Produk gagal atau dalam bahasa Inggrisnya disebut product failure menurut kamus bisnis merupakan produk yang gagal mencapai tujuan yang diharapkan. Produk gagal dapat berupa produk yang gagal mencapai target penjualan yang diharapkan, gagal diterima oleh pasar, atau bahkan gagal menjalankan fungsinya dengan aman.

Seperti halnya rumah, ia bisa menjadi produk yang gagal bila tidak menjalankan fungsinya dengan aman dan tentu saja nyaman untuk menempatinya. Rumah BTN yang kubeli (baca kukredit) yang harusnya kusebut rumah BNI karena melalui bank BNI akad kreditnya, bukan lewat bank BTN mungkin rumah ini belum mampu menjalankan fungsinya dengan baik dan benar.

Entahlah, apa karena gempa yang terjadi kemarin di Sulawesi Barat tepatnya di laut Malunda, Majene. Gempa besar yang terjadi dua kali. Awalnya, 14 Januari 2021 pada pukul 14,35 WITA yang berkekuatan 5,9 SR. Kemudian keesokan harinya, 15 Januari terjadi gempa susulan dengan magnito 6,2 pada pukul 02. 28 WITA (baca tulisanku sebelumnya; Apa kabar kamu, sayang?).

Rumah Sedikit Semen (RSS)

Rumahku merupakan rumah RS atau rumah sederhana, RSS malah. RSS itu singkatan dari rumah sangat sederhana. Ya, rumah itu memang sangat sederhana karena berukuran simpel. RSS sendiri bisa juga disingkat rumah sedikit semen.

Yah, itu mungkin yang paling tepat, rumah sedikit semen (RSS). Bagaimana tidak, karena semennya sedikit atau karena gempa dahsyat yang melanda Mamuju, Sulawesi Barat sehingga banyak rumah di kawasan ini yang retak. Mulai dari dinding, tembok, tegel yang naik, sampai pada kuda-kuda, atau segitiga rumah yang hancur.

Seperti rumahku di Mamuju ini yang dari depan memang terlihat tidak apa-apa. Namun, ketika aku datang melihatnya karena penyewanya sempat berkata tidak apa-apa lalu mendokumentasikannya sebagian sebelum pergi mengungsi, aku melihat secara langsung banyak yang retak. 

Aku datang  melihatnya karena katanya ada penyurvei dari pemerintah yang akan datang di lokasi melihat kondisi rumah untuk dicek apakah rumah atau bangunan itu layak diberikan bantuan.

Ngomong – ngomong tentang bantuan banyak sekali pesan hoaks yang diteruskan berkali-kali di grup What’up App (WA). Katanya; pemerintah sudah datang meninjau lokasi rumah yang terdampak gempa, bantuan sudah turun, pemilik rumah harus melapor paling lambat besok di kantor kelurahan dan lain sebagainya.

Gara-gara chat di grup yang katanya harus datang ke kantor kelurahan paling lambat besok, aku langsung memesan mobil sewa ke Mamuju. Aku takut kalau terlambat melapor. Walaupun sebelumnya aku juga sudah melapor kerusakan rumah via aplikasi yang dikelola oleh kepala lingkungan.

Aku mengajak tetanggaku, Farah ke sana biar ada yang menemaniku. Bukan apa-apa, kata adik perempuanku, Ammoz, rumah yang ditinggal penyewa karena mengungsi hari kedua setelah gempa membuatnya berantakan. Ammoz sendiri akan ke sana bersama tetangga seorang laki-laki muda karena menggunakan motor.

Kami berangkat jam satu siang, lebih awal dua jam sebelum Ammoz berangkat. Dari Polewali Mandar menuju kota Mamuju, perjalanan kami tempuh sekitar kurang lebih empat jam. Kami tiba sekitar jam lima sore. Sedangkan Ammoz tiba sekitar pukul enam sore saat magrib tiba, hanya tiga jam di jalan.

Kami turun sekaligus menyambangi keluarga di sebuah perumahan yang awalan nama perumahannya “G”. Di sana, tidak banyak rumah yang terlihat rusak, hanya retak-retak sedikit. Kualitas bangunan rumah di sini memang bagus, dindingnya kuat dan kokoh. 

Rumah sepupu terlihat dindingnya bergeser sekitar beberapa inci, dan tembok belakangnya roboh. No wonder, tembok itu memang rapuh sejak gempa Palu 2018. Ketika gempa di Sulawesi Barat terjadi, tembok itu langsung roboh. Keluarga kami langsung menggantinya dengan memasang seng.

Kami bertukar cerita tentang berbagai hal, apalagi masalah gempa. Ammoz bilang, kuda-kuda rumaku rusak atau tumba layarnya dalam bahasa Mandarnya. Kata keluarga, mutu bangunan di  kota Mamuju ini sangat memprihatinkan banyak sekali bangunan yang rusak. 

