Pikiran dan tindakan dianggap benar jika membawa akibat yang bermanfaat secara praktis.

William James terkenal sebagai pemikir filsafat pragmatis. Istilah “pragmatis” itu sendiri sudah menjadi bahasa keseharian. Orang sering mengaitkannya dengan hal-hal yang praktis dan menghasilkan sesuatu yang berguna pada saat sekarang, tidak untuk masa depan, dan belakangan cenderung bermakna peyoratif.

Misalnya, ada orang yang mengatakan, “Ah, pemikiran Anda terlalu pragmatis.” Maksud dari perkataan ini adalah pemikiran lawan bicara Anda terlalu dangkal dan memiliki kepentingan pribadi. Kendati demikian, filsafat pragmatisme yang dikembangkan oleh William James memiliki pengaruh luar biasa terhadap para pemikir sesudahnya.

William James, selain menyebut istilah filsafatnya dengan nama pragmatisme, juga menyebutnya dengan nama empirisme radikal. Adapun yang dimaksud dengan pragmatisme adalah suatu pemikiran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah sesuatu yang membuktikan pada dirinya sebagai yang benar, dengan perantara akibat yang bermanfaat secara praktis.

Artinya, untuk menentukan apakah pemikiran dan tindakan itu benar, perlu disesuaikan dengan akibat-akibat yang ditimbulkannya. Jika akibatnya membawa manfaat secara praktis, maka pemikiran itu dapat dianggap benar. 

Sedangkan, yang dimaksud dengan empirisme radikal adalah ajaran yang hanya menerima pengalaman sebagai suatu kenyataan terakhir. James menekankan segala sesuatu harus dikembalikan pada pengalaman. Pengalaman yang dimaksud di sini tentu pengalaman yang bersifat indrawi.

Nah, dari kedua istilah tersebut, yang paling masyhur dilekatkan pada nama William James adalah pragmatisme. 

Sebenarnya, orang yang pertama kali memperkenalkan istilah pragmatisme bukanlah William James, melainkan Charles Sanders Peirce, seorang filsuf yang sama-sama berasal dari Amerika. Peirce menggunakan pragmatisme sebagai metode filsafatnya, sementara James hanya melanjutkan proyek pragmatisme Peirce. 

James memperkokoh dan mengembangkan pragmatisme sebagai aliran filsafat baru. Karena ia lebih jelas dan lengkap dalam menjelaskan pragmatisme, maka ia menjadi tokoh yang paling masyhur dalam aliran filsafat pragmatisme.

William James meyakini bahwa tidak ada kebenaran mutlak. Baginya, kebenaran itu bersifat dinamis, tidak statis. Dengan kata lain, jika saat ini benar, belum tentu di masa mendatang juga benar. Sebaliknya, jika hari ini dianggap salah, belum tentu di masa mendatang salah, bisa saja berubah menjadi benar. Itulah yang dimaksud kebenaran itu dinamis atau suatu proses.

Kebenaran dianggap benar jika fakta kebenaran secara praktis telah dirasakan dan benar-benar nyata. Oleh karena itu, kebenaran bagi James ialah kebenaran pragmatis. Artinya, sebagaimana telah disinggung, pemikiran dan tindakan dianggap benar jika membawa akibat yang bermanfaat secara praktis.

Di samping itu, bagi James, kebenaran bersifat plural atau banyak. Dengan kata lain, kebenaran adalah sekumpulan nama dari segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna secara kongkrit, seperti kesenangan, kekayaan, kesehatan, kekuatan, dan lain sebagainya. Jadi, kebenaran adalah hasil dari verifikasi terhadap nama-nama yang berguna dan tidak berguna bagi kehidupan manusia.

Dengan keyakinan bahwa kebenaran itu dinamis dan plural, James menolak anggapan filsafat tradisional yang mempercayai bahwa kebenaran itu bersifat monistik (tunggal) dan menyeluruh. Baginya, tidak ada kebenaran tunggal dan menyeluruh, yang ada hanyalah kebenaran yang bersifat subjektif, relatif, dan dinamis atau terus berkembang.

