidang artikulasi mental manusia yang hanya menangani pengalaman-sisa yang tak disentuh oleh pengetahuan dan agama. (Terima kasih kepada Sdr. Nirwan Dewanto yang telah mengungkap dengan baik aspek ini dalam banyak tulisan dan ceramahnya.) Dengan kata lain, puisi adalah “residual discourse”, wacana sisa.

Sesuatu yang tak disentuh oleh sains, pengetahuan, dan agama menjadi wilayah garapan puisi dan artikulasi kesenian secara lebih luas. Biasanya, wilayah sisa ini lebih banyak menyangkut pengalaman personal yang sangat intim dan “eksentrik”. Kita, sebetulnya, bisa mengatakan bahwa puisi dan kesenian adalah “gudang eksentrisitas”, tempat di mana “individual idiosyncracies” atau keanehan-keanehan individual biasa disimpan dan diawetkan.

Di sini, saya bisa memahami kenapa perbedaan puisi modern dan tradisional menjadi tampak jelas, yakni dalam aspek kebenderangan (lucidity) dan kegelapan (opaqueness). Puisi tradisonal cenderung gamblang dan mudah dipahami, sementara puisi-puisi modern biasanya gelap, “opaque”, tidak tembus pandang. Puisi tradisional cenderung benderang dan mudah dipahami karena ia merupakan hasil dari pengetahuan bersama. Fungsinya nyaris serupa dengan berita koran dalam masyarakat modern.

Sementara, fungsi puisi dalam masyarakat modern berubah secara drastis: dia bukan gudang penyimpanan bagi pengetahuan kolektif, melainkan wadah bagi individualitas. Yang individual tentu saja khas pada individu bersangkutan. Apa yang individual pada Si Budi jelas hanya bisa dipahami sepenuhnya oleh yang bersangkutan. Bagi Si Johan, individualitas Si Budi adalah pengalaman yang “gelap” yang tak bisa seluruhnya dicerna olehnya.

Dengan kata lain, puisi masuk dalam wilayah diskursif atau kegiatan mental manusia yang sulit seluruhnya bisa kita cerna dengan gampang. Puisi adalah cerminan dari “indigestibility” atau ketaktercernaan. Tentu saja, saya berbicara mengenai puisi modern di sini.

Ada pengalaman yang menarik setiap kali saya berhadapan dengan puisi dan hal-hal lain yang serupa dengannya. Misalnya filsafat. Setiap berhadapan dengan puisi, saya selalu mencoba membandingkannya dengan pelbagai bentuk artikulasi mental manusia yang lain: pengetahuan, agama, musik, lukisan, seni pemeranan, seni pertunjukan, folklor, dongeng, dll.

Di era ini, sekurang-kurangnya kita bisa mendeteksi tiga corak artikulasi yang menguasai masyarakat modern -- sains/pengetahuan, agama dan seni dalam pengertiannya yang luas. Di antara ketiganya, sudah jelas, yang menjadi raja dan berkuasa adalah sains dan pengetahuan. Agama mencoba mempertahankan kekuasaannya yang pernah ia nikmati dalam mayarakat pra-modern dulu, tetapi gagal. (Ingat konsep ahli Islam Perancis Gilles Kepel tentang "la revanche de Dieu"– pembalasan-dendam Tuhan.)

Dan, memang, rasanya akan sangat sulit bagi agama untuk memulihkan “kekuasaannya” seperti di zaman dulu. Agama, dalam masyarakat modern, makin menyerupai kegiatan kesenian dalam satu aspek ini: yaitu ekspresi dari “idiosyncracy” atau keunikan personal. Bedanya dengan kegiatan kesenian, agama mencoba melakukan objektivikasi atas idiosinkrasi dan keunikan ini menjadi sesuatu yang sifatnya “kolektif” dan “obyektif” dan karena itu memiliki aura faktualitas -- seolah-olah “natural”, nyata.

Sementara puisi, kesusasteraan dan kesenian secara umum tidak pura-pura atau berambisi menjadi sesuatu yang kolektif dan objektif. Puisi membangun reputasinya justru dengan cara tetap taat dan loyal kepada “natuur”-nya sendiri sebagai “residual discourse” yang menangani pengalaman-pengalaman personal – hal-hal yang tentu tampak “non-sense” dilihat dari sudut pandang kebermaknaan yang dikuasi oleh wacana sains dan agama.

