Aku menghabiskan seluruh hidupku untuk merenungkan beberapa pertanyaan: dari mana kita berasal? Apa tujuan hidup kita? Apa yang akan terjadi saat kita mati?

Kalimat yang diucapkan oleh sosok Peter Weyland (Guy Pearce) di atas membuat saya tertarik untuk kembali mengulik film yang dirilis pada 2012 tersebut. Prometheus sendiri adalah prekuel bagi film fiksi ilmiah fenomenal yang disutradai oleh Ridley Scott pada akhir 70-an, Alien.

Namun, walau kembali disutradarai oleh Scott, Prometheus tidak hanya berfokus tentang bagaimana sosok Xenomorph bisa tercipta. 

Lebih dari sekadar prekuel Alien, film ini juga turut menceritakan kisah asal mula lainnya, sebuah kisah yang membangkitkan gairah tentang pencarian kebenaran—baik ilmiah maupun spiritual—tentang dari mana sosok manusia berasal.

Seperti yang telah diketahui, sejarah tentang penciptaan umat manusia adalah isu yang terus diperdebatkan hingga saat ini. Sepanjang sejarah, asal-usul umat manusia telah terpisah ke dalam dua blok besar: kreasionisme dan evolusionisme.

Pandangan kreasionisme, sebuah teori yang telah dijelaskan dalam agama-agama Abrahamik, percaya kalau seluruh hal di dalam jagat raya dibuat oleh Tuhan dari ketiadaan (Creation ex nihilo).

Di sisi lain, teori evolusi mengeklaim kalau semua organisme di bumi yang ada hingga saat ini, termasuk Homo sapiens (manusia), berasal dari makhluk bersel satu yang telah berevolusi selama jutaan tahun.

Berdasarkan pandangan ini, kaum evolusionis menolak doktrin agama yang menyebutkan kalau manusia diciptakan secara tiba-tiba oleh sosok adikodrati lalu dikirim ke bumi.

Di tengah konflik dialektis tersebut, Prometheus hadir dan mencoba menengahi pertanyaan abadi tersebut. Namun dalam kasus ini, Promotheus tidak memakai salah satu kepercayaan tersebut.

Uniknya, film ini memakai sintesis dari dua keyakinan tersebut, yakni ancient aliens. Ancient aliens (antariksawan kuno) atau ancient astronauts adalah sebuah gagasan yang populer pada akhir 60-an lewat buku Chariots of the Gods? yang dibuat oleh penulis asal Swiss, Erich von Daniken

Ridley Scott memang sutradara yang unik dan selalu menyisipkan unsur filsafat dalam film-filmnya. Namun, siapa sangka kalau ia akan memasukkan pseudosains ke dalam film sci-fi ambisiusnya tersebut.

Lewat Prometheus, Scott sepenuhnya merangkul ketegangan antara sains dan agama, maupun bentrokan ide di antara para penganut Darwinisme, kreasionisme, bahkan intelligent design untuk menciptakan suatu pandangan yang "segar."

Teori antariksawan kuno

Jika ada pencarian fakta tentang asal mula kehidupan, maka hal itu akan dianggap sebagai pencarian Tuhan, terutama jika "Tuhan" dipahami dan dianggap sebagai sosok "pencipta." 

Jika pencarian lewat sains bertujuan untuk mencari tahu dari mana kita berasal, maka menemukan jawabannya tidak jauh berbeda dari menemukan sebuah agama baru. Tidak heran jika gagasan antariksawan kuno dari von Daniken menjadi hit dengan cepat, terutama setelah memperkenalkannya lewat buku Chariots of the Gods?

Dalam buku itu, von Daniken menyatakan kalau beberapa monumen dunia kuno—seperti piramida Giza, patung-patung di Pulau Paskah, dan Stonehenge di Inggris—terlalu rumit untuk dibuat oleh umat manusia yang hidup pada masa itu.

Sebaliknya, dia percaya kalau makhluk ekstraterestrial telah membantu manusia untuk membangun bangunan-bangunan tersebut. Tentu saja, teori ini bukan konsensus umum dan dianggap layaknya teori-teori "tongkrongan" yang ditolak oleh para ilmuwan arus utama. 

