Keputusan memecat saya adalah sah. Saya tahu, banyak di antara prajurit saya akan melakukan apa yang saya perintahkan. Tetapi saya tidak mau mereka mati berjuang demi jabatan saya. Saya ingin menunjukkan bahwa saya menempatkan kebaikan bagi negeri saya dan rakyat di atas posisi saya sendiri. Saya adalah seorang prajurit yang setia. Setia kepada negara, setia kepada republik. Prabowo Subianto Djojohadikusumo

Kontroversi yang menyelimuti serta ambisi yang dimiliki Prabowo Subianto Djojohadikusumo lebih abadi daripada perjalanan berkeluarga dan berumahtangganya bersama Siti Hediati Soeharto (Titiek). Bahkan jauh lebih luas dikenal dan lebih meriah diperbincangkan ketimbang karya putra mereka satu-satunya, Ragowo Hediprasetyo (Didit).

Satu sisi dia dipuja laiknya Musa sebagai penyelamat muruah bangsa. Satu sisi dia dicaci laiknya Fir’aun sebagai pencetak catatan kelaliman luar biasa. Wajar saja. Mata yang cinta akan tumpul dari segala cela serta mata yang penuh amarah hanya akan memandang segala yang nista. Yang jelas, segala pujian dan kata sanjungan tak membuatnya melayang seperti halnya segala hinaan dan caci maki tak membuatnya mati.

Prabowo lahir di Jakarta 17 Oktober 1951. Dia dikenal sebagai mantan Danjen Kopasus (Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus), pengusaha, politikus, dan segala hal yang menjadi identitas yang melekat pada personalitasnya.

Prabowo adalah putra dari begawan ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo. Dia juga cucu dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo yang merupakan anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan merupakan pendiri Bank Nasional Indonesia (BNI). Dari silsilahnya tampak bahwa Prabowo memiliki ‘darah biru’ bangsa Nusantara, jauh sebelum Indonesia dilahirkan.

Saat kariernya sedang diselimuti kirana, dia menikahi Titiek, putri Presiden Soeharto. Keputusan yang tampak menjanjikan saat itu walakin menjadi kesalahan fatal dalam hidupnya di kemudian hari.

Dengan latar belakang keluarga cendekiawan, Prabowo mewarisi kecerdasan ayahnya. Dia dikenal sangat cerdas di sekolah maupun di AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Rekhalayak Indonesia). Meski dia adalah alumnus AKABRI (1974), namun tidak banyak yang tahu bahwa setelah lulus SMA, Prabowo juga diterima di American School In London, Britania Raya.

Kariernya dibidang militer terbilang sangat cemerlang dan membanggakan. Karier militer Prabowo termasuk yang tercepat dalam sejarah ABRI (Angkatan Bersenjata Rekhalayak Indonesia). Prabowo bahkan sempat disebut sebagai The Brightest Star. Dialah jenderal termuda yang meraih 3 bintang pada usia 46 tahun.

Sebagai sesama orang militer, Prabowo bisa dianggap sebagai antitesa dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mungkin karena karier dia yang banyak diisi dengan penugasan di satuan tempur. Meski sama-sama merupakanThe Rising Star di tubuh ABRI saat itu, SBY lebih dikenal sebagai perwira cendekiawannya ABRI.

Berbeda dengan SBY yang cenderung analitis dan berhati-hati dalam mengambil keputusan, sebagai perwira lapangan Prabowo cenderung cepat, take action. Saat keputusan sudah dibuat, Prabowo akan menjalankannya dengan penuh kepastian yang siap menanggung segala dampak yang tak terhindarkan.

Salah satu contohnya adalah perihal peristiwa penculikan aktivis yang telah mencoreng muruah pribadi dan menjadi penyebab kehancuran karier militernya. DKP (Dewan Kehormatan Perwira) yang menyelidiki kasus ini tidak pernah mengungkapkan hasil pemeriksaannya kepada khalayak. Tidak juga kepada Prabowo yang notabene menjadi tertuduhnya.

Wiranto, yang memiliki rekam jejak battle dengan Prabowo, tampaknya sengaja mengambil manfaat agar prasangka khalayak menghukum Prabowo lebih berat daripada ‘dosanya’. Meski Prabowo bersikeras mengatakan tak pernah perintahkan, walakin dia mengambil alih tanggung jawab anak buahnya. “Saya ambil alih tanggung jawabnya,” begitu ungkapnya saat itu.

Sikap yang harus dibayar mahal dengan hancurnya karier militer yang gilang gemilang, walau dengan gamblang juga menunjukkan kualitas kepemimpinan Prabowo. Jika Prabowo benar bersalah, mengapa justru korban-korban penculikan seperti Pius L. Lanang dan Desmond J. Mahesa justru menjadi pengurus Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang dibentuknya?

