Sama sekali di luar dugaan, Real Madrid bisa melumat PSG dengan skor telak 3-1. Hingga menit ke 60, pertandingan berjalan alot. Kedua kesebelasan saling jual beli serangan.

Pada laga pertama babak 16 besar Liga Champion di markas Santiago Bernabeu, Rabu (14/2/2018), tim tuan rumah ingin meraih modal positif di depan publiknya sendiri. Sementara PSG berusaha mencuri poin di kandang lawan.

Sebelum turun minum, dua sudah gol terpampang di papan skor. PSG lebih dulu memetik poin.

Memanfaatkan antisipasi bola yang kurang sempurna dari Nacho, Adrien Rabiot yang berdiri tanpa kawalan menyambar si kulit budar dan mengarahkannya lurus ke tengah-tengah mulut gawang. Keylor Navas yang terlanjur bergerak ke kanan gagal menepis dan dia dipaksa memungut bola dari gawangnya.

Tidak perlu menunda hingga masuk babak kedua bagi Madrid untuk menyamakan kedudukan. Gol balasan anak asuh Zinedine Zidane tercipta dari tendangan pinalti. Wasit menunjuk titik putih setelah Kross dilanggar oleh Lo Celso di area kotak pinalti. Ronaldo sukses bertindak sebagai algojo sekaligus memecahkan rekor dengan menorehkan 100 gol di Liga Champion.

Pertandingan yang semula berjalan ketat mulai terasa kurang berimbang pada saat Edinson Cavani ditarik keluar. Pelatih PSG memasukkan pemain bertahan Thomas Meunier. Untuk menutup lubang di depan, Unai Emery menginstruksikan Dani Alves mengeksploitasi sisi kiri pertahanan Madrid.

Tapi justru masuknya Meunier inilah yang menjadi titik utama kelemahan PSG. Alves betul-betul fokus bertugas menebar ancaman dengan selalu bergerak ke depan. Pemain berpaspor Brazil ini jarang turun ke belakang untuk memback-up Meunier. Meunier bekerja sendirian untuk meladeni pergerakan ekplosif dari Marcelo.

Dalam fase knout-out Liga Champion ini, Marcelo sendiri punya tandem sangat bagus untuk merusak mental dan konsentrasi Meunier. Marcelo melakukan kolaborasi yang sangat apik dengan Marco Asensio. Menggantikan Isco pada menit 79, gelandang muda masa depan timnas Spanyol ini membuat serangan Madrid lebih menggigit.

Dua gol yang bersarang ke gawang PSG berawal dari kelemahan Meunier menutup sektor kanan pertahanan kesebelahannya. Ronaldo menambah pundi gol setelah Asensio menusuk melalui sektor kanan pertahanan dan memberikan umpan silang ke tengah. Umpan silang itu menghasilkan bola rebound dimana dengan sentuhan lututnya Ronaldo bisa memperdaya kiper PSG, Alphonse Areola.

Tidak lama berselang, Madrid mengubah papan skor menjadi 3-1. Keunggulan tim tuan rumah ini diperoleh lagi-lagi dengan cara mengobrak-abrik sektor kanan pertahanan PSG. Meunier, pemain yang bertanggungjawab mengcover area itu, dibuat bulan-bulanan oleh pergerakan dan kombinasi umpan antara Marcelo dengan Asensio. Madrid merayakan gol ketiga usai Marcelo memanfaatkan assist yang diberikan Asensio.

Instruksi Unai Emery agar Alves lebih sering meneror sektor kiri pertahanan Madrid bukan sebuah keputusan yang salah. Pelatih PSG ini pasti melirik statistik gol yang bersarang ke gawang Madrid di pentas La Liga. Dari 22 pertandingan yang sudah dijalani di Liga Spanyol, Los Blancos kebobolan 23 gol. Dari jumlah gol tersebut, enam di antaranya terjadi akibat Marcelo keropos menjaga sektor kiri pertahanan timnya.

Keberadaan Marcelo memang kadang menjadi bumerang. Kemampuan ofensifnya sangat dibutuhkan oleh Zidane guna menambah daya gedor serangan Madrid. Tapi pesebakbola berambut krebo ini kadang lalai memerankan dirinya sebagai pemain bertahan.

Kecerobohan Marcelo inilah yang coba dimanfaatkan Unai Emery. Dia berharap dengan intensitas pergerakan ke depan yang dilakukan Alves, gol bisa dikemas melalui sektor kiri pertahanan Madrid. Tapi taktik Unai Emery tidak berjalan sempurna di atas lapangan. Marcelo bukannya sibuk turun ke bawah meladeni serangan yang dilancarkan Alves, dia malah makin impresif dan leluasa menekan daerah operasi Meunier.

Di leg kedua, Unai Emery harus lebih piawai meracik taktik. Dia harus menyadari bahwa sekalipun Madrid tertatih-tatih di liga domestik tapi klub raksasa ini selalu punya passion jika berlaga di pentas Liga Champion.

Kekalahan PSG di leg pertama ini sekaligus menjadi pelajaran penting bagi Neymar. Tidak cukup hanya pindah klub untuk menuntaskan ambisinya menjadi pemain terbaik sejagad. Neymar harus menjelma menjadi seorang Ronaldo dan Messi.

Yang dibutuhkan Neymar bukan bagaimana meniru gaya permainan kedua peraih Ballon d’Or ini. Neymar harus bisa membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi ikon kemenangan bagi klub yang dibelanya. Dalam laga-laga penting, Neymar harus bisa memberikan nafas tambahan untuk menjaga asa mencapai prestasi terbaik bersama klubnya.

Ronaldo sudah membuktikan diri bersama Madrid, begitupun Messi sudah mendulang sukses bersama Barcelona.  Di klub barunya, Neymar mendapat tantangan untuk menjadi ikon kesuksesan. Di PSG, Neymar harus berhasil mengemban misi membawa klubnya berjaya di pentas kompetisi elit dunia.