Rehat

Racun ini bagai teman setia bagi Tono. Bukannya dia tidak pandai bergaul, tapi pergaulan di lingkungan kerja masa kini bagi Tono ibarat pemanis buatan; nikmat, tapi tetap saja buatan.

Selain itu, ada alkohol dan sebat juga yang cukup setia dan tampaknya lebih efektif daripada nasihat orang tua sendiri. 

Di sudut kota, di pinggir sungai yang menjadi bagian dari budaya setempat, Tono mencoba menikmati udara segar yang sengaja dicemari dengan wangi tembakau. Sebuah kebiasaan turun-temurun yang sering dikritik oleh tetangganya, Nana, hobi yang lahir bersamaan dengan maraknya pemberitaan bahaya rokok di mana-mana. 

Sungai ini mengingatkan Tono pada sungai di kampung halamannya, sungai yang menyimpan banyak kenangan bagi Tono. Semasa kecil dulu, dia bersama teman-temannya, termasuk Nana, kerap menghabiskan waktu hingga sore hari di sana, sebelum akhirnya sungai itu jadi bagian dari budaya setempat, hingga penuh dengan sampah. 

Ya, nyampah, kan, budaya kita? Valentine mah bukan. Mulai dari nyampah di sungai sampai nyampah di dunia maya. Saking mengakarnya budaya nyampah, kini nyampah bisa mengundang banyak subscriber dan duit.

Tidak masalah, zaman terus berubah. Kita tinggal menyesuaikan saja, kan? Walaupun itu konyol. 

Sungai itu juga membuat dia teringat dengan Nana. Ia baru wafat bulan kemarin akibat asma yang dideritanya. Nana menderita asma sejak kecil, makin sering kambuh ketika mulai ngampus. Ya, dia sedikit bandel. Disuruh pakai masker tidak mau, takut bibir seksinya tidak tampak.

Kini, kebiasan mengkritik Tono diwariskan ke adik Nana, si Nunu. Di tangan Nunu, kritikannya cukup mengguncang prinsip Tono sebagai perokok idealis. 

Kombinasi dari ilmu retorika yang dipelajari Nunu melalui internet, sambil menyeret Nana dengan menambahkan ramuan "perokok pasif lebih berisiko", cukup mengguncang iman Tono yang idealismenya masih ditingkat newbie. 

Sementara udara di kota sudah berhasil mengusir beberapa serangga, yang kelihatannya cukup waras untuk membedakan mana udara segar dan bukan. Tono hingga kini masih betah di sana. Katanya, udara segar tidak bisa dijadikan alat transaksi. Udara juga punya privilege. Sekotor apa pun, dia tetap bebas dari tuduhan sebagai sumber penyakit paru-paru.

Rongrongan racun sebelumnya kian mereda. Sebat dan komedi masa lalu Tono cukup membantu dalam hal ini. 

"Komedi? Duka kok komedi?"

Santai dulu, wahai pembaca yang naif. Selain karena ini hanyalah fiksi, kita sebenarnya sering menertawai sesuatu yang sebenarnya adalah duka bagi yang lain. Hanya saja, ketika duka itu menghampiri kita, tidak semuanya, bahkan jarang di antara kita mampu melihat humor yang disuguhkan di dalamnya. 

Kesedihan yang mendalam mengaburkan selera humor. Kecuali kau punya kadar ketidakwarasan yang cukup. Kusarankan fermentasi anggur sebagai alternatif, sangat membantu dalam hal ini.

Terpaut

Senyuman palsu Torik masih setia menemani. Selain penambah daya tarik, ini juga semacam lifehack untuk mengecoh jiwanya. Seperti kafein yang mengecoh otak, seakan-akan energinya masih banyak, padahal nihil.

Torik bukan sosok asing bagi pelanggan setia alat transportasi umum. Walau tidak begitu dihiraukan oleh mereka, bahkan Torik pun tidak begitu peduli dengan mereka. Di mata Torik, mereka adalah objek mekanik yang mengikuti apa yang diprogram sejak dini, termasuk memberi bayaran pada pengamen seperti Torik.

Objek mekanik yang berjalan sesuai dengan perannya masing-masing, untuk mempertahankan keberadaan industri raksasa yang menargetkan keuntungan sebanyak mungkin. Kurang lebih begitu cara Torik mendefinisikan elemen penting dari sumber penghasilannya. 

Torik bagai Tan Malaka dalam wujud pengamen. Dari bus kota ke bus kota, dengan dialektika antara gitar sebagai materi dan nyanyian sebagai ide, yang berlandaskan logika sederhana bahwa pengamen akan pergi dengan sendirinya jika diberi uang. Sambil sedikit menyisipkan sarkasme ke dalam tiap lirik lagunya, berusaha menanamkan bibit cinta yang akan tumbuh dan menjalar seiring waktu. 

Saking ngefansnya dia dengan Tan Malaka, dia berencana meninggalkan ibu kota esok hari. Berkelana, menjadi bujang, dan hidup sederhana sambil menyebarkan bibit cinta yang makin hari makin sulit ditemukan. 

Torik juga tidak memiliki alasan lagi untuk tinggal di situ. Rumahnya, satu-satunya peninggalan orang tuanya yang sudah tiada, telah digusur oleh pemda setempat. 

