“ Harga diri perempuan ada di tingkah laku, pikiran, dan cara dia mengambil keputusan untuk maju dan berkembang. “

~ Oka Rusmini ~

Perkataan dari Oka Rusmini tersebut mengoyak sebagian besar dari perempuan yakni untuk terus maju dan berkembang. Perempuan acapkali dipandang sebelah mata dalam kehidupan sosial masyarakat.

Hal ini tentu tak terlepas dari warisan tradisi dan budaya patriarki yang berkembang dalam kehidupan masyarakat, secara khusus masyarakat yang pernah berada dalam sistem pemerintah feodal.

Harga diri perempuan berada pada tingkah laku, pikiran, serta caranya dalam mengambil keputusan, pernyataan tersebut sangtatlah menohok pada sebuah kasus dan pertanyaan, lantas bagaimanakah dengan para perempuan serta anak perempuan yang memilih serta memutuskan tingkah lakunya untuk menjadi pekerja seks komersial (PSK) dan terjuan dalam bisnis prostitusi?

Senada dengan hal tersebut, pandemi COVID-19 yang melanda dunia membuat sebagain besar masyarakat mengalami kesulitan dan kehilangan pekerjaan. Dampak tersebut tentunya berpengaruh bagi kehidupan sosial dan perekonomian masyarakat.

Terdapat banyak persoalan yang melanda. Persoalan tersebut bukan hanya perihal kesehatan dan keselamatan nyawa masyarakat melainkan juga menyangkut perekonomian hingga pada akhirnya berimbas pada rumah tangga.  

Pada kali ini penulis akan membahas mengenai permasalahan prostitusi yang marak terjadi di tengah pandemi COVID-19 ini. Permasalahan ini semacam jasa prostitusi online, dimana para korban menawarkan diri di media sosial. Tawaran ini bisa ditentukan dengan tarif yang tinggi maupun tarif yang rendah.

Suatu hal yang menjadi masalah adalah ketika para mucikari mempekerjakan anak-anak perempuan untuk dijadikan Pekerja Seks Komersial (PSK).

Pekerjaan sebagai pekerja seks komersial (PSK) tentu merupakan pekerjaan yang merendahkan harkat serta martabat perempuan. Hal ini dikarenakan perempuan hanya dianggap sebagai objek pemuas nafsu birahi yang diperjualbelikan.

Pekerjaan tersebut tentu merupakan pekerjaan yang tidak berperikemanusiaan. Pada tulisan kali ini penulis akan memberikan gagasan mengenai pemberdayaan perempuan dan anak perempuan lebih utamanya mengenai upaya tindakan kemanusiaan.

Sehingga dengan demikian anak-anak perempuan dan perempuan yang terjerat lingkaran prostitusi dan PSK dapat dinaikkan harkat dan martabatnya sebagai perempuan dengan memiliki pekerjaan yang lebih manusia demi kemanusiaan dan perkembangan dirinya.

Prostitusi yang Mencekik di Masa Pandemi

Prostitusi secara online kian menjadi-jadi di masa pandemi. Berdasarkan laporan Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) terdapat beberapa faktor pendorong terjadinya prostitusi yang kian menggurita yakni,

kondisi ekonomi yang semakin mencekik, perekonomian kebijakan pembangunan yang semakin berat, perpindahan penduduk dari desa ke kota, ketidaksetaraan gender dan praktik diskriminasi, tanggung jawab seorang anak untuk membantu keluarga, pergeseran perkonomian subsistem ke ekonomi berbasis pembayaran tunai, disintegrasi keluarga, peningkatan konsumerisme, pertumbuhan jumlah anak jalanan.

Selain itu juga terdapat beberap faktor lainnya seperti halnya tak ada kesempatan pendidikan, tak ada kesempatan kerja yang memadai, penegakan hukum yang kurang, diskriminasi etnis minoritas, meninggalnya pencari nafkah keluarga sehingga anak terpaksa masuk ke perdagangan seks.

Faktor yang sangat mempengaruhi lainnya dalam hal sosial kultural ialah bahwa terdapat lingkungan tempat tinggal anak perempuan yang kurang positif, arus westernisasi yakni pengaruh seks bebas dalam berhubungan seksual, penggunaan media sosial serta media komunikasi dan informasi yang semakin bebas dan marak untuk mengakses segala hal.

Hal-hal tersebut menjadi akar kuat atas bertumbuhnya dan semakin menyebarnya kasus prostitusi anak yang semakin menggurita. Sekalipun demikian, dalam benak mereka masih memiliki rasa takut akan dosa atas perbuatan yang mereka lakukan.

Namun situasi serta kondisi yang menghimpit membuat mereka terpaksa untuk melakukan tindakan prostitusi dan bahkan dipaksa untuk menjadi pekerja seks untuk memuaskan nafsu orang lain dan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya.

Feminis

Feminis berasal dari kata feminine atau feminitas yang berasal dari bahasa Prancis merujuk pada sifat yang menunjukkan sifat keperempuanan seperti halnya kelembutan, kesabaran, kebaikan, merawat serta empat.