Jadi, bayangkan betapa terkejutnya kita saat melihat seorang sutradara seperti Ridley Scott mengambil referensi dari teori ini. Kita sendiri tahu kalau sosok “Insinyur” yang ingin ditemui oleh kru kapal Prometheus di sepanjang film sangat mirip dengan sosok Anunnaki.

Seperti dilansir dari Encyclopædia Britannica, Anunnaki adalah dewa langit yang dipercayai oleh masyarakat Peradaban Mesopotamia. Sosok mereka digambarkan layaknya Insinyur yang tingginya mencapai dua setengah sampai tiga meter. 

Diyakini juga secara luas kalau Annunaki berasal dari “bintang-bintang,” yang nantinya akan dieksplorasi oleh Scott dalam Prometheus.

Prometheus dan pencarian sosok Insinyur yang menciptakan manusia

Jika bicara soal film fiksi ilmiah terbaik yang menceritakan perjalanan ke luar angkasa, kita pasti akan teringat oleh masterpiece dari mendiang Stanley Kubrick yang dirilis pada 1968, 2001: Space Odyssey.

Laman berita The Conversation bahkan menyatakan kalau 2001: Space Odyssey berhasil menyajikan dengan apik bagaimana eksplorasi luar angkasa yang futuristik, lengkap dengan konflik antara manusia dengan kecerdasan buatan di dalamnya.

Walau begitu, 2001: Space Odyssey tidak menggambarkan sosok alien secara gamblang dan tidak membahas pencarian akan sosok pencipta di dalamnya, alih-alih hanya berfokus pada lompatan evolusi manusia yang akan terjadi di masa depan. Prometheus, sebaliknya, memiliki semua elemen tersebut di dalamnya.

Wajar saja kalau film ini mengundang kontroversi, khususnya karena ia telah mengambil tema-tema besar seperti penciptaan manusia dan mengajukan pertanyaan seperti “Siapakah kita, siapakah yang menciptakan kita, dan mengapa sosok pencipta meninggalkan kita?”

Dalam sebuah wawancara dengan Bleeding Cool, Damon Lindelof—yang membuat naskah Prometheus bersama dengan Scott—mengatakan kalau konsep film ini berfokus pada asal-usul spesies manusia dan menjelaskan mengapa kita memiliki sosok “Insinyur” yang berbagi DNA dengan kita.

Namun, bukan berarti kalau Prometheus menjadi semacam alegori anti-sains yang pro-kreasionis. Seperti yang sudah dijelaskan di poin-poin sebelumnya, Scott sendiri menyatakan kalau ia lebih percaya pada kemungkinan penciptaan manusia oleh sosok ekstraterestrial daripada Tuhan.

Dalam Prometheus, kita tahu kalau arkeolog Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) percaya kalau ada sosok Insinyur yang telah menciptakan manusia di suatu tempat di alam semesta. 

Shaw dan rekannya, Charlie Holloway (Logan Marshall-Green), percaya kalau Insinyur telah mengundang umat manusia untuk menemukan mereka lewat bukti arkeologi yang ditemukan dalam lukisan yang serupa di berbagai peradaban yang berbeda.

Ekspedisi intergalaksi untuk menyelidiki sosok Insinyur pun dibiayai penuh oleh Weyland Industries, di mana pendirinya, Peter Weyland, juga berbagi keinginan serupa untuk bertemu dengan sosok penciptanya.

Untuk itu, Weyland membuat sebuah pesawat luar angkasa bernama Prometheus—sosok Titan dalam mitologi Yunani yang memiliki kaitan dengan penciptaan manusia—ke planet yang telah diidentifikasi oleh Shaw dan Holloway.

Di pertengahan film, kita kemudian diberi tahu kalau sosok "AI" humanoid buatan Weyland, David, yang awalnya ditugaskan untuk membantu mereka, mulai memiliki ketertarikannya sendiri akan sosok Insinyur yang sedang mereka cari.

