Berbicara tentang cinta berarti membahas salah satu kekuatan terbesar dalam kehidupan umat manusia.

Saya menyebutnya demikian tentu bukan tanpa alasan. Sebagaimana Buya Hamka, seorang tokoh agama Indonesia dalam sebuah ungkapannya tentang cinta juga bukan tanpa alasan: "Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat".

Dengan cinta lah sehingga seorang kesatria panglima perang memberanikan dirinya maju di hadapan para musuh-musuhnya untuk menumpaskan darah mereka demi tegaknya kebenaran yang sedang diperjuangkannya.

Cinta juga lah yang mendorong seorang ibu mempertaruhkan nyawanya demi terlahirnya anak yang sedang dikandungnya.

Dan dengan cinta pula lah yang menjadikan seseorang lebih memilih untuk menuruti segala yang diinginkan oleh kekasihnya ketimbang peduli terhadap rasa sakit yang sedang dideritanya.

Demikianlah cinta suatu kekuatan yang disebut oleh Jalaluddin Rumi layaknya pembawa perubahan bagi siang dan malam. "....., dan cinta membawa perubahan-perubahan bagi siang dan malam". Jalaluddin Rumi

Namun cinta, sebagaimana yang dikatakan Tereliye, salah seorang penulis Indonesia, juga merupakan sesuatu yang sangat misterius. Karena ke-misterius-annya inilah sehingga tidak sedikit orang memiliki pemahaman yang dangkal atasnya. 

Mereka mengaku dengan penuh keyakinan bahwa cinta sejatinya sudah hadir dalam diri mereka. Cinta sudah mengejawantah dengan sangat baik melalui tindak-tanduk mereka. Mereka sangat percaya apapun keputusan dan perbuatan yang mereka tunjukkan terhadap pasangan mereka merupakan suatu bentuk ekspresi dari cinta sejati mereka.

Sementara kenyataannya hampir setiap harinya mereka justru selalu bertengkar dengan pasangan mereka. Saling berselisih. Sama-sama merasa paling benar. Sama-sama menutup telinga selain terhadap apa yang mereka katakan. Mengaku sangat mencintai, padahal yang ada mereka justru sangat egois.

Ya, kurang lebih demikianlah corak percintaan yang terjadi pada banyak anak muda sekarang. Sebuah fenomena yang disebut Erich Fromm dalam bukunya "Seni Mencintai" sebagai cinta semu (pseudo love). Cinta yang tidak sehat, rancuh dan dangkal.

Berbicara cinta di kalangan muda-mudi masa kini tentunya tidak bisa dipisahkan dari fenomena berpacaran. Pacaran sebagaimana yang umumnya kita pahami adalah jalinan hubungan yang dibangun atas dasar kasih sayang namun belum terikat dengan perkawinan.

Namun kali ini kita tidak akan membahas persoalan apakah pacaran itu halal atau haram. Selain karena sudah sangat klise, pembahasan yang seperti itu juga sangat menjenuhkan, monoton, juga bisa menimbulkan sikap intoleransi dalam diri.

Namun, apa yang kemudian lebih penting (setidaknya menurut saya) untuk dibahas adalah sebuah fenomena yang diistilahkan oleh Erich Fromm dengan sebutan pseudo love, seperti yang sudah saya sebutkan, yang berlaku di lingkaran anak muda yang berpacaran. 

Mereka menjalin suatu hubungan (berpacaran) lalu mengikrarkan diri secara bersama untuk saling mencintai, saling mengasihi dan saling menyayangi. Sayangnya, hubungan tersebut tidak mereka landasi dengan pondasi yang kokoh. Sedikit saja mereka dihadapkan pada suatu masalah hubungan mereka dengan mudahnya seketika bisa runtuh, bahkan terhadap masalah yang sangat sepele sekalipun.

Mereka hanya pandai berkata-kata manis, saling memuji ketampanan dan kecantikan masing-masing namun tidak becus memaknai sebuah permasalahan. Padahal kata Gandhi cinta itu selalu menderita dan tidak pernah mencoba untuk meratap. 

Mereka sama-sama hanya ingin untuk diperhatikan dan enggan untuk memberi perhatian, sementara Mario Teguh mengatakan bahwa cinta itu tentang perhatian dan bukan pengabaian. 

