Korea Utara, negara yang akhir-akhir ini menyita perhatian dunia dengan program rudal balistik jarak jauhnya yang membuat negara tetangga seperti Jepang dan Korea Selatan kelabakan akibat dari ulah Korut yang dianggap melakukan "aksi provokasi" setiap kali Korut melakukan ujicoba senjata pamungkas tersebut. Program rudal balistik Korut yang telah berjalan semenjak medio 1970an dan masih terus berkembang hingga saat ini, menunjukkan keseriusan negara tersebut dalam prospek rudal balistik sebagai senjata pamungkas dalam peperangan terbuka melawan Korea Selatan hingga sebagai sarana pengantar hulu ledak nuklir ke Amerika Serikat.

Korut, yang sejak dahulu terkenal sebagai negara yang menutup diri dari pergaulan internasional, ternyata tidak se-ansos yang dikira khalayak umum selama ini. Walaupun Ideologi "Juche" mereka menekankan berat kepada prinsip kemandirian dalam semua sendi bernegara dan berbangsa, akan tetapi negara penyendiri tersebut tidak ragu-ragu dan nampak proaktif dalam mencari bantuan dan dukungan dari luar negeri, demi membantu melancarkan proses pembangunan secara menyeluruh dan perkembangan riset teknologi disana. 

Pada era akhir 1960an, di masa awal berjalannya program rudal balistik, Korut yang menyadari butuh bantuan dari negara yang lebih berpengalaman dalam merancang dan membangun rudal balistik, aktif mendekati Uni Soviet dan China. Pyongyang yang tak lama kemudian dikecewakan oleh Moskow karena tidak berhasil mencapai kesepakatan transaksi penjualan rudal balistik Scud-B ke Korut, mengalihkan perhatian ke China yang belum lama berhasil meledakkan bom nuklir pertamanya. China yang mulai menggeber program rudal balistik untuk menjadi sarana pengantar hulu ledak nuklir mereka, didekati oleh Korut yang pada saat yang sama membutuhkan partner dalam membantu usaha mereka memulai program riset dan pengembangan rudal balistik.

Alhasil pada 1971 Beijing dan Pyongyang menandatangani kontrak kerjasama riset dan pengembangan rudal balistik bersama. China menggelar program rudal balistik DF-61, rudal balistik jarak pendek yang direncanakan memiliki jarak jangkau 600 km dan mampu menggotong hulu ledak hingga mencapai 1 ton. Sebagai bagian dari Kerjasama, Korut mengirimkan para insinyur dan ilmuwan untuk belajar dasar-dasar riset dan pengembangan rudal balistik sekaligus merintis industri rudal balistik lokal untuk jangka panjang. Program berjalan sangat lambat dikarenakan gejolak politik dalam negeri China yang dilanda huru hara revolusi kebudayaan. Alhasil pada tahun 1978 program DF-61 dibatalkan sebelum satu rudalpun selesai dirakit dan siap diluncurkan.

Tak lama kemudian, pada tahun 1980 pecah perang besar ribuan kilometer jauhnya dari Pyongyang. Irak menyerbu Iran yang pada saat itu masih dilanda keributan akibat revolusi yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini setahun sebelumnya. Iran yang kelabakan karena susunan angkatan bersenjata masih kacau balau dan peralatan perang banyak yang mangkrak karena dihentikan pasokan suku cadang dari negara-negara barat, dengan cepat mengontak negara-negara lain untuk bernegosiasi pembelian senjata, suku cadang, hingga personel militer bantuan. Diberitakan pada bulan Oktober 1980 bahwa Iran telah mengontak Pyongyang untuk melakukan pembelian peralatan medis dan peluru meriam artileri, metode pengiriman menggunakan 3 unit pesawat Boeing 747 milik Iran.

Dengan keberadaan roket artileri jarak jauh dan rudal balistik seperti FROG-7 dan Scud-B di tangan Irak, Iran menyadari bahwa mereka harus bergerak cepat dalam membangun industri roket dan rudal mandiri. Dengan Uni Soviet yang mendukung Irak dan mengirimkan ratusan Scud kapanpun Irak memesan, Iran mau tidak mau harus mengandalkan negara pengguna Scud yang lain. Keterbatasan Infrastruktur dan sumberdaya untuk memulai program industri rudal balistik lokal, memaksa Iran untuk bertindak secepat mungkin, hal ini diperparah dengan roket FROG dan rudal Scud milik Irak yang mulai menghujani kota-kota di wilayah Iran sebelah barat. Iran mulai mendekati Libya, dan Korut untuk membicarakan prospek mengenai penjualan Rudal Balistik.

Pada bulan oktober 1983, Perdana Menteri Iran Ruhollah Musavi dan Menteri Pertahanan Mohammad Salimi terbang ke Pyongyang untuk membahas prospek penjualan Rudal Balistik ke Iran. Korut yang pada saat itu sedang membutuhkan dana untuk terus melanjutkan program riset dan pengembangan rudal balistik berbasis Scud-B yang dibeli dari Mesir, menyetujui proposal Iran dan membicarakan tentang prospek kerja-sama lebih jauh lagi. Pertemuan yang berlangsung selama 3 hari menghasilkan kesepakatan bahwa Iran akan membantu korut secara finansial dalam program rudal balistik, dengan imbal balik berupa Iran diperbolehkan membeli rudal-rudal korut pada saat rudal korut tersedia untuk dijual ke pasar internasional.

