Akhir-akhir ini kita sedang dihebohkan oleh kasus prostitusi artis VA dan AS yang tertangkap basah di Surabaya sedang melayani pelanggannya. Seperti biasa, kasus yang berhubungan sekitar selangkangan akan cepat tersebar dan viral di Indonesia. 

Jika melihat deretan nama artis, VA tentu bukan yang pertama kali terlibat kasus bisnis prostitusi ini. Sudah ada banyak sekali artis pendahulu yang sudah menyelam di lautan prostitusi ini. Melihat banyaknya kasus yang terjadi, tentu saja bisnis ini merupakan kategori bisnis yang menjanjikan imbalan besar. Karena mereka dapat menjual tanpa kehilangan apa pun. Tanpa modal.

Secara norma dan adab masyarakat timur modern, prostitusi tentu tidak dapat dibenarkan. Karena prostitusi termasuk kepada hubungan seks di luar pernikahan yang membentur adat timur. Sehingga, wajar apabila kita banyak masyarakat Indonesia yang mencibir dan nyinyir pada kasus prostitusi, khususnya kasus yang melibatkan artis VA kemarin, karena Indonesia adalah pemegang teguh adab ketimuran dan norma keagamaan yang tinggi.

Namun, terlepas dari segala moral dan norma masyarakat yang berlaku, prostitusi juga tak dapat dibenarkan begitu saja, karena prostitusi adalah salah satu upaya menggeser nilai guna perempuan dari hakikatnya sebagai seorang homosapiens atau 'manusia bijaksana' menjadi sekadar komoditas atau batang dagang yang bisa diperdagangkan. 

Prostitusi ini adalah bentuk halus dari proses komodofikasi perempuan, yang substansinya sama dengan human trafficking. Segala bentuk human trafficking tentu adalah perbuatan yang melanggar hak asasi manusia. Karena mengandung unsur tindas menindas didalamnya.

Prostitusi dan human traffiicking menghendaki perubahan nilai guna yang sama, yang menjadi manusia sebagai obyek perdagangan, perbedaan mencolok terletak pada barang yang diperdagangkan, apabila prostitusi menjual kenikmatan pada organ tertentu, maka human trafficking menempatkan manusia secara konkret sebagai yang diperdagangkan. Keduanya sama-sama menggeser hakikat manusia yang diciptakan oleh Tuhan, dan ini tentu sangat menyimpang.

Lebih lanjut, komodifikasi ini membawa peluang berbisnis baru di kalangan masyarakat. Perubahan atau sebuah transformasi sosial yang menempatkan sesuatu menjadi komoditas yang baru tentu tidak akan dilewatkan orang banyak begitu saja. 

Transformasi sosial ini adalah sebuah bisnis yang menjanjikan, terutama untuk spesialis komoditas, yakni seorang kapitalis yang mendewakan kapitalismenya. Sebuah paham akan sistem ekonomi yang berdasar kepada falsafah liberal/kebebasan. Sehingga banyak sekali kapitalis dan liberalis yang membela VA dengan dalil kebebasannya yang sebenarnya adalah usaha untuk membantu gerak komodifikasi perempuan ini untuk memberikan akumulasi kapital atau kekayaan, baik langsung atupun tidak langsung. 

Karena sebuah transformasi sosial adalah akumulasi dari langkah-langkah kecil sebuah perubahan, maka tiap-tiap kasus prostitusi ini tidak dapat dibenarkan secara privat maupun secara general, khususnya karena pada kasus VA, sang artis tidak melakukan transaksi secara langsung, melainkan secara perantara melalui fasilitatornya/mucikarinya sehingga buang jauh-jauh kata-kata urusan pribadi dan urusan privat, dan akan lebih baik anda ganti dengan kata-kata urusan bisnis. 

Peluang bisnis ini akan mendatangkan keuntungan yang berlebih, karena menjual kenikmatan yang mana kenikmatan itu sendiri tidak perlu dibeli dengan modal. Dengan kata lain, akumulasi kapital dapat dijalankan tanpa modal sekalipun! 

Lagipula, komodifikasi perempuan adalah bentuk eksploitasi terhadap perempuan. Eksploitasi berarti pemanfaatan berlebih atau sewenang-wenang terhadap sesuatu. Perempuan telah dieksploitasi alat reproduksinya untuk akumulasi kapital, dan merendahkan harga nilai guna homosapiens yang merupakan 'manusia bijaksana' menjadi barang tak bernilai yang dicicipi laki-laki. Ini menciptakan sebuah budaya patriarki yang berkelanjutan dan tak berakhir. 

Pengkomodifikasian adalah bentuk perendahan nilai guna homosapiens dan tentu perendahan nilai guna ini menciptakan dominasi, penindasan dan ekpsploitasi pada perempuan. Begitu kurang lebih contoh dari patriarki. Intinya, laki-laki lebih memiliki nilai guna lebih, sebagai homosapiens dan menyingkirkan perempuan dari hakikatnya untuk diperjual-belikan kenikmatan yang didapat dari alat reproduksinya. 

Tiap-tiap prostitusi akan menghasilkan hasil yang kurang lebih sama. Yakni dominasi kaum laki-laki, karena umumnya penentu aktivitas prostitusi adalah laki-laki, sebagai pelanggan, meskipun tidak menutup kemungkinan berlaku sebaliknya.

Maka, jangan heran apabila di tiap kasus prostitusi pada umumnya atau juga kasus pemerkosaan, adalah perempuan yang selalu salah. Seperti pada kasus Agni di salah satu kampus ternama di Indonesia. Itu adalah contoh budaya patriarki bekerja, yang memberatkan dan menempatkan laki-laki sebagi pemenang. 

Hal seperti ini tidak dapat kita biarkan terus-menerus, karena pada hakikatnya semua manusia adalah setara. Dan saya paham, konteks ini akan sangat sulit dianut bagi orang-orang liberal yang mendukung kebebasan.

Karena kebebasan dan kesetaraan adalah sebuah kontradiksi, di mana jika membiarkan kebebasan, maka tidak ada kesetaraan dan akan membangun budaya patriarki. Dan sebaliknya, jika membela kesetaraan, kebebasan akan cenderung di kekang. Dalam konteks ini, kita harus benar memahami, berada di pihak manakah kita? Pihak yang mendukung penindas atau pihak yang menuntut kesetaraan? 

Nurani harus segera sadar bahwa membela kesetaraan antara laki-laki dan perempuan adalah mulia, karena pada dasarnya kita adalah saling membutuhkan satu sama lain, sehingga jangan sampai ada perendahan harga diri melalui perendahan nilai guna yang dimanfaatkan untuk mendominasi dan mencari uang. Kita harus bisa menghargai satu sama lain, dan bekerja sama menciptakan masyarakat yang setara dan bahagia.

VA berhak jual dirinya, tapi bersama dengan itu ia tidak berhak menjual harga diri dan nilai guna perempuan lain! Yang berakibat merendahkan gendernya di kalangan masyarakat umum dan mempatriarkikan dunia. 

Stop Prostitusi!