Sebagai alternatif, James mengajarkan tentang meliorisme, yaitu cara untuk menengahi dua pendekatan dalam filsafat yang berbeda secara ontologis. Secara umum, ia membagi corak pendekatan dalam filsafat menjadi dua macam, yaitu pendekatan empiris dan pendekatan idealis.

Ia menganggap bahwa pendekatan empiris hanya memiliki kepentingan pada fakta-fakta empiris dalam mencari kebenaran atau hanya meyakini segala sesuatu yang berdasarkan pada pengalaman sebagai kenyataan. Sementara itu, pendekatan idealis menekankan pada rasionalitas, melahirkan konsep-konsep, abstraksi-abstraksi, dan substansi-substansi yang cenderung bersifat idealis.

James melihat dua corak pendekatan dalam filsafat tersebut, yang masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan. Ia mengungkapkan bahwa salah satu di antara keduanya tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. 

Dari sini, ia kemudian ia mengoperasikan pragmatismenya. Ia memakai istilah meliorisme. Meliorisme dioperasikan untuk menengahi-dalam artian pragmatis-atau mengambil yang bisa dimanfaatkan secara praktis dari dua pendekatan filsafat yang berlangsung sejak dulu.

Adapun kekurangan dan kelebihan dua pendekatan tersebut menurutnya ialah pendekatan empiris mempunyai kelebihan dalam mencari kebenaran, yaitu mendasarkan pada pengalaman dan fakta yang nyata. Akan tetapi, kelemahannya terletak pada ketidakmampuannya untuk menunjukkan nilai-nilai yang nyata, menolak agama, dan kurang memperhatikan kebutuhan manusia.

Sedangkan, kelebihan pendekatan idealis, yaitu mendukung agama, memperhatikan harapan-harapan manusia dan mampu menunjukkan nilai-nilai penting, tetapi kelemahannya adalah cenderung tidak berdasarkan pada fakta yang nyata.

Tetapi, perlu dicatat bahwa pendekatan idealis yang di terima oleh James adalah pendekatan idealis yang sesuai dengan empirisme radikal. Dalam artian, ia menerima realitas ideal, agama, atau spiritual selama itu bermanfaat atau berfungsi secara praktis dalam kehidupan manusia. 

Olehnya, realitas keagamaan dianggap tidak lebih dari sekedar pengalaman manusia. Selain itu, agama atau spiritual dalam pragmatismenya dilihat secara fungsional. Artinya, agama atau spiritual dibutuhkan jika memiliki fungsi, seperti membawa ketenangan pada manusia.

Ajaran pragmatisme sebagaimana dijelaskan di atas, oleh James, juga diterapkan pada persoalan moralitas, sehingga ajaran moralitasnya disebut moralitas pragmatis. Sebuah tindakan dikatakan baik atau buruk dilihat dari kegunaannya. Kalau tindakan itu berguna bagi manusia, maka tindakan itu benar. 

Oleh karena itu, kebenaran moral bersifat individual. Tidak ada kebenaran moral yang bersifat umum. Dengan kata lain, kaidah-kaidah moral yang bersifat umum tidak dapat diterima. Bagi James, moralitas bersifat subjektif mengandung kebutuhan secara pribadi.

Dalam pandangan James, tidak ada kewajiban moral. Ia memahami kewajiban moral sebagai suatu keharusan mengandung kebutuhan dalam situasi tertentu. Situasi yang berbeda-beda dapat menghasilkan kewajiban moral yang berbeda sesuai dengan tuntutan (kebutuhan). Inilah yang ia maksud bahwa tidak ada kaidah umum mengenai moralitas. Yang dapat diterima adalah moralitas yang bersifat khusus, subjektif, dan dalam kondisi tertentu.

Artinya, dalam moralitas, ia juga menerapkan bahwa kebenaran moralitas tidak ada yang final. Kebenaran itu belum selesai, berproses. Jadi, walaupun moralitas bersifat individual, tetapi moralitas individual tidak boleh dimutlakan. Dengan kata lain, tidak ada moralitas absolut, baik individu maupun umum. Sekali lagi, bagi James, moralitas dan kebenaran terus berproses yang disesuaikan dengan situasi yang terus berubah dan kebutuhan praktis.