Puisi menegakkan otoritasnya di atas fondasi keremeh-temehan (trivialities) yang tak tersentuh oleh tangan sains dan agama.Tentu, di sini, saya mengecualikan puisi dan kesenian yang telah dimerosotkan derajatnya menjadi sekedar propaganda atau kampanye untuk memenangkan dan memapankan pendapat tertentu.

Bahwa puisi adalah cerminan dari wacana yang tak sepenuhnya bisa dicerna, bagi saya, penting dan layak menjadi bahan permenungan. Saya selalu menemukan kesamaan pengalaman saat berhadapan dengan puisi modern dan lukisan-lukisan abstrak yang berusaha menjauhi bentuk-bentuk figuratif. Keduanya membukakan kepada saya suatu wilayah pengalaman yang unik yang, karena ketiadaan istilah yang pas, saya sebut saja pengalaman ekuivokalitas (dari kata “equivoque”: dua atau lebih suara yang sederajat) atau kemenduaan.

Saat berhadapan dengan puisi-puisi Indonesia modern dengan segala ragamnya, ambil contoh puisi-puisi Nirwan Dewanto, Oka Rusmini, atau Warih Wisatsana, saya merasai pengalaman yang serupa saat saya berhadapan dengan, misalnya, lukisan-lukisan Nasirun yang sarat dengan sosok-sosok “magis”. Apa yang saya alami ketika berhadapan dengan bentuk-bentuk artikulasi mental seperti itu adalah munculnya pengalaman ekuivokalitas.

Apa yang saya maksud dengan ekuivokalitas di sini ialah pengalaman ketidak-yakinan tentang apakah saya benar-benar paham apa yang hendak dikatakan oleh “sang pengarang” atau “sang pelukis”. Ini berbeda dengan pengalaman yang saya alami ketika berhadapan dengan risalah sains atau agama.

Meski tak semua risalah sains dan agama gampang dipahami dan dicerna, tetapi ada semacam asumsi kepengarangan di balik keduanya. Risalah-risalah itu ditulis dengan asumsi pada pihak pengarang bahwa para pembacanya akan, dan bahkan seharusnya mengerti dan mencerna, kalau bisa seratus persen, apa yang mereka baca. Dalam wilayah sains dan agama, tidak ada asumsi tentang pengarang yang mati seperti pernah dikatakan oleh Roland Barthes. Kematian pengarang hanya berlaku untuk diskursus-diskursus residual seperti puisi.

Saat berhadapan dengan risalah sains dan agama, saya mengalami, atau mengandaikan diri mengalami apa yang hendak saya sebut sebagai pengalaman univokalitas (dari kata “univoque”: suara tunggal) atau kepastian. Saya, saat membaca risalah seperti itu, merasa ada sesuatu yang dengan pasti bisa saya pegang-plek  – bahwa inilah maksud si pengarang. Saya, saat berhadapan dengan teks-teks sains, merasa berada di atas fondasi yang kokoh, tak goyah.

Saya tak ingin mengatakan bahwa ketidak-kokohan tempat berpijak saya saat berhadapan dengan puisi atau lukisan-lukisan abstrak membuat dua hal ini menjadi rendah derajatnya. Memang, pada masyarakat modern, baik yang sekular maupun relijius, selalu ada kehendak kepada “saintisme”. Istilah yang terakhir ini saya artikan dalam pengertian yang luas: yaitu kehendak untuk memperoleh pijakan pengertian yang serba pasti, objektif, universal, general, dan sepadan (dalam pengertian “commensurate”).

Dalam suasana sosial yang serba “saintifistis” ini, apa yang objektif dan pasti dianggap lebih unggul ketimbang hal-hal yang hanya membangkitkan pengalaman kemenduaan dan ekuivokalitas seperti dalam puisi. Kita sebenarnya bisa mendeteksi bahwa dalam kehendak untuk saintisme ini terdapat tendensi pragmatis dan utilitarian juga, bukan semata-mata kehendak eksistensial untuk meraih satu-satunya kebenaran tunggal.