Untungnya dia tipe lelaki yang tidak mudah larut dalam kesedihan. Justru kejadian itu makin meyakinkan dia untuk hidup dengan jalan hidup sang bapak republik; berkelana, berjuang, dan, yang terpenting, bujang elegan. 

Malam

Singkat cerita, hari sudah malam. Lebih jelasnya, menjelang malam. Malam ataupun menjelang malam, keduanya adalah sasaran empuk untuk difitnah. 

Entah berapa banyak cerita seram yang dikaitkan dengan kehadiran mereka berdua. Ini sebenarnya cara efektif lainnya untuk menertibkan anak, yang makin tergantikan posisinya oleh kuota dan situs porno. Tapi pandangan ini meluas hingga ke ranah warna, di mana hitam selalu saja dihitamkan, sepi dan kesepian, dan hutan rimba yang mematikan. 

Sempat terlintas dalam lamunan Tono yang gemar membaca pseudo-science. Apakah dalam Parallel Universe mereka menakuti anak-anak mereka dengan gambaran kota besar dan hukum rimbanya? Kedengaran cukup menarik bagi Tono. Mengingat hukum rimba sudah diadopsi di kota besar, bersamaan dengan berkurangnya keberadaan hutan rimba di berbagai daerah. 

Tono juga teringat pada ungkapan yang menganggap bahwa hutan pun memiliki ruh. Mungkin hutan rimba yang dibasmi menjelma menjadi kota besar dan segala polusinya. Ingatannya berinkarnasi ke dalam pranata-pranata modern, terbawa pula hukum rimba yang menjadi ciri khasnya dulu. 

Hutan rimba dan kota besar bisa juga diibaratkan dengan Barat dan Timur di abad pertengahan. Seperti bertukar nasib. Timur begitu jaya dengan peradabannya dan kaum intelektualnya kala itu, sedangkan sepenggal dataran yang disebut Eropa dulu bagai hutan rimba yang penuh dengan penyakit dan kelompok fanatik. Kini Asia bagaikan kota besar yang bertukar nasib dengan hutan rimba di barat. 

Malam ini Tono tidur lebih awal. Pakaiannya sudah ia siapkan sejak pagi sebelum berangkat kerja. Isu PHK sudah menyebar sebulan sebelumnya. Ia sadar diri, karyawan seberisik dia mana mungkin selamat dari PHK. 

Ini yang kedua kali dia ditimpa nasib yang sama. Sebelumnya ia bekerja cukup lama di sebuah pertambangan, sampai nasib buruknya tiba. Berbagai usaha telah ditempuh bersama rekan-rekannya, mengajukan tuntutan sesuai jalur, hingga berkemah berminggu-minggu di depan istana negara. 

Hasilnya tidak nihil. Mereka diberi respons yang cukup membekas di hati dan wajah, diusir dengan paksa. 

Pulang

Suasana di stasiun kereta seakan-akan bekerja sama dengan Tono, sepi seperti yang diharapkan. Dia rela berangkat pagi demi menikmati kesunyian di stasiun kereta. Apalagi ini hari raya, kesempatan emas rasanya.

Tono jadi pecandu sepi sejak keramaian jadi makanan pokok. Ibarat sebat, walau hanya selingan antara makan dan minum, rasanya tetap hampa tanpanya.

Tapi dia bukan introver. Semuanya murni hasil dari pertarungan antara nafsu dan akal sehat. Tono mesti sungkem pada iblis jikalau sempat. Tanpa cobaannya, dia pasti masih sama dengan manusia manja bermental lemah pada umumnya. 

Pengalaman membuat dia berkawan dengan sepi. Sebelumnya, sepi selalu dianggapnya sebuah sarang bagi mereka yang kesepian, hingga dia sadar bahwa dia mengikuti keramaian hanya karena dia lemah. Sama halnya dengan cara dia memandang malam dengan pandangan penuh curiga, dan hal-hal lain yang bermandikan stigma negatif.

Tapi tidak bisa dimungkiri bahwa kehadiran orang lain juga diperlukan. Tapi harus lebih selektif, mengingat pemanis buatan kini lebih dominan daripada pemanis alami. 

Saat-saat terakhir sebelum dia beranjak diiringi dengan suara cempreng pengamen jalanan. Lantunan marjinal mengingatkan dia pada masa penuh gairahnya. Idealismenya yang mengambang mulai menancap kembali ke pijakannya. Beragam ide pun mulai tumbuh di ladang kering dalam kepalanya. 

Pengamen itu sendiri sama sekali tak berniat untuk menginspirasi seseorang. Iramanya penuh harap, bernada asyik, tapi menyiratkan rasa sakit yang menimbun. Sesuatu yang disadari dan merangsang bagi Tono, tapi tidak oleh sang pengamen. 

Perihal seperti apa isi hati Torik yang sesungguhnya, hingga nyanyiannya mampu menginspirasi Tono, masih menjadi misteri. Mungkin liriknya yang provokatif, atau mungkin juga Tono tidak termasuk dalam definisi Torik tentang objek mekanik penyembah kertas.

Akhir cerita, hidup terus berjalan, komedi dan duka masih saling beradu. Keduanya terus bermain dengan alur yang sama. Akhir bahagia pun belum juga ditemukan, sama saja dengan kafein, memberi rangsangan palsu pada reseptor. Maka dari itu, mohon biasakanlah untuk tidak mengharapkan akhir bahagia.