Beberapa hari yang lalu saya mengetahui bahwa Prabowo menjadi Menteri Pertahanan. Saya pikir, bagus sekali, kenapa tidak dari dulu saja, ya? Dan Pak Prabowo pun mungkin juga berpikir demikian.

Daripada menjadi presiden, lebih baik menjadi menteri dulu. Lalu nanti mencalonkan diri lagi menjadi presiden. Apakah ini masih mungkin? Entahlah. Tapi memang sebaiknya seperti itu, ada tahapannya.

Saya juga tidak setuju kalau Prabowo menjadi presiden, selagi masih ada Jokowi.. Kenapa? Sebab Prabowo terlalu kaku. Nanti bisa ada gap dengan masyarakat lagi seperti presiden sebelumnya. Ketika presiden turun ke jalan, menemui rakyatnya. Saya menganggap hal ini luar biasa, karena hampir tidak pernah dilakukan presiden sebelumnya.

Bukan berarti pencitraan itu palsu, tetapi memang tampilan baik itu perlu. Baik di dalam dan baik di luar. Kebaikan pun ada yang memang harus ditampilkan dan ada juga yang boleh disembunyikan. 

Kalau Jokowi datang ke suatu tempat, tempat itu langsung ramai. Jokowi menggunakan jaket, langsung banyak yang beli. Jadi presiden bisa kelihatan, bukan hanya mimpi untuk ketemu presiden.

Kalau Prabowo menjadi presiden, nanti siapa lagi presiden yang bisa diajak selfie? Memang kita butuh presiden yang seperti itu, cair, dan luwes, tetapi juga tegas. Selfie dan vlog pun sebagai hiburan dalam melepas penat. Kan presiden juga butuh hiburan. Kalau urusan negara terus dipikirin, tentu saja tidak baik untuk kesehatan.

Prabowo orangnya tegas, jelas. Dari raut wajahnya saja saya sudah tahu. Tubuhnya yang juga masih gagah dan sifatnya kesatria. Kalau saya melihat Prabowo sebagai orang yang punya jiwa kepemimpinan tinggi. Karena pengalamannya yang telah begitu banyak. 

Mungkin sebagai bawahan, ia akan betul-betul hormat dengan atasan, dan kalau memimpin sifatnya otoriter. Selama kepemimpinannya baik, tidak ada masalah. Apalagi masyarakat sudah capek dengan omong kosong, jadi saya mohon Prabowo untuk dapat mencapai idealismenya dan harapan masyarakat.

Saya pernah membaca di sebuah berita, waktu Prabowo dicopot jabatannya oleh Habibie, ia marah. Tapi tidak sampai kemudian membahayakan Habibie. Meskipun ia punya pasukan khusus, dan ia hanya diminta untuk pindah jabatan. 

Prabowo menolak, karena pasti ia telah mengerti luar dalam pasukannya. Tugasnya pun belum selesai, tapi ia diminta untuk pindah bergeser. Misalnya kita sudah nyaman duduk, enak-enak, tiba-tiba disuruh geser oleh teman kita, memang menyebalkan dan bisa membuat kita marah, tapi mau bagaimana lagi. Dan Prabowo menerima itu dengan sabar, saya pikir itu hal yang baik.

Prabowo pasti akan paham betul dengan bidang militer, teknologi yang ada pada senjata dan sejarah-sejarah perang. Mungkin ia pakar di bidang itu, jadi Jokowi pun tak ragu memberikan kekuasaan kepada Prabowo. Meski ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan, seperti anggaran yang katanya paling besar. Hal inilah yang sebenarnya mencemaskan. 

Di pikiran saya, anggaran yang besar ini bisa menurunkan produktivitas dalam bekerja. Karena nyaman dan merasa aman dari anggaran yang besar tadi. Semoga saja Prabowo bisa menaikkan semangat bawahannya untuk bekerja, memajukan pertahanan Indonesia.

Saya sebenarnya kagum dengan Prabowo. Tapi saya mulai membenci Prabowo, karena para pendukungnya yang beringas. Hal itu membuat saya jadi berpikir ulang, kan itu pendukungnya, bukan Prabowo-nya. Dan saya juga yakin tak semua pendukungnya seperti itu. 

Saya rasa langkahnya menjadi menteri sudah tepat sasaran. Baru setelah itu mencalonkan diri lagi menjadi presiden, karena sudah ada pengalaman jadi menteri. Saya harap tidak seperti itu. Saya harap Prabowo cukup sebagai menteri saja. Saya kurang sreg kalau Prabowo menjadi presiden. 

Untuk pembaca yang mendukung Prabowo, bisa juga menulis di sini, dan menjelaskan kenapa harus Prabowo yang menjadi presiden. Dan tulisan itu akan saya baca, sehingga saya lebih memahami alasan orang-orang mendukung Prabowo menjadi presiden. 

Saya setuju Jokowi menerima Prabowo sebagai Menteri Pertahanan. Dan orang-orang Gerindra pun akan ikut senang. Karena demi tujuan yang mulia, yaitu untuk melindungi negara dan berkontribusi terhadap kemajuan negara, Prabowo akhirnya bisa menjalankan tugasnya. Harapannya, Prabowo mampu mengembangkan TNI dan pertahanan negara ke arah yang lebih progresif.

Untuk ide Prabowo menjadi Menteri Pertahanan tercetus dari Fadli Zon. Saya tidak menyangka akan hal ini. Ternyata Fadli Zon, selain cerdas, juga memiliki ide brilian. Mungkin selanjutnya saya akan menulis tentang Fadli Zon. Saya rasa Prabowo senang sekali mendapat dan merealisasikan ide itu.

Jokowi pasti dengan senang hati menerima Prabowo dengan tangan terbuka dan berusaha menghapus seluruh permusuhan yang sebenarnya hanya delusi. Delusi yang dibuat oleh kedua kubu pendukungnya sendiri. Keduanya lalu berjabat tangan dengan hangat dan saling tersenyum, untuk bersama-sama memajukan Indonesia.

Ternyata bisa berakhir bahagia dan ending yang membuat pendukung Prabowo dan Jokowi terheran-heran.