Beberapa waktu lalu saya membaca artikel berjudul “Understanding How and Why Young People Enter Radical or Violent Extremist Group” yang ditulis oleh Nele Schils dan Antoinete Verhage, dua kriminolog dari Ghent University, Belgia.

Dalam artikel yang dimuat dalam International Journal of Conflict and Violence (Vol 11/2017) tersebut, keduanya membeberkan hasil wawancara dengan sejumlah anak muda yang mengaku berhaluan atau (bahkan) sudah bergabung dengan kelompok-kelompok radikal.

Diperoleh fakta bahwa ideologi (baik kiri maupun kanan) bukanlah faktor utama yang mendorong seseorang menjadi radikal. Rasa kekecewaan terhadap komunitas yang sudah ada (existing society) adalah faktor pendorong yang utama.    

Temuan selanjutnya adalah bahwa sebenarnya media sosial tidak seefektif yang dipersepsikan sebagian kalangan dalam merekrut anggota kelompok radikal. Recruitment secara tatap muka dengan memanfaatkan semacam jejaring down-line tetap menjadi favorit. Namun, itu terbatas pada recruitment. Untuk penyebaran ide, internet tetap menjadi salah satu sarana yang ampuh.

Sementara itu, menurut Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta, Saiful Umam, Ph.D, setidaknya ada tiga faktor yang mempengaruhi sikap beragama seseorang, yaitu pengajaran dari guru/mentor, sumber di internet, dan persepsi atas performa pemerintah (rilis survei PPIM pada 8/11/2017).

Point pertama dan kedua memiliki korelasi dalam hal bahwa internet, yang didominasi oleh kontent-kontent radikal, mudah diakses oleh guru dan murid. Sejalan dengan temuan BNPT tentang maraknya penyebaran paham radikal di sekolah-sekolah.

Sedangkan di Malaysia, terorisme dianggap sah-sah saja oleh sementara orang karena dipersepsikan sebagai perwujudan dari konsep jihad dalam Islam. Tentu saja ini pemahaman yang keliru. Namun itulah temuan dari Zul ‘Azmi dan Sunawari dalam artikel berjudul “Terorisme sebagai Cabaran Ideologi Muslim Masa Kini” (International Journal of Islamic Thought,Vol VII/2015).

Kendati dilakukan di kawasan berbeda (Eropa, Indonesia, Malaysia) menurut saya, dapat ditarik benang merah dari riset-riset di atas. Saya simpulkan dua hal yang bisa disebut sebagai gejala radikalisme, yakni pubertas agama (jika istilah ini dibenarkan) yang tidak dibimbing dengan baik, dan segregasi sukarela (voluntary segregation).

Pubertas Agama 

Layaknya ekonomi, stratafikasi kelompok masyarakat dalam hal agama juga mengenal tiga tataran, kelompok lemah (awam), menengah, dan atas. Peralihan dari strata awam menuju menengah inilah yang bisa kita sebut dengan pubertas agama. Masa “gandrung-gandrungnya” dengan hal berbau agama.

Ia tidak memandang usia. Bisa saja remaja yang secara psikologis sedang alami masa puber, di saat yang sama juga alami pubertas religi. Bisa juga kelompok usia dewasa/tua yang ketika masa produktif kurang mendalami ilmu agama. Rasa ingin tahu yang besar, semangat untuk “hijrah”, dan haus akan ceramah.

Pada banyak kasus, kelompok seperti ini mendapat ilmu agama secara instant. Tidak melewati tahapan-tahapan pembelajaran sebagaimana mestinya. Menabrak syarat penting yang ditetapkan Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu, thul-zamani (waktu lama). Implikasinya, ilmu keagamaan yang didapat hanya sebatas permukaan.

Agama bagi mereka tidak hanya (sebagaimana istilah Goenawan Mohamad) sebatas garam yang meresap, menyebar, memberi manfaat tanpa kelihatan. Agama haruslah nampak jelas dan formal. Maka tidak heran, untuk hal-hal berlabel syar’i, mereka adalah ceruk pasarnya.

Pada umumnya, seseorang sudah miliki wawasan keagamaan yang luas, rujukannya adalah buku. Internet hanya pintu masuk menuju referensi yang lebih “kokoh”. Sedangkan untuk kalangan pubertas agama, besar kemungkinan bahwa hal yang didapatkan pada halaman pertama mesin pencari Google (misalnya) cenderung dianggap sebagai kebenaran.

