Semua agama mengajarkan konsep dan cara pengendalian diri. Bentuknya beragam, sesuai dengan kecerdasan agama itu sendiri.

Pengendalian diri itu sebagian digambarkan sebagai self control sebagaimana yang telah dinyatakan dalam self control is a godly quality pada Galatia 5, 22, dan 23.

Bentuk pengendalian diri berhubungan erat dengan nafsu manusia yang sangat beragam. Terutama, naluri seksual yang sudah menjadi hal adikodrati yang dimiliki manusia.

Imam Al Ghazali mengatakan: Tuhan menciptakan rahim. Dia menciptakan organ untuk bersenggama. Dia menempatkan benih anak-anak di dalam tubuh laki-laki dan perempuan.

Dia juga mengatakan hal lainnya: Tuhan memberi nafsu seksual kepada laki-laki dan perempuan. Tidak ada orang yang berakal yang tidak dapat menangkap apa yang dimaksudkan Tuhan dengan semua ini.

Tingkat kekuatan dan kelemahan hasrat libido ini juga relatif antara laki-laki dan perempuan. Bisa saling mendominasi dan saling berinterferensi. Kebiasaan dan perilaku seksual manusia juga terikat pada ruang, waktu, kekuasaan, dan ilmu teknologi.

Oleh karena itu, agama membuat aturan-aturan untuk pengekangan libido hasil tatapan langsung ini. Berbagai acara dan usaha ditetapkan, seperti menundukkan pandangan (ghaddul bashar), puasa, olahraga, hingga pulang lari ke rumah untuk menemui istrinya dan menuntaskan hasrat.

Untuk urusan penutupan aurat atau bagian tubuh yang bisa menaikkan libido saat ditatap, agama terlihat patriarki. Wanita menjadi sasaran penutupan utama aurat ini. Islam, Yahudi, dan Kristen sudah kenyang pengalaman dalam hal menutup aurat ini.

Salah satu bentuknya bernama niqob atau rangkaian adibusana yang membebat habis bagian-bagian yang dianggap bisa menyulut libido, terutama muka.

Niqob ini kebudayaan yang sudah tua umurnya dengan berbagai macam variasi bentuk dan namanya. Objek utamanya jelas wanita. Tidak ada satu pun ajaran agama yang membahas niqob untuk lelaki.

Padahal, hikmah pada kisah Nabi Yusuf mengajarkan bahwa wanita juga tertarik dan terangsang ketika melihat ketampanan lelaki yang tidak ditutupi wajahnya. Ketika relasi kekuasaan ini menyoal perbudakan, maka kaitannya hubungan antara majikan dan hamba. Ketika kehadiran budak di sisi majikannya dianggap sebuah ketiadaan jasad dan rohaninya.

Sebagaimana kisah Nabi Yusuf (Joseph son of Jacob) yang mewakili sebuah perlawanan relasi kekuasaan dengan libido majikannya. Nabi Yusuf yang berhasil memberikan perlawanan telah membuktikan bahwa dirinya itu “ada” dan “berharga” di depan libido sang majikan.

Dia berhasil mematahkan anggapan bahwa seorang budak yang tanpa penutup wajah (niqob), yang juga dianggap tidak hadir walaupun tubuh mereka berada dekat dengan majikannya, bisa memancing libido sang majikan.

Kisah ini mendapat acungan jempol di Quran sebagai ahsanul qashshash atau sebaik-baik kisah. Kisah yang mengajarkan kesucian diri. Juga mengajarkan bahwa perempuan dapat lepas kontrol ketika melihat wajah lelaki yang tanpa penutup wajah (niqob).

Dengan tertangkap basahnya istri al Aziz atau Portifar ini, maka kisah selanjutnya lebih mendetail dengan memberi proper name si wanita dengan sebutan “Zulaikha”.

Zulaikha adalah lambang nymphomaniac atau menderas libido seorang wanita di sisi budaknya. Dengan melihat konsep kehadiran budak yang tidak dianggap ada di samping majikannya saat itu, dapat dikatakan betapa “melihatnya” si Zulaikha.

Tidak berhenti itu saja, Zulaikha ingin membuktikan bahwa wanita bisa terangsang dengan melihat lelaki. Dalam hal ini, saya pakai alat uji niqob yang fokus pada penutupan muka.

Maksudnya, keadaan lelaki dan perempuan adalah sama saat bertatap muka, di mana jika perlu lelaki harus pakai niqob juga, sebagaimana alasan penutupan wajah pada perempuan.

Untuk membuktikan hipotesis ini, Zulaikha mengambil sebuah tindakan cerdas dengan mengundang wanita Mesir ke rumah. Di tengah mereka memotong jamuan, Yusuf keluar tanpa tutup muka (niqob) dan menjadikan para wanita tersebut terpana hingga tak menyadari jemari tangan mereka teriris.

Dari sini jelaskan? Mereka wanita juga terangsang melihat wajah lelaki tanpa penutup. Apa sebaiknya kami kaum lelaki memakai niqob juga?

Lelaki membutuhkan gerakan masif seperti memainkan kelaminnya ketika libido mereka naik, semisal saat menatap wajah wanita. Namun, wanita tak perlu banyak gerakan untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Dari sisi ekstraksi pelumasan, wanita yang paling gampang keluar.

Jika dibuatkan sebuah perbandingan vis a vis semisal gelanggang yang berisi laki dan perempuan yang saling tertarik tanpa penutup muka pada keduanya.

Dipastikan, lonjakan pertama dari sisi fisiologis kelamin, khususnya cairan perangsangan, wanitalah yang paling kritis. Jika sisi lunrikasi jadi parameter, maka hancurlah hipotesis tentang wajah yang ber-niqob dapat meredam interferensi libido laki dan perempuan, di mana aplikasi niqob hanya pada satu sisi saja.

Walaupun klaim endokrinal mengatakan bahwa: baik laki-laki dan perempuan, keinginan untuk melakukan kopulasi (hubungan seksual) diatur oleh hormon testosteron.

Di mana hormon ini banyak terdapat pada laki. Namun, bukan berarti wanita tak punya pendorong lainnya yang bersifat non-endokrinal yang tak kalah ganasnya dengan klaim endokrinal tersebut.

Salah satunya adalah sisi psikologis yang disebut dengan titik absolut PNR (Point of No Return): the stage at which it is no longer possible to stop what you are doing and when its effects cannot now be avoided or prevented. Atau, dalam bahasa kekinian disebut sebagai hal meleleh

Titik ini sangat dahsyat sekali, ketika wanita sudah tidak bisa menahan lagi. Titik ini dominan pada wanita. Sebab berhubungan dengan emosional dan tidak berhubungan dengan sistem endokrinal. 

Titik ini bisa terpantik hanya dengan melihat wajah lelaki yang dianggap hot baginya. Tidak perlu banyak gerakan motorik untuk membangkitkan titik ini. 

Jadi, sekali lagi, apa perlu kami lelaki pakai niqob?