Menuju DKI Jakarta lebih baik ialah hal mendasar yang telah dibangun pada masing-masing pasangan cagub-cawagub yang akan berkontestasi di pesta demokrasi Pilkada 2017.

Dengan berniat ingin mengubah Jakarta menjadi lebih baik dari sebelumnya, tentunya semua pasangan akan menawarkan program kerja (proker) unggulan kepada masyarakat untuk Jakarta 5 tahun ke depan, sebagai bahan pertimbangan dalam memilih calon yang ideal. Sebab, proker adalah miniatur kecil untuk dapat dikembangkan ketika terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur.

Proker Kesehatan Agus-Sylvi

Merujuk kepada buku panduan program kerja yang dimiliki oleh Cagub-Cawagub Agus-Sylvi dan Anies-Sandi, maka proker yang ditawarkan Agus-Sylvi ditulis pada halaman 24, Bab ke-4, nomor ke-4, poin C yang berbunyi: “Peningkatan kualitas sarana dan pra sarana kesehatan (RS, Puskesmas, Posyandu)” dan “Peningkatan kualitas tenaga kesehatan”, dinilai tidak relevan dan jauh dari solusi yang diharapkan.

Hal itu mengingat bahwa ruang lingkup kesehatan tidak bisa dipandang dari peningkatan kualitas sarana dan prasarana saja, seolah-olah program kerja ini layaknya sebagai wacana belaka tanpa penjelasan secara rinci.

Dalam merencanakan sebuah program kerja, Agus-Sylvi terlihat tidak peduli terhadap aspek kesehatan masyarakat, padahal kesehatan SDM menjadi pilar utama dalam membangun Jakarta. Bagaimana tidak, Jakarta dihuni oleh penyandang penyakit terbanyak. Tetapi melihat penjelasan sederhana Agus-Sylvi dalam aspek kesehatan, maka hasil yang akan diraih pun akan sederhana, tidak mencapai nilai fantastis.

Masih seputar kesehatan, Agus-Sylvi belum membahas lebih jauh tentang teknis, fasilitas, tenaga kerja kesehatan, dan lain-lain. Sebagaimana mestinya Cagub-Cawagub lain yang telah menjelaskan dengan detail tentang proker kesehatan karena memang sebagai mantan pemimpin DKI Jakarta sebelumnya.

Proker Kesehatan Anies-Sylvi

Melihat proker yang ditawarkan Anies-Sandi pada sub judul Pembangunan SDM  menyeluruh, pembangunan manusia, bahwa Anies-Sandi mengolaborasikan pendidikan dan kesehatan di mana tidak dijelaskan secara khusus baik aspek pendidikan maupun kesehatan.

Proker kesehatan pada pasangan calon ini sepertinya juga tidak layak dijadikan referensi ideal, karena tidak ada sesuatu yang baru dibangun atau hanya mengadopsi dari proker yang sudah berjalan di masa kepemimpinan Jakarta sebelumnya, seperti KJP dan KJS.

Anies-Sandi terkesan hanya mengembangkan proker yang sudah berjalan di pemerintahan sebelumnya. Proker aspek kesehatan milik pasangan cagub-cawagub ini relatif tidak terarah dan bertele-tele.

Pasalnya, pada penjelasan poin ini, Anies-Sandi bermaksud membangun SDM dengan pendidikan dan kesehatan, akan tetapi penjelasan tersebut malahan saling tumpang tindih, karena menjelaskan pendidikan dan kesehatan dalam satu bab yang berakibat fatal dan menunjukan ketidaksiapan memimpin DKI Jakarta.

Setelah membandingkan masing-masing program kerja dari dua pasangan cagub-cawagub, bahwa pasangan Agus-Sylvi dan Anies-Sandi tidak serius berkeinginan Jakarta lebih sehat dan tidak memiliki program pasti soal kesehatan, karena hanya menjelaskan secara implisit, tidak jelas, tidak terstruktur rapih dan setengah-tengah, sehingga dianggap kedua pasangan ini menghiraukan kesehatan warga Jakarta pada periode 5 tahun ke depan jika terpilih.