Meski begitu, kualitas kepemimpinan Prabowo justru sudah teruji di saat-saat paling kritis yang pernah dialami negeri ini. Bagi mereka yang lelah dengan kepemimpinan yang lemah, lama mengambil keputusan, selalu terkesan ragu-ragu tampaknya Prabowo adalah jawabannya. Bagi mereka yang muak dengan pemimpin yang sibuk menyelamatkan citra diri sendiri saat ada masalah maka Prabowo adalah pilihan yang patut dipertimbangkan.

Dibanding memilih mengorbankan anak buahnya, Prabowo memilih untuk ambil alih tanggung jawab dan menanggung sendiri risikonya. Seperti terlihat dalam film Titanic, ketika kapal sudah mulai tenggelam, kapten kapal memastikan semua penumpang selamat, dan akhirnya dirinya sendiri gagal selamat. Sayang, karier militer Prabowo yang gilang gemilang itu berakhir dengan cara yang kurang mengenakkan. Bahkan bisa dikatakan memilukan.

Prabowo bisa dikatakan pihak yang dikalahkan dalam proses perebutan kekuasaan dan pengaruh di tubuh militer pada masa-masa kritis tahun 1998. Berbicara tentang Prabowo kita tidak bisa lepas dari peristiwa kelam Mei 1998 yang mencoreng nama bangsa Nusantara selamanya. Sebagai pihak yang kalah Prabowo menjadi ‘kambing hitam’ dari semua kejadian tersebut.

Seperti kata pepatah, tinta sejarah adalah milik pemenang. Ini tentu saja berpotensi menjadi pengganjal perjalanannya. Sematan sebagai ‘penjahat kemanusiaa’ pasti akan dimanfaatkan sebagai senjata oleh siapa saja yang tak suka untuk menjatuhkan Prabowo.

Jika memang benar Prabowo adalah tokoh yang bertanggung jawab terhadap peristiwa itu maka dia sudah menerima segala hukumannya. Bayangkanlah perasaan Prabowo yang karier gemilangnya di dunia militer yang begitu dicintainya itu harus berhenti dengan sejuta rasa malu dan aib. Lalu bagaimana jika semua itu tidak benar? Layakkah Prabowo tersandera oleh prasangka tanpa bukti? Lantas layak pulakah sukma kita terus tergerus dengan dendam padanya?

Jauh sebelum peristiwa Mei ‘98 proses penghancuran nama baik Prabowo sudah terjadi. Semua berawal dari ‘kisah cinta’ antara Prabowo dan Wiranto. Ketakharmonisan Prabowo dan Wiranto memang sudah berlangsung sejak lama. Mungkin karena latar belakang keduanya yang jauh berbeda. Prabowo yang kosmopolitan cenderung memiliki pola pikir yang terbuka. Sementara Wiranto dengan latar belakang Jawa yang sangat kental lebih tertutup.

Prabowo yang terbiasa dengan persaingan terbuka sejak kanak-kanak menganggap pertarungan semacam itu sebagai hal biasa dan tidak dijadikan personal. Berbeda dengan Wiranto yang berlatar belakang sangat ‘Jawa Tradisional’ itu, dia lebih mirip dengan Soeharto dalam menyikapi suatu pertarungan. Lihat saja nasib yang menimpa pesaing-pesaing Soeharto yang mengganggu karier militer atau politiknya di masa lalu. Jika tidak mati, membusuk di penjara.

Tanda kentara ketidaksukaan Wiranto terlihat dengan absennya dia sebagai Pangab (Panglima ABRI) dalam acara serah terima Pangkostrad Letjen Soegiono kepada Prabowo. Begitu juga saat pemberhentian secara hormat Prabowo sebagai perwira militer. Dia mencopot tanda-tanda pangkat Prabowo dengan satu tangan saja.

Proses berakhir secara paksanya karier militer Prabowo memang tidak bisa dilepaskan dari pertarungan perwira muda dan perwira tua. Prabowo sebagai gambaran perwira muda tentu saja menjadi sasaran tembak utama saat itu. Posisi Prabowo saat itu benar-benar terjepit.

Di satu sisi dia adalah menantu penguasa yang sedang menjadi sasaran sentimen negatif masyarakat. Di sisi lain akibat manuver ‘tim’ Wiranto, Soeharto yang masih punya pengaruh justru membencinya sampai ke ubun-ubun. Sampai-sampai kepada penggantinya Habibie, dia menyampaikan pesan khusus untuk ‘mengamankan’ Prabowo.

Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Semua tidak terlepas dari peristiwa Mei yang mengerikan itu. Peristiwa yang hingga kini masih berpotensi menghantui negeri ini.

Ada tiga tuduhan utama yang diarahkan kepada Prabowo, yaitu: Penculikan akitivis, penembakan pelajar Trisakti, dan dalang kerusuhan Mei 1998. Tidak satupun tuduhan tersebut yang terbukti.

Seandainya Prabowo bersalah bukankah Pangab saat itu Wiranto? Bukankah sebagai panglima dia yang seharusnya paling bertanggung jawab? Mengapa hingga saat ini Prabowo tidak pernah diberitahu tentang hasil penyelidikan DKP sehingga tidak bisa membela diri?

Mengenai penembakan pelajar Trisakti, Wiranto juga terkesan sengaja ‘buyingtime’ dengan tak mengusut kasus ini secara cepat. Akibatnya tuduhan kembali ke Prabowo, yang jadi bulan-bulanan opini khalayak, dicurigai sebagai orang dibalik penembakan itu. Meski banyak sekali keanehan terhadap tuduhan ini namun fitnah sudah mencapai sasaran. Dan sekali lagi Prabowo terlanjur menjadi pesakitan.

Tuduhan mengarahkan Prabowo di balik penembakan, dengan konspirasi anggota kopasus memakai seragam Polri sebagai pelaku penembakan snipper. Teori konspirasi ini tidak pernah terbukti, karena peluru snipper diatas 7 mm dan proyektil peluru tertanam di korban kaliber 5,56 mm. Sementara korban dipilih secara acak.

Kalau snipper akan memilih misalnya pemimpin demo atau target pilihan. Lima hari setelah insiden Trisakti, Prabowo datang ke rumah Herry Hartanto. Di bawah Alquran dia bersumpah. Di depan Syaharir Mulyo Utomo orang tua korban, “Demi Allah saya tidak pernah memerintahkan pembantaian mahasiswa.”

Perihal keterlibatan Prabowo atas penembakan mahasiswa Trisakti, tanggal 14 Mei terjadi pertemuan di Makostrad (Markas Komanda Staf Angkatan Darat) atas inisiatif Setiawan Djodi. Pertemuan antara Prabowo dan tokoh masyarakat, antara lain: Adnan Buyung Nasution, Setiawan Djodi, Fahmi Idris, dan Bambang Widjoyanto. Dalam pertemuan itu Prabowo ditanya tentang keterlibatannya. Prabowo menjawab, “Demi Allah saya tidak terlibat, saya di set-up.” Menurut Buyung terlihat jujur.

Peristiwa selanjutnya semakin memperkuat ketakterlibatan Prabowo atas peristiwa penembakan pelajar tersebut. Puspom ABRI Sjamsu Djalal menghadapi kesulitan memaksa Kapolri Dibyo Widodo untuk menyerahkan anggotanya yang dicurigai terlibat. Disinilah peran Wiranto terlihat.

Tujuhbelas hari setelah insiden itu berlalu baru Wiranto memanggil Dibyo untuk memerintahkan menyerahkan anggota. Itupun anggota diserahkan ke Polda bukan ke POM ABRI. Padahal Polri saat itu masih menjadi bagian ABRI dan Pangabnya adalah Wiranto.

Sementara senjata sebagai barang bukti baru diserahkan tanggal 19 Juni 1998. Hampir satu bulan sejak peristiwa terjadi. Kelak tahun 2000, uji balistik di Belfast, Irlandia membuktikan bahwa peluru berasal dari anggota Polri unit gegana.

Siapa sesungguhnya dibalik peristiwa itu? Siapa yang memberi perintah? Jelas bukan Prabowo yang sebagai Pangkostrad tidak punya jalur komando ke Polri. Dalam militer, garis komando benar-benar diterapkan.

Bagaimana dengan tuduhan Prabowo sebagai otak dibalik kerusuhan Mei ‘98? Benarkah dia yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut? Atau kembali lagi dia dikorbankan akibat proses perebutan kekuasaan terselubung diantara para elit militer saat itu? Apakah benar kerusuhan tersebut terjadi karena spontanitas atau ‘crime by omission’ (kejahatan karena pembiaran) atau bahkan ‘terror by design’ (teror yang didesain)?

Mari kita kembali ke zaman yang tak mengenakkan itu. Kadang untuk mencari kebenaran sejarah kita butuh ‘mesin waktu’. Tampaknya kita harus memanggil Doraemon ke sini sekarang. Kita juga membutuhkan testimoni para pelakunya yang saat ini masih hidup bahkan sedang berkuasa.

Bersambung ke Prabowo, dari Pertanyaan ke Pertanyaan