Dengan adanya kepastian pengertian, masyarakat merasa bisa membangun struktur-struktur sosial yang amat mereka perlukan untuk menegakkan keteraturan dan tata. Tanpa hal semacam ini, kehidupan tidak bisa berlangsung secara normal. Inilah yang saya sebut sebagai tendensi pragmatis dalam gejala saintisme yang telah saya sebut itu.

Saya memandang puisi dan lukisan-lukisan abstrak sebagai sesuatu yang “subversif” dan karena itu menjadi menarik justru karena mereka malawan tendensi sosial ke arah saintisme dan objektivisme ini. Puisi dan lukisan-lukisan abstrak menyediakan kepada saya kemungkinan untuk mengalami sesuatu yang serba mendua dan tak pasti. Yaitu, hal-hal yang tak sepenuhnya bisa kita serap dalam identitas diri kita.

Dengan kata lain, mereka membukakan kepada saya pengalaman tentang kelainan yang kurang lebih absolut – the absolute otherness. Keberadaan hal-hal lain di luar diri saya yang tak sepenuhnya bisa saya serap kedalam samudera identitas saya membuat saya merasakan ketidak-pastian akan identitas diri saya sendiri. Dengan sendirinya ini akan membawa saya kepada pengalaman berikutnya – the fragility of identity, kerentanan dan ketidakpastian tentang siapa diri saya sebenarnya.

Yang unik pada puisi, menurut saya, adalah bahwa dia membuat saya mengalami dua pengalaman sekaligus: ekstasi akan keindahan, tetapi juga sekaligus perasaan ketidakpastian. Di hadapan puisi, saya mengalami euforia, tetapi juga sekaligus keresahan. Euforia karena saya berjumpa dengan mimesis dari Yang Maha Indah dalam bentuk epifani yang bisa saya cerap dengan indera.

Tetapi juga sekaligus resah karena mimesis itu tak bisa sepenunya saya lebur dalam diri saya; tidak bisa saya serap ke dalam identitas saya. Setiap kali saya hendak menyerap mimesis estetik dalam bentuk puisi atau lukisan, saya selalu gagal. Ada-ada dimensi residual dalam karya-karya itu yang lolos dari kehendak totaliter saya untuk melakukan “identifikasi” atas segala hal.

Saya ingin menyebut ini semua sebagai tegangan antara euforia dan aporia. Dalam filsafat, aporia adalah sejenis “gap” atau jurang dalam rumusan konseptual yang membuatnya gagal menjadi konstruksi yang koheren dan logis. Aporia adalah sejenis nada false dalam musik. Aporia adalah semacam kegagalan meraih sesuatu yang penuh, sempurna, koheren seperti menjadi ambisi dan proyek filsafat Aristotelian.

Puisi, bagi saya, menjadi menarik karena membuat kita berada dalam tegangan dan antagonisme estetis antara perasaan gembira yang meluas-luap karena mengalami Yang Indah. Tetapi pada saat yang sama, luapan kegembiraan itu segera dibatalkan oleh kesadaran bahwa apa yang kita kira jelas dan dapat kita ketahui, ternyata tak seluruhnya kita pahami. Antagonisme kegembiraan dan kegagalan semacam ini membuat pengalaman-pengalaman estetis dalam membaca puisi menjadi pengalaman akan kerentanan, fragility.

Mungkin karena watak puisi yang sejak awal membawa kerentanan inilah yang membuat kedudukan puisi dan seni tidak seluruhnya mantap dan kokoh dalam masyarakat yang serba ingin saintis, obyektif, tetapi juga sekaligus praktis. Puisi, sebagaimana kita tahu, dimusuhi oleh ortodoksi agama sejak dahulu, sebab ia biasanya menolak tunduk pada proyek totaliter agama untuk membangun identitas yang total.

Sementara itu, kaum agama, juga para saintis, lupa bahwa puisi bisa membawa mereka kepada sikap etis yang merupakan konsekwensi dari kedagingan manusia: yaitu “ethics of humility”, sikap rendah hati karena “the finitude of the body”, tubuh manusia yang serba terbatas. Sikap etis ini dimungkinkan oleh puisi dan bentuk-bentuk diskursus-sisa yang lain justru karena adanya kesadaran bahwa ada “yang lain” yang tak seluruhnya bisa kita serap dalam identitas kita.

The other is irreducible!