Banyak calon sarjana bahkan sarjana mengalami kekhawatiran ketika menjelang lulus atau setelah lulus. Umumnya mereka terbayang akan suramnya masa depan, mulai urusan kerja, jodoh, maupun setelah mendapatkan keduanya. 

Kekhawatiran itu bisa dianggap wajar, bisa pula tidak. Wajar apabila kita menganggap itu sebagai motivasi, namun menjadi tidak wajar jika kita mengorbankan hari ini.

Kebanyakan kita, meski tak mayoritas, yang mengorbankan hari ini karena khawatir. Kasus teranyar yang bisa dijelaskan secara psikologi ialah marah dan kecewanya pendukung salah satu capres. Mereka khawatir capres pilihannya maupun negara akan makin memburuk dan imajinasi negatif lainnya.

Dampaknya, mereka mengorbankan hari ini. Mereka menciptakan sendiri kekhawatiran itu. Mereka mereka-reka kondisi negatif. Mereka terjajah pikirannya sendiri. Akibatnya, segala macam emosi bercampur dan mengendalikan mereka. Lahirlah panik yang menjurus pada penghinaan akal sehat.

Padahal apa yang mereka khawatirkan sehingga memunculkan kepanikan belum terjadi bahkan bisa tidak terjadi. Imajinasi mereka, bahkan saya, terkadang bersetubuh dengan propaganda negatif. Akibatnya, imajinasi memaparkan hal-hal negatif. Kita menjadi panik lalu lahir sikap destruktif, bahkan melanggar norma yang kita adikrodati selama ini. 

Seorang perempuan, ketika mendapat pilihan melanjutkan studi atau mencari jodoh, kerap panik. Kalau melanjutkan studi, khawatir sulit mendapat jodoh; khawatir tidak ada pria yang berani mendekatinya, apalagi melamar. Namun, di sisi lain, ia ingin melanjutkan studi.

Akibatnya, ia panik, bahkan terjerumus di antara ruang yang tak pasti. Bisa saja ia kehilangan kedua-duanya: studi batal dan jodoh pun belum jelas. 

Ia lupa bahwa ia sedang menjalani kiwari bukan masa depan. Penyesalan masa lalu juga muncul: harusnya saya dulu tak hanya berinteraksi dengan buku; harusnya saya lebih terbuka pada pria; dan penyesalan-penyesalan lainnya.

Perhatikan nada-nada penyesalan dari pendukung Prabowo. Mereka mulai menyesali mendukung Prabowo, bahkan mulai mencaci dan menghina Prabowo. Mereka mulai mengungkit-ungkit masa lalu, termasuk kontribusi mereka bagi Prabowo. Padahal masa lalu itu tidak mengubah hasil pilpres maupun berdampak pada kemajuan bangsa ini. 

Imajinasi negatif menguasai diri mereka yang panik. Mereka khawatir akan masa depan negara atas sikap Prabowo. Padahal, jika mereka mau menghadirkan imajinasi positif, berpikir realistis, melihat peluang, pasti mereka dapat tenang serta dapat memungut hikmah.

Mereka harusnya bersyukur andai kata Prabowo dan Jokowi bekerja sama. Entah itu kerja sama untuk kebaikan maupun yang jahat. Mereka harus menghidupkan imajinasi layaknya seorang pelukis. Lukislah masa depanmu, jangan memotret masa depanmu.

Imajinasi terkait dengan yang kita inginkan bahkan yang kita butuhkan. Sehingga imajinasi kreatif yang harusnya kita hidupkan agar ide dapat berkembang. Kita sering lupa bahwa akhir sesuatu berarti permulaan sesuatu. 

Imajinasi kreatif bukan hanya meredakan kepanikan, akan tetapi akan menumbuh-kembangkan ide. Dalam panik, kita tidak mampu menemukan ide; namun dalam imajinasi kreatif, kita bahkan menemukan ide kreatif. Pendukung Prabowo tak perlu panik, apalagi menyesali masa lalu. 

Setiap peristiwa harusnya menumbuhkan imajinasi kreatif bukan kepanikan. Imajinasi kreatif akan menuntun untuk mengidentifikasi masalah hingga solusi. Tanpa imajinasi kreatif, kita akan terus terjebak pada kepanikan dan kekhawatiran. Banyak persoalan lain yang akhirnya terabaikan.

Perubahan-perubahan kecil yang dihasilkan dari imajinasi kreatif dapat memengaruhi meski skala kecil. Kepanikan yang terus kita ternak malah menghasilkan anak-anak panik lainnya. Kita akan menjadi bangsa yang cepat putus asa, bahkan merusak impian yang pernah kita impikan.

Katakanlah narasi Jokowi curang adalah benar, dan Prabowo bertemu dengannya berarti sepakat dengan kecurangan itu. Lalu mengapa harus khawatir berlebihan akan masa depan negara? Sehingga kemudian panik lahir dalam diri, bukankah peristiwa itu harusnya mendorong kita menemukan ide cemerlang?

Fase berpikir divergen dan konvergen akan menuntun kita menemukan imajinasi kreatif. Melalui berpikir divergen, pendukung maupun mantan pendukung Prabowo dapat memikirkan beragam gagasan dalam merespons MRT meeting. Ditopang pula dengan berpikir konvergen sehingga gagasan tadi dapat mengatasi masalah, termasuk kepanikan atas peristiwa itu.

Lahirnya imajinasi kreatif tentang Indonesia bukan hanya bermanfaat mengatasi kekhawatiran masa depan, namun dengan sendirinya panik berubah menjadi energi optimis. Keduanya didukung berpikir intuitif, yang cepat dan otomatis serta analitik, yang tidak tergesa-gesa.

"Nasib baik sebuah bangsa akan dihampiri oleh pikiran yang siap," begitu kata-kata ahli mikrobiologi Louis Pasteur. Jika pendukung Prabowo memiliki pemikiran yang siap, dan rakyat Indonesia pada umumnya juga, maka kebaikan akan menghampiri negeri ini.

Kekhawatiran yang membuat panik pendukung Prabowo merupakan energi negatif. Jika cinta pada Indonesia, kepanikan harus dibunuh; munculkan imajinasi kreatif. Nasib Indonesia bukan di tangan Prabowo-Jokowi. Jangan mau dibodohi kepanikan.

“Pelajari aturan seperti seorang profesional, sehingga Anda bisa melanggarnya seperti seorang seniman.” Demikian pesan Picasso. Mari menjadi seniman negeri, melukis masa depan bangsa dan diri sendiri.