Apalagi sejumlah platform mengenal algoritma yang membatasi diversifikasi informasi. Apa yang biasa di-“klik” akan terekam. Di kemudian hari jika hendak mencari informasi, mesin otomatis menawarkan pilihan-pilihan utama berdasar rekaman tadi. Singkatnya, internet mencekoki hal yang sama berulang-ulang.

Di masa lalu, kalangan awam tidak terlalu mendapat panggung keagamaan. Sekarang kondisinya berbeda. Media sosial memungkinkan orang dengan kepakaran yang tidak jelas untuk tampil. Yang penting banyak followers. Keawaman tersebut menyebar dan menenggelamkan pandangan-pandangan mereka yang kompeten.

Masalahnya adalah, seseorang dalam masa itu jika bertemu dengan sosok radikal, ia rentan menjadi radikal pula. Penelitian Schils dan Verhage di atas mengungkap bahwa anak muda yang bergabung dengan radikal kanan tidak terlalu peduli pada intisari dan kedalaman ideologi yang ia ikuti. Mereka bahkan mungkin tak mempelajarinya. Yang ada adalah semangat keagamaan berlebih yang bertemu dengan tokoh radikal yang sedang lakukan perekrutan. Kalau kata orang Jawa ibarat “tumbu oleh tutup”.

Jadi, kelompok pubertas agama ini rentan menjadi radikal jika tidak mendapat guidance yang tepat.

Segregasi Sukarela

Di masa kolonial, bangsa Indonesia dipaksa terpisah satu sama lain dalam suatu pembagian kelas yang diskriminatif. Terdapat tiga kelas: Europeanen (masyarakat Eropa/kulit putih), Vremdee Oesterlingen (Timur Asing/Keturunan Cina, Arab, dll), dan Inlander (pribumi).

Pembagian ini mendapat payung hukum UU Kolonial tahun 1854. Tentu saja dalam rangka memecah belah bangsa. Belanda sendiri tidak menamai diri dengan asing, melainkan penguasa nusantara kala itu.

Zaman now tak lagi diperlukan penjajah. Coba cek sekeliling kita khususnya dunia maya. Berapa banyak orang yang pamerkan status “pribumi” pada identitasnya. Label yang dulu dipakai penjajah untuk mendiskriminasi penduduk lokal, kini dipakai untuk menunjukkan superioritas dirinya atas kelompok lain. Sayangnya, belakangan ini, isu tersebut justru dihembuskan oleh sejumlah politikus. You know lah.

Sejumlah orang juga sadar tanpa paksaan memisahkan diri dari komunitas. Sebagian umat Islam misalnya, ingin memisahkan diri dari komunitas yang lebih plural. Indikasinya cukup banyak. Yang paling kentara adalah maraknya hunian khusus muslim.  Konsep perumahan yang dicanangkan hanya dihuni oleh mereka yang seaqidah. Ingin bergabung? Punya duit saja tidak cukup. Anda harus berkenan diukur mengenai hal yang hampir mustahil diukur: kesalehan!

Wujud lain dari segregasi adalah pembatasan pergaulan dengan liyan. Masih segar di ingatan ketika ada gerakan untuk boikot penyedia jasa travel. Sebagian kalangan menyodorkan penyedia jasa yang sama, tapi dari kalangan seagama. Wujud dari muamalah yang terbatas.

Menurut saya, segregasi sukarela  semacam ini cukup mengkhawatirkan. Penelitian di atas menunjukkan hal itu. Faktor pendorong menjadi radikal adalah kekecewaan (discontent) terhadap komunitas yang ada. Selanjutnya membentuk kelompok tersendiri. Jika sulit akan bergabung dengan kelompok yang menghimpun orang-orang dengan kekecewaan yang sama. Maka ada sedikit saja trigger emosional, dorr!

Dua fenomena di atas patut dianggap sebagai gejala awal. Tentu tak semua. Namun, kemunculan kelompok non-violent ekstremist sekalipun diawali oleh dua gejala tersebut.

Patut dicatat, bom bukanlah awal dari terorisme. Ia justru adalah hilir. Terorisme diawali oleh ajaran dan juga ujaran. Sel-sel tidur terorisme berada pada situasi ini. Kita cermati lingkungan kita (maya maupun nyata). Jika sudah bergeser terlalu jauh ke kanan, tariklah kembali ke tengah! Jangan memasabodohkan gejala-gejala di depan mata! Dengan itu kita sudah berkiprah.