Sejumlah aktivis berkumpul di Resto Mr Pawon Jalan Banyu Urip Surabaya pada Minggu, 13 Januari 2019. Mereka menyebut diri aktivis Pro Demokrasi (ProDem). Kalangan aktivis itu pernah melawan rezim Orde Baru.  

"Kawan-kawan ini hadir atas dasar undangan panitia untuk mendeklarasikan ProDem Surabaya," kata satu peserta Sahat Aritonang.

Sahat mengaku terlibat di Arek Suroboyo Pro Reformasi (ASPR). Gerakan elemen yang kerap blusukan ke kampung-kampung di Surabaya.

“Dulu kita mendatangi warga dari rumah ke rumah untuk diajak demo menuntut Soeharto supaya mundur. Konsentrasinya di Kali Waron, Klampis, dan Manukan. Kalau tidak keliru, 25 kampung tempat kita blusukan," terangnya.

ASPR bersinergi dengan Arek Pro Reformasi (APR), yang berbasis di kampus-kampus di Surabaya. Kata Sahat, seperti ITS Surabaya, Unair Surabaya, Akademi Wartawan Surabaya (AWS), yang sekarang lebih dikenal Stikoasa-AWS, Universitas Putra Bangsa (UPB).

“Yang menarik itu, dari ITS. Kawan-kawan mahasiswa yang suka nongkrong di kantin. Makanya mereka yang tergabung sebagai elemen ProDem ini adalah kawan-kawan dari Penghuni Kantin ITS," lanjut Sahat.

Dalam gelaran deklarasi itu, ProDem menyebut diri organisasi rakyat yang sanggup mengelola kekuasaan. Bukan berarti tanpa sebab, mereka mempunyai kesejarahan panjang terhadap tanah air ini. 

Sejak 1980-an, Prodem sudah membawa hasil sangat berarti di kancah perpolitikan tanah air. Sehingga sudah saatnya mereka membangun organisasi. 

“Deklarasi ProDem Surabaya merupakan tindak lanjut dari deklarasi ProDem Jawa Timur yang sudah berlangsung 11 Februari 2018," tambah Ketua Panitia Antonius Sri Wibowo.

ProDem dibentuk untuk menyikapi situasi dan kondisi yang terjadi belakangan ini. Dua kubu yang terus berseteru. Satu sisi kubu mengklaim diri bela islam dan di sisi lain kubu kebinekaan.

“Melihat situasi seperti itu, maka itu kita harus percaya diri. Membangun kekuatan sendiri," lanjut Wowok, begitu bisa disapa.

“Sekalipun kita harus sadar diri bahwa itu bukan hal mudah. Kunci dari kekuatan sendiri adalah organisasi," tambahnya.

ProDem Surabaya digagas kalangan aktivis ketika reformasi 1998 berlangsung terdepan melawan rezim Orde Baru. Mereka berbasis di kampus dan kampung di Surabaya. Di kampus dikenal Arek Pro Reformasi. Sementara di kampung dikenal Arek Suroboyo Pro Reformasi.

Tuntutan Soeharto supaya mundur akhirnya berhasil. Meski tidak membawa perubahan cukup mencolok dalam tatanan politik, hukum, dan sosial bangsa ini. Politik menghasilkan pemimpin masih kurang berpihak kepada rakyat. Hukum belum sampai pada berkeadilan.

Kehidupan sosial apalagi. Kecenderungan bangsa ini untuk hidup individualis semakin menggejala.

“Justru situasi dan kondisi yang demikian ini. Dua kubu yang sedang berseteru itu kerap memain-mainkan situasi. Pertanyaannya, kapan bangsa ini akan kembali damai? ProDem hadir sebagai kekuatan ketiga," ujar Wowok.

“Maka, sekali lagi ini, perlu membangun organisasi seperti ProDem ini, membangun kekuatan yang tidak berpihak," tandasnya.

Suasana deklarasi ProDem Surabaya/Emil Misbach

Berlangsungnya deklarasi ProDem memiliki ketua. Ru’yat Rahmawan terpilih sebagai ketua ProDem Surabaya. Sarjana ITS Surabaya ini didukung penuh 5 elemen yang terlibat dalam deklarasi. Elemen tersebut antara lain, Sekber Konsolidasi Demokrasi, Kelompok Belajar Sosialis (KBS), Penghuni Kantin ITS Surabaya, dan APR/ASPR.

Ketua terpilih Ru’yat Rahmawan mengatakan, setelah deklarasi ini konsolidasi ProDem akan semakin rapat. Komunikasi antarkawan akan semakin mudah dan guyub. Komunitas akan semakin kuat.

“Sekarang sudah waktunya kualitas komunitas ini diuji. Dengan cara berpikir berorganisasi dan sikap kerja terorganisir," kata Ru’yat.

Kebetulan deklarasi ini digelar bersamaan dengan jelang pemilihan legislatif dan presiden. ProDem bukan salah satu pendukung dari mereka. Namun ProDem memberi keleluasan kepada anggota jika diminta salah satu kontestan untuk membantu.

“Sifatnya sekadar membantu. Membantu itu bukan terlibat. Logikanya begitu," ujarnya.

ProDem Surabaya dan ProDem Jawa Timur tidak ada kaitannya dengan ProDem di Jakarta. Secara kelembagaan, pusat ProDem di Kota Surabaya. Di tingkat daerah, baru Surabaya kepengurusan ProDem terbentuk.

“Segera kami akan menunjuk kepengurusan. Terutama yang akan segera kami tunjuk kawan-kawan yang tergabung dalam formatur, yaitu ketua, sekretaris, dan bendahara, akan kami segerakan," ujar Ru’yat.