Saat sedang meneliti planet yang mereka datangi, David berhasil menemukan “senjata biologis” berbentuk cairan yang tampaknya telah ditinggalkan oleh para Insinyur. Dan layaknya pencetus teori evolusi modern, Charles Darwin, David mengetahui kalau cairan yang “kecil” ini dapat menciptakan makhluk yang lebih “besar.”

Perenungannya saat itu mirip dengan perenungan Darwin dalam The Origin of Species bahwa “Dari awal yang sederhana, bentuk tanpa akhir yang paling indah dan yang paling menakjubkan adalah evolusi”.

Saat berhasil mengetahuinya, David mengatakan, “Big things have small beginnings,” sebuah kutipan yang ia dapat dari salah satu film favoritnya, Lawrence of Arabia yang ia tonton di awal film ini.

Namun, David berbeda dari Darwin, karena kecerdasan David yang melebihi pemahaman Weyland—ditambah dengan penemuannya yang luar biasa—telah memberinya ide yang bahkan lebih kompleks dari pemikiran para Insinyur sendiri.

Setelah menemukannya, David pun memasukkan cairan itu ke dalam minuman Holloway dalam upaya untuk menciptakan dan mengedit “proses kehidupannya” sendiri. 

Perlu kita pahami di sini kalau adegan tersebut tidak menggambarkan sisi jahat David, melainkan lebih menjelaskan sisi “kekanak-kanakannya" yang ingin tahu akan dunia baru di sekitarnya.

Kita tahu kalau segala hal yang dilakukannya di sepanjang film bukan karena alasan pribadi; itu hanyalah bentuk dari evolusi. Bagaimanapun, Prometheus adalah film tentang kekecewaan dari “anak” kepada “ayah,” dari sosok “ciptaan” terhadap “Sang Pencipta,” dari David kepada Weyland.

Lindelof sendiri mengeklaim kalau tujuan David adalah untuk mengungkapkan kebodohan manusia, khususnya untuk menunjukkan kalau ia lebih pintar dari ayahnya. Pada akhirnya, sosok David sebagai anti-hero yang kompleks hanya bersanding dengan Shaw sebagai sosok protagonis di penghujung cerita.

Meskipun otak dan ototnya telah membawa kita menaiki puncak dan menuruni lembah plot dalam Prometheus, Shaw—seperti kita yang menonton film ini—pada akhirnya hanya terpaku lalu mencoba mencari jawabannya sendiri dan mendatangi planet asal Insinyur bersama David.

Dalam hal ini, Prometheus melakukan apa yang harus dilakukan oleh semua fiksi ilmiah yang baik: ia menggunakan konsep-konsep ilmiah modern, terutama karena memakai teori yang berada di luar arus utama (antariksawan kuno) untuk memancing pemikiran tentang asal mula dan masa depan manusia.

Oleh karena itu, Prometheus mungkin dapat digambarkan sebagai film yang suram, nihilistik, atau bahkan kejam. 

Namun, jangan pernah menganggap kalau Prometheus adalah film yang bermain aman. Terlepas dari plot yang dipaksakan untuk “terikat” dengan Alien, Prometheus adalah salah satu film fiksi ilmiah yang paling orisinal, unik, dan provokatif yang pernah dibuat.

Prometheus juga sengaja tidak menjawab semua pertanyaan besar di dalamnya karena jawabannya belum tersedia, seperti jika manusia diciptakan dan berbagi DNA dengan para Insinyur, lalu siapakah sosok yang telah menciptakan Insinyur? 

Seperti yang telah dijelaskan di poin awal, pencarian akan asal-usul manusia layaknya pencarian akan agama baru. Bayangkan, jika teori evolusi saja dapat "menggoyang" tatanan agama lama, maka teori antariksawan kuno, jika terbukti, akan meruntuhkan seluruh tatanan agama yang sudah ada selama ribuan tahun.

Terlepas dari berbagai pertanyaan dan spekulasi di atas, pada akhirnya kita—umat manusialah yang harus mencari jawabannya di masa depan dan membuktikan kebenarannya bersama-sama.