Apalagi, ketika kena petir gempa. Katanya, gempa itu seperti petir di langit namun ia terjadi di bawah tanah. Belum lagi kantor gubernur kebanggan masyarakat Sulawesi Barat ikut ambruk.

Setelah makan malam di perumahan ini. Aku langsung memesan kendaraan online menuju rumahku di suatu perumahan bernama awalan “Z”. Ammoz sebenarnya menyarankan pagi hari saja kami ke sana, mengingat kemarin sewaktu ia ke sana melihat kondisi rumah, air ledengnya tidak jalan. Ia takut bila kondisi di perumahan itu tidak kondusif.

Tetapi, aku tetap nekat ke sana, yang penting kami melihat situasi dan kondisi dulu. Setibanya kami di sana, alhamdulillah, air dari perusahaan air minum (PAM) sudah jalan. Namun, hanya beberapa orang yang terlihat tinggal di lorong rumah ini. Sebagian pulang kampung, dan sebagiannya lagi masih mengungsi di tenda atau pulang kampung seperti penyewa rumahku.

Aku melihat kondisi rumahku yang dari luar terlihat biasa-biasa saja, namun di dalamnya tampak rapuh, banyak yang retak-retak walaupun rumah tetangga kami banyak juga yang lebih parah. Tapi, kami bersyukur sekaligus was-was menempati rumah itu.

Keesokan harinya, kami pergi ke kepala lingkungan, memastikan apakah berkas pelaporan  kami sudah diterima dengan baik. Alhmdulillah, ternyata sudah masuk di data dan sudah dilaporkan. Menurut kepala lingkungan, adanya pesan yang diteruskan dari data Excel tentang nama-nama yang mendapat bantuan itu belum valid dan belum ditanda-tangani oleh gubernur juga.

Lagipula kata tetangga dan keluarga yang kutemui mengatakan bahwa jikalau itu sudah resmi, kita berharap ada bantuan dari pemerintah tahap dua (2). Ah, semoga saja itu benar. 

Walau sempat pesimis juga karena katanya, jika pembangunan di Palu saja yang sudah dua tahun kena gempa itu belum final dan sebagian masyarakat Palu masih menunggu sumbangan, bantuan untuk rumahnya. Ah, sedihnya. Yah, mungkin benar kata orang-orang, semuanya untung-untungan asal jangan mau untung padahal buntung.

Tentang bantuan tunai dari pemerintah yang untuk;  rumah yang rusak ringan sebesar 10 juta, rusak sedang sebanyak 25 juta, dan rusak berat sejumlah 50 juta membuat beberapa orang ikut bersedih, ia sedih melihat pak Jokowi harus lebih banyak bekerja dan tentu saja mengutang.

Aku mendengar banyak sekali opini dari semua orang-orang tentang gempa. Termasuk dana gempa yang bejibun jumlanya dan rawan untuk dikorupsi. Sebagian dari kita entah pejabat sampai penjahat merasa telah berbuat banyak untuk gempa. Padahal, kita-kita inilah yang menciptakan gempa.

Gempa-gempa di mana

Apa sih gempa itu? 

Ia akan kuartikan sebagai sebuah goncangan. Ketika kita sebagai penikmat media sosial (sosial media) menciptakan goncangan karena menyebar berita hoaks. Kita menciptakan gempa ketika kita berbicara dengan keras membuat orang lain terganggu. 

Kita pencipta gempa ketika kita sebagai pembuat proyek tidak memberikan hasil yang baik pada penerima proyek tadi. Kita pencipta gempa ketika kita sebagai tukang rumah tidak membuat rumah yang baik.

Menurut tetangga di dekat rumahku; rumah-rumah di perumahan ini memang asal jadi, asal ada, asal-asalan. Entahlah, mungkin karena rumah bersubsidi atau apa. Rumah dibuat seenaknya. Buktinya, belum cukup  dua tahun, rumah sudah rusak, beberapa kuda-kuda rumah sudah rusak. Sampai ada tetangga yang anaknya terkena reruntuhan kuda-kuda rumah yang besinya hanya ditaruh saja kemudian disemen saja tanpa dikaitkan.

Pendapat serupa juga diungkapkan seorang tukang dari perumahan “M” jika perumahan yang ia kerjakan di perumahan itu besinya sampai dilas, sedangkan di perumahanku hanya dipasang-pasang saja. 

Sampai seorang ibu berujar padaku, apakah mereka tidak punya hati nurani dengan membuat rumah yang asal-asalan? Berapa nyawa yang akan kau buat melayang? Apa kita tidak takut akan pertanggung jawaban perbuatan kita nantinya?

Aku terhenyak, bukan hanya barang atau rumah yang menjadi produk gagal. Kitalah produk-produk gagal ini. Kitalah yang gagal tidak memberikan yang terbaik bagi sesama manusia. Kitalah yang gagal belajar jadi manusia dan mengajakan kemanusiaan pada manusia.