Jika misalnya pada Pemilu tahun 2019 ini Prabowo terpilih sebagai presiden, apakah akan mengimplementasikan gagasan NKRI Syariah? Mau tidak mau dugaan ini mencuat dalam akal sehat pikiran kita. Karena gerbong besar pendukung Prabowo adalah barisan besar dari Habib Rizeq.

Gagasan tentang NKRI Syariah menjadi salah satu propaganda dari Habib Rizeq. Ia mengendap dalam alam kesadaran dan berhasil menyatukan dukungan terhadap Prabowo. Di Madura misalnya, muncul selebaran ajakan dukungan terhadap Prabowo dengan alasan Islam dan perlawanan akan musuh yang didukung Yahudi.

Entah darimana propaganda ini muncul menjadikan keyakinan dan disebarkan berulang ulang dalam skala yang besar. Oleh pendukungnya di beberapa daerah, hanya Prabowo yang dianggap paling Islam dan dapat mengimplementasikan gagasan mareka.

Tampaknya gagasan NKRI Syariah juga ditopang oleh kesadaran akan keislaman yang belum sempurna dalam menjalankan syariat Islam. Di beberapa tempat dengan patronase tokoh agama yang kuat berhasil mengusulkan mendesak akan adanya perda syariah.

Tentu saja, perda syariah adalah langkah paling nyata dan gerakan nasional dari upaya untuk menjadikan NKRI bersyariah. Sasarannya adalah kemaksiatan yang tampak dibiarkan oleh negara. Kelompok ini menginginkan negara ikut bertindak atas banyaknya kemaksiatan di daerahnya.

Habib Rizeq tetap menjadi ikon nasional. Di media sosial, meme meme dan propaganda selalu memunculkan wajah habib rizeq sebagai magnet. Walau keberadaanny masih di Mekkah, namun hingga kini pengaruhnya begitu nyata di Indonesia.

Sang habib memiliki pengikut setia. Baru baru ini Habib Rizeq mengeluarkan himbauan bahwa kader kader FPI yang ada di PBB untuk mundur berjamaah lantaran Yuzril sebagai ketua umum PBB mendukung Joko Widodo. Tampak beberapa caleg mengundurkan diri. Yang terekspose media adalah sosok Novel Bamukmin.

Pertanyaan dasarnya, jika Prabowo sebagai presiden, akankan sang habib bisa mendesak Prabowo untuk mewujudkan NKRI bersyariah? Tentu ini menimbulkan dua dugaan. Dugaan pertama, Prabowo sama sekali tidak akan mewujudkan NKRI Syariah dan semata mata hanya memanfaatkan basis pendukung dari sang Habib.

Kenapa dugaan ini muncul? Hasil ijtimak ulama yang ditolak mentah mentah oleh Prabowo adalah sebuah indikasi, bahwa sang jenderal tidak mau disetir oleh siapapun. Sehingga muncullah Ijtimak Ulamak yang ke 2. Dimana oleh public, jawabannya sudah bisa ditebak. Pamor ijtimak ulama yang kdua kalah dengan ketegasan prabowo.

Dugaan kedua, Prabowo akan mengimplementasikan NKRI Syariah sebagaimana yang sering menjadi gagasan dari Habib Rizeq. Apakah gagasan ini akan diterima oleh segenap penduduk Indonesia? Itu menjadi pertanyaan lain. Namun tetap signifikan untuk dijawab dan dituntaskan.

Bagi pengikut Habib Rizeq, NKRI Syariah adalah solusi. Namun bagaimana dengan sebagian yang lain dan menganggap bahwa kebhinekaan adalah ramat bagi semua golongan, tentu saja gagasan NKRI Syariah ini akan ditentang.

Tidak hanya bagi non muslim yang tentu merasa tidak nyaman dengan monopoli satu agama semata, bagi orang Islam sendiri gagasan NKRI Syariah ini demikiran masih kompleks dan tidak semunya sepakat. Karena NKRI syariah berarti mereduksi terhadap kemuliaan dan keberasan dari Islam.

Gagasan NKRI Syariah mempunyai korelasi dengan piagam Jakarta. Dimana pada saat itu pula memiliki konsekuensi akan retaknya persatuan Indonesia. Dalam relung sejarah, taruhannya juga besar saat piagam Jakarta harus dipaksakan. DImasa lalu yang dipilih adalah persatuan. Enteh jika Prabowo akan jadi Presiden. Tentu gagasan NKRI Syariah menjadi suatu yang mungkin diterapkan.

Pertanyaan selanjutnya, apakah dengan pelabelan syariah dalam negara ini akan menyebabkan kita semakin beragama dan manusiawi? Narasi yang dilakukan oleh Dany JA tentang survei negara negara yang paling islami dan sesuai dengan kemaunisiaan nampaknya menjadi suatu referensi bagi kita.

Negara paling Islami itu bukan negara negara Arab. Tetapi negara yang ada di Eropa. Setidaknya Irlandia, Selandia Baru, Denmark, Kanada dan Australia. Ini menunjukkan bahwa gagasan NKRI Syariah tidak lagi relevan dalam konteks kekinian. Tidak perlu menghidupkan sesuatu yang tampaknya akan merusak hal yang paling berharga dari kita. Yakni persatuan Indonesia.

Lalu kenapa sebagian dari kita masih teralu ngotot dan mendorong gagasan NKRI syariah? Bagi saya bukan hanya untuk kepentingan agama semata. Terdapat motif merajut basis untuk mendukung salah satu paslon dari presiden.

Isu NKRI syariah dihembuskan. Lalu dicipta musuh hantu PKI dan Yahudi sebagai musuh Islam. Sehingga musuh bersama yang diciptakan ini akan merekatkan ikatan yang merasa Islam harus diperjuangkan dan harus menang daripada orang kafir. Salah seorang teman jurusan Sosialogi di kampus saya menyebut teori in group feeling.

Selain itu, propaganda lain untuk mewujudkan narasi NKRI Syariah sebagai suatu yang signifikan dan mendesak dilakukan adalah tentang kondisi Indonesia yang dianggap paradox. Maka disebarkanlah masalah Indonesia. Mulai dari hutang yang kian besar, kebocoran asset atas asing, TKA China di Morowali, dan sederet hoaks yang terus dibarkan untuk mencipta ketakutan.

Pada saat itu pula, kita harus terus bersuara. Setidaknya menyumbangkan narasi untuk menjaga persatuan. Islam yang saya inginkan adalah substansi. Bukan sekadar pelabelan simbolik yang didorong oleh kepentingan politik. Muliakan Islam dengan cara hidup yang Islami.