Saya begitu asyik berselancar di dunia maya kemarin malam, sampai akhirnya menemukan beberapa tulisan mengejutkan mengenai tsunami yang menerjang Banten dan Lampung. Tsunami yang diakibatkan oleh anak gunung Krakatau itu sukses membuat orang-orang di sosial media panik mengkhawatirkan saudara, teman, atau keluarga mereka di daerah bencana. Begitu juga saya, menyadari bahwa sebagian teman saya sedang berlibur disana, sebagian sahabat juga bermukim disana.

Tak ayal lagi saya menghubungi kawan-kawan, meminta keterus terangan akan kondisi yang mereka alami. Syukur, semesta masih melindungi, kawan-kawan saya selamat karena beberapa dari mereka sedang berada diluar zona tsunami. Tapi tetap saja, mendengar kabar bahwa puluhan korban meninggal di televisi membuat tengkuk saya bergidik ngeri.

Do’a-do’a dipanjatkan lewat status facebook, ditransferkan lewat transmisi internet oleh mereka yang peduli akan bencana. Tapi sebagian justru sebaliknya, ada yang mengutuk habis-habisan pemerintah, menyalahkan kriminalisasi panutan mereka, hingga ada yang berkata ini adalah azab.

Tentu saja, dengan dahi mengkerut saya berusaha mencerna kata-kata mereka sebagaimana dahulu--tanpa berniat mengorek luka lama--mereka mengait-ngaitkan azab dengan kejadian di Palu. Sebagai seorang pelajar yang berkutat dengan ilmu alam pula saya heran, hubungan antara gerakan lempeng, pergeseran organ-organ tubuh bumi dengan azab yang mereka layangkan begitu subjektif.

Jika perkara agama, boleh lah mereka melihat peristiwa bencana alam sebagai suatu lahan untuk merenungkan kembali tingkah lakunya di dunia, sebagai sarana kontemplatif. Tetapi jika kemudian disangkut pautkan dengan azab, dengan pemerintahan, hingga dengan kasus-kasus politik, bukannya ini sangat jauh diluar nalar?

Bencana tidak melihat apa yang sedang terjadi dalam kegiatan bermasyarakat manusia. Tsunami hingga gempa yang sering sekali melanda Jepang tidak memandang kegiatan apa yang sedang dilakukan penduduknya, mau mereka sedang mengalami krisis, mereka sedang mengalami kejayaan, atau sedang merangkak menuju teknologi yang lebih maju.

Kita perlu melepaskan diri dari pandangan-pandangan kita yang acap kali ganjil dan tidak logis. Kita sedang berada di era post-modern, di era Indonesia menuju ‘Revolusi Industri 4.0’, dimana semua hal berada dalam lingkup digital dan skala global. Apa yang kita tulis, yang kita keluhkan, hampir dipastikan 70% atau lebih dilayangkan lewat internet.

Sangat jarang sekali orang yang masih surat-menyurat, menulis naskah ke penerbit atau media massa lewat tulisan tangan, atau mendengarkan radio. Semua sudah men-digital. Keluhan-keluhan ekonomi, rumah tangga hingga urusan dengan tetangga terkoneksi pula dengan umat manusia di berbagai belahan dunia.

Tentu, saya sebagai warga Indonesia tidak mau negara ini dikenal luas oleh dunia karena kelakuan nyeleneh warganya di internet. Penetrasi internet di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat berkali-kali lipat, menggandakan diri layaknya amoeba. Indonesia pun mulai dikenal di ranah global karena masyarakatnya sudah mulai paham berinteraksi lewat jejaring sosial. Banyak yang menulis artikel, menjadi seniman digital hingga penyanyi ternama. Sayangnya, kebanggan itu kadang harus memudar ketika kita membuka timeline media sosial kita.

Di negara mana lagi yang warganya mengutuk habis-habisan sistem pemerintahan, kasus politik hingga hal-hal agamis karena terjadi bencana alam? Di negara ini pula kita menyaksikan bagaimana iklan girlband diprotes karena bisa memancing syahwat. Sudah terlalu banyak keganjilan di negara ini yang kita ekspose sendiri ke muka publik.

Tidak ada yang salah dengan semua itu. Mau mengaitkan bakso itu alat elektronik dan ayam adalah alien dari planet sebrang tak masalah, asal tidak diumbar ke muka publik seakan perkara-perkara subjektif itu benar adanya dan absolut, mutlak harus diamini oleh semua yang menyimak.

Perkara seperti itu, dari preferensi politik pribadi hingga kepercayaan akan hal-hal diluar nalar lebih baik dibicarakan pada orang yang tepat, dalam obrolan santai keluarga di sore hari misalnya. Berbagilah dengan mereka yang seharusnya menerima apa yang dikatakan. Stop membicarakan hal-hal yang berpotensi menimbulkan konflik dan bersangkut paut dengan hasrat pribadi di muka umum.

Kadang-kadang saya membayangkan, bahwa masih banyak orang yang menutupi fisik mereka di depan umum begitu rapatnya dalam skala RT/RW tetapi kehidupan pribadi, kepercayaan hingga hal-hal subjektif diumbar dalam skala global. Niatnya barangkali baik, berusaha menyampaikan amanah dari relung hati terdalamnya kepada semua orang, tetapi dengan cara dan gaya yang amat jauh dari standar penyampaian materi.

Saya lebih menghargai riset mengenai fakta bahwa kucing itu ternyata berkaki empat, tetapi disajikan secara serius, dipaparkan dari alasan kenapa ia berpandangan seperti itu hingga dampak dari fakta bahwa kucing berkaki empat itu untuk lingkungan keluarga. Karena jauh lebih baik dibandingkan status facebook yang singkat dan tidak jelas seperti :

“Hati-hati saudaraQ, qta menghadapi era serangan Skrull ke bumi karena ketua RT yang dzolim pada tetanggaQhu.”

Status-status yang beredar di facebook, grup-grup whatsapp keluarga hingga komentar instagram itu memang serba tidak jelas dan amat memalukan apabila sampai ada orang luar yang bisa membaca. Tidak jelas urutan kronologisnya, latar belakang hingga penjelasannya kenapa kita harus percaya bahwa kejadian A adalah azab dan kejadian B adalah tanda-tanda ketua RT yang dzolim.

Begitulah, internet Indonesia lumayan kencang untuk memutar live siaran bola, tower-tower sudah menyertakan koneksi 4g ke setiap desa, tetapi edukasi mengenai tata cara berbicara di muka publik, terutama di era digital yang belum bisa secara penuh terlaksana. Tentu yang kita harapkan saat ini semakin berkembangnya platform-platform menulis digital membuat masyarakat gemar menulis berparagraf-paragraf panjangnya tetapi beralasan dan jelas inti permasalahannya, dibandingkan status satu-dua kalimat yang kadang ambigu dan menyakitkan.

Tanpa mengurangi rasa bela sungkawa terhadap musibah yang sedang terjadi, tulisan ini dimaksudkan untuk sedikit mengerem kebiasaan buruk bagi kita yang sering ceplas-ceplos di internet. Terutama, ketika yang lain sedang berduka, tidak usah menggembar-gemborkan teori konspirasi baru. Bijaklah berinternet, bijaklah menulis, berpikir matanglah sebelum berpendapat.