Tahun berikutnya antara bulan April hingga Novermber 1984, Korut sukses melakukan ujicoba rudal balistik Scud-B versi lokal yang dinamai "Hwasong-5". Tampaknya dengan dana bantuan dari Iran, proses riset dan pengembangan rudal Hwasong-5 menjadi jauh lebih cepat. Bahkan diduga atase militer dari Iran hadir pada saat ujicoba perdana rudal Hwasong-5. Proses negosiasi untuk prospek pembelian rudal-rudal Hwasong yang masih gress ke Iran langsung dijalankan, hingga pada awal 1985 kesepakatan transaksi senilai 500 juta dolar AS ditandatangani antara Pyongyang dan Tehran untuk penjualan dan pengiriman ratusan rudal Hwasong-5 dari Korut ke Iran. 

Sebagai imbalan, maka pada bulan Desember 1986 Iran melakukan restrukturisasi atas hutang luar negeri Korut ke Iran senilai 170 juta dollar AS. Metode pelunasan hutang berupa Diskon 70% terhadap semua barang-barang yang diimport dari Pyongyang, sehingga Korut menerima pembayaran sebesar 30% dari harga awal dikarenakan 70% terpakai untuk melunasi hutang ke Iran. Tahun-tahun berikutnya diisi dengan berbagai transaksi penjualan dan pengiriman rudal-rudal Hwasong-5 dan rudal antikapal buatan China ke Iran bernilai milyaran dolar, berikut bantuan berbagai macam sumber daya ke Iran untuk membantu merintis industri rudal balistik lokal. Maka Lahirlah Shahab-1 yang merupakan versi Iran dari Hwasong-5 pada akhir 1987. Terbukalah pasar baru bagi Korut untuk menjual rudal-rudal Balistik produksinya, yaitu Timur Tengah.

Menyusul Iran, negara-negara seperti Syria, Mesir, Libya dan Uni Emirat Arab masing-masing bertransaksi dengan Korut untuk ekspor rudal-rudal Hwasong-5 pada tahun 1987 dan seterusnya. Syria tercatat pada 1992 merintis industri rudal balistik sendiri dengan bantuan Libya, Korut dan China. Saat ini Syria tercatat masih mengoperasikan rudal-rudal Hwasong baik buatan Korut maupun buatan sendiri, dan digunakan dalam perang sipil yang masih bergejolak disana. Iran dengan bantuan Korea Utara mulai memproduksi rudal Shahab-2 sejak 1991, Shahab-2 sendiri berbasis dari rudal Hwasong-6 Korut yang diimpor ke Iran mulai pada tahun 1989.

Iran sejak 1988 mulai beralih dari membeli ke memproduksi sendiri setelah mampu merintis industri rudal balistik sendiri dengan bantuan Korut. Korut yang ketiban rezeki nomplok dengan segudang transaksi dengan Iran dan negara-negara timteng lainnya mampu merintis program rudal balistik baru, yang direncanakan menjadi versi yang lebih besar daripada rudal Scud biasa. Sementara pada saat yang sama, Korut masih menyempurnakan rudal Hwasong-6 sebelum dianggap layak untuk diproduksi dan dijual ke pasar internasional. Kemajuan pesat dalam program rudal balistik Korut memang tidak dapat dilepaskan dari Iran yang menjadi penyokong dana utama bagi Pyongyang, sampai pada tahap mampu mengerjakan dua proyek sekaligus, dan dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat. 

Maka pada tahun 1990-1991 lahirlah Rodong-1 dan Shahab-3, dua rudal balistik jarak menengah (MRBM) yang merupakan kembar identik ini adalah puncak dari kerjasama antara Iran dan Korut dalam hal pengembangan bersama rudal balistik. Rodong-1 dan Shahab-3 adalah MRBM dengan jarak jangkau mencapai 1300 km dan mampu membawa hulu ledak sampai 1 ton. Rodong-1 di Korut menjadi rudal balistik pertama yang dianggap sebagai ancaman serius di kawasan asia timur karena mampu menggotong hulu ledak nuklir dengan jangkauan jauh, plus Rodong-1 menjadi benchmark pengembangan rudal jarak jauh Taepodong-1 dan Taepodong-2. Sementara di Iran, Shahab-3 menjadi kartu truf Iran dalam diplomasi di kawasan regional timteng, dengan kemampuan menghantam sasaran sejauh Israel dan Turki. 

Korea Utara dan Iran sama-sama diuntungkan dari kerjasama pengembangan rudal balistik antar kedua negara. Korut yang mendapat dana besar dari Tehran mampu mengebut proses riset dan pengembangan rudal-rudal baru, hingga pada tahap mampu mengerjakan dua proyek sekaligus. Rodong-1 yang menjadi kartu truf dalam berdiplomasi dengan negara tetangga, juga menjadi benchmark pengembangan rudal balistik jarak jauh seperti Taepodong-1 dan Taepodong-2. Iran dengan Shahab-3 sebagai puncak dari kerjasama intensif dengan Korut, menjadi kunci diplomasi di kawasan timteng dengan kemampuan Iran untuk menghantam sasaran sejauh Israel, Turki dan Arab Saudi.

Referensi : 

  • Nayan, R. (1998). The missile development programme of Iran. Strategic Analysis, 22(6), pp.953-956.
  • Iran-North Korea-Syria Ballistic Missile and Nuclear Cooperation. (2017). [ebook] Washington DC: Congressional Research Service, pp.3-9.
  • Iran Missile Chronology. (2011). [ebook] Monterey, CA: NTI, pp.374-492.
  • Fitzpatrick, M. (2006). Iran and North Korea: The proliferation Nexus. Survival, 48(1), pp.61-80.