Mereka hanya memikirkan kepentingan diri masing-masing dan tidak ingin untuk saling peduli. Jika salah satu dari mereka ada yang berbuat salah, maka tidak ada lagi kesempatan baginya untuk berbicara. Tidak ada kepedulian dan yang ada hanyalah keegoisan.

Mereka sama-sama hanya ingin untuk dicintai tanpa pernah mau berusaha untuk saling mencintai. Mereka adalah representasi yang paling tepat dari apa yang disebut Erich Fromm sebagai cinta yang tidak dewasa: cinta yang didasari oleh kebutuhan pribadi semata.

Maka bagi Fromm fenomena yang seperti demikian ia maknai sebagai gejala dari pseudo love. Yang tumbuh menjalar pada kebanyakan muda-mudi masa kini utamanya bagi mereka yang berpacaran. Dalam bukunya yang ia beri judul "Seni Mencintai" disebutkan bahwa hal yang seperti itu bisa terjadi karena tidak adanya pemahaman yang baik tentang cinta. 

Banyak muda-mudi yang berpacaran terjangkit pseudo love lantaran mereka melihat cinta hanya sesuatu yang tidak lebih dari sekadar persoalan yang biasa-biasa saja dan dianggap sangat remeh. Seolah mereka masih terlalu polos untuk mengenal cinta. 

Karena bagi Fromm cinta semestinya tidak dipandang sebelah mata. Cinta adalah seni, menurutnya. Sesuatu yang juga mesti dipelajari, sebagaimana seni pada umumnya. Karena cinta itu seni, maka menjadi kesalahan besar jika menganggapnya sebagai perkara yang sangat sepele. 

Di dalam bukunya tersebut, Fromm juga menjelaskan lebih lanjut akibat yang akan ditimbulkan dari tidak adanya pemahaman yang cukup tentang cinta. Ada sejumlah akibat yang disebutkannya. Salah satunya adalah hadirnya sikap egois dalam diri seseorang. 

Orang akan menganggap yang terpenting dalam soal cinta adalah "dicintai" dan bukan "mencintai". Ia hanya mementingkan dirinya sendiri. Ia baru akan menganggap pasangannya mencintainya dengan tulus jika dan hanya jika segala yang diinginkannya dituruti pasangannya. Tanpa sedikit pun menyadari apa yang sebaiknya ia lakukan terhadap pasangannya.

Maka untuk meraih keinginannya itu (dicintai pasangannya) ia kemudian akan fokus mengurusi dirinya sendiri. Untuk perempuan, kata Fromm, yang dilakukannya hanya sibuk mempercantik dirinya dan memperindah penampilannya. Sedangkan untuk laki-laki ia akan berusaha untuk menjadi kaya dan memiliki kekuasaan. 

Sehingga jangan heran jika saat ini beberapa perilaku seperti demikian banyak kita temukan di kebanyakan muda-mudi terutama mereka yang berpacaran. Karena mereka telah terjangkiti pseudo love sekaligus membuktikan akan kedangkalan pemahaman mereka terhadap cinta.

Lihat saja saat mereka berjanjian untuk bertemu. Entah itu laki-laki ataupun perempuan mereka akan sama-sama berusaha semaksimal mungkin untuk tampil menggoda. 

Perempuan akan hadir dengan bibir merah yang tebal, bulu mata yang lentik, wajah yang glowing, serta bau tubuh yang memikat. Sementara laki-laki akan datang bersama dengan kendaraan yang mewah, dompet yang tebal, pakaian yang mahal dan dengan gaya rambut yang lagi ngetrend

Kebiasaan-kebiasaan yang demikian pun seakan sudah menjadi hukum yang wajib dalam dunia pacaran muda-mudi saat ini. Baik laki-laki maupun perempuan mereka sama-sama merasa dituntut untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan yang seperti itu.

Lalu, apa yang kemudian mereka bisa dapatkan dari konsep cinta yang seperti demikian? Alih-alih kebahagiaan, yang ada justru malah kesengsaraan.

Ironisnya, mereka memimpikan untuk bisa mengikuti alur kisah cinta seperti Romeo dan Juliet, Layla dan Majnun, ataupun seperti kisah cinta suci Ali dan Fatimah, yang pada akhirnya hanya menjadi cerita indah bagi mereka.