Feminisme merupakan gerakan sosial, gerakan politik, serta ideologi yang bertujuan untuk mendefinisikan, membangun, dan mencapai kesetaraan serta keadilan gender dalam lingkup politik, ekonomi, pribadi, serta sosial.

Orang-orang yang berjuang dalam gerakan tersebut disebut sebagai feminis. Dalam kehidupan bermasyarakat acapkali perempuan dianggap kurang mampu dalam melakukan segala hal dibandingkan dengan lelaki.

Keahlian yang hanya bisa dilakuakan oleh para perempuan biasanya ialah merawat anak, orang tua, orang sakit, mengatur rumah, serat membantu dan menghibur kaum lelaki.

Kaum feminis meyakini bahwa perbedaan sosial yang dianggap biasa oleh masyarakat sering berlaku untuk melawan kepentingan dan kebebsan kaum wanita. Pengertian tradisional menolong untuk menjamin bahwa kekuasaan politik dan yang lain tetap berada di tangan kaum lelaki.

Dalam kasus prostitusi di masa pandemi yang sering dialami oleh kaum perempuan dan anak perempuan ini, merupakan bagian dari stigma masyarakat bahwa pekerjaan termudah bagi para perempuan ialah menghibur kaum lelaki dengan mendapatkan bayaran.

Hal tersebut tentu mengabaikan bahwa pekerjaan tersebut sangat merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan dari perempuan itu sendiri. Pandangan ini tentu merupakan pandangan yang merendahkan perempuan sekaligus menandakan bahwa nampak adanya ketidaksetaraan dalam hal gender.

Kasus prostitusi anak perempuan dan para perempuan di tengah pandemi ini juga menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan terhadap perempuan masih dipandang rendah. Dalam hal ini sangat penting untuk dikampanyekan mengenai kemanusiaan dan perempuan itu sendiri.

Upaya pemberdayaan perempuan pekerja seks komersial (PSK) sangat mendesak untuk diadakan. Hal ini bertujuan untuk mengentaskan anak-anak perempuan dan para perempuan pelaku PSK dari pekerjaan tersebut dan membuka pekerjaan baru yang lebih manusiawi.

Perempuan yang Berdaya Menurut Simone de Beauvoir

Berbicara mengenai feminisme tentu tak asing dengan nama Simone de Beauvoir. Simone de Bauvoir merupakan seorang penulis berkebangsaan Prancis, filsuf eksistensialis, aktivis feminis, serta politikus.

Dalam konsep, refleksi, serta pemikirannya ia menggagas mengenai emansipasi subjek. Emansipasi subjek menurut pandangan Simone de Bauvoir ialah manusia secara kodrat dicipta berbeda tapi tidak lebih rendah dari manusia lainnya.

Sehingga dengan demikian terdapat kesetaraan antar subjek. Namun dalam kehidupan masyarakat secara umum dan turun-temurun ialah memandang rendah perempuan di bawah lelaki. Pandangan tersebut bukanlah pandangan kodrati melainkan pandangan bentukan yang dapat diubah.

Perubahan pandangan tersebut haruslah bersifat resiprokal/saling berbalas. Maksudnya yakni perubahan tersebut bukan semata dari kaum perempuan semata, melainkan pula membutuhkan peran kaum lelaki. Sebab sebagian besar yang membuat peranan tersebut ialah lelaki.

Tindakan yang perlu diupayakan untuk mewujudkan perempuan yang berdaya ialah para lelaki harus menggugurkan gagasan bahwa subjektivitasnya menjadi penuh ketika mengobjekkan perempuan.

Hal lainnya ialah perempuan harus mengembangkan subjektivitasnya yakni dengan cara mengembangkan kecerdasannya, ketrampilan, serta bakat dan talentanya. Hal tersebut bertujuan supaya para perempuan dapat ikut serta berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Gagasan tersebut erat kaitannya dengan perempuan sebagai subjek yang berdaya.

Kasus prostitusi yang semakin merebak di masa pandemi tersebut tentu bukan hanya karena faktor perekonomian yang kian mendesak semata, melainkan lebih mendasar lagi bahwa para perempuan serta anak perempuan tersebut tidak memiliki ketrampilan untuk melakukan pekerjaan lainnya dan keinginan untuk mencari uang secara instan dan gampang.

Oleh sebab itu, upaya yang perlu dilakukan oleh pemerintah untuk menanggulangi persoalan kemanusiaan, anak, dan perempuan di masa pandemi ini ialah bukan sekadar memberikan bantuan dana, melainkan memberikan pelatihan pekerjaan serta penyuluhan kepada mereka dengan menaati protokol kesehatan di tengah pandemi sebagai bekal bagi mereka ke depan.

Sehingga dengan demikian sama halnya perkataan Oka Rusmini, harga diri perempuan dapat dinaikkan yakni dengan tingkah laku, pikiran, pengambilan keputusan, dan pekerjaan yang baik dan berperikemanusiaan.