Di dalam kamus oxford dictionary, post-truth didefinisikan sebagai relating to or denoting circumstances in which objective facts are less influential in shaping public opinion than appeals to emotion and personal belief. Sedangkan dalam Cambridge dictionary, mendefinisikan sebagai ”relating to a situation in which people are more likely to accept an argument based on their emotions and beliefs, rather than one based on facts”. 

Pada intinya, apa yang dimaksud dengan post-truth adalah kebenaran objektif itu tidak berlaku dalam pembentukan opini masyarakat karena masyarakat lebih membenarkan kebenaran subjektif yang kebanyakan didasari oleh emosi dan kepercayaan. Kata ini oleh oxford diangkat dalam “world of the year” pada tahun 2016 karena penggunaan katanya meningkat 2000 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penggunaan kata ini juga disamakan dengan kata truthiness, yaitu sesuatu yang tampaknya benar bahkan jika sesuatu itu sebenarnya tidak benar.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa kemajuan teknologi informasi ikut andil besar dalam memengaruhi opini publik. Berita yang ada di Eropa seperti brexit bisa kita nikmati dalam waktu hitungan detik. 

Kita juga bisa mengikuti perkembangan pemilu di Amerika Serikat yang akhirnya dimenangkan oleh Donald Trump. Bahkan kabar dipenjarakannya Ahok pun juga bisa dinikmati oleh orang yang tinggal di Vatikan. Semua itu menyebar cepat dalam kemajuan teknologi informasi. 

Media-media massa mulai mengembangkan sayapnya di bidang elektronik, tidak hanya di media cetak. Tidak semua kabar mengandung kebenaran, tapi kita juga mengenal istilah hoax juga. Inilah yang menyebabkan kemabukan massal dalam memfiltrasi suatu berita. 

Dari sinilah manusia menggunakan emosi dan juga kepercayaannya dalam menanggapi suatu berita. Terkadang lebih mengedepankan sentimennya daripada akal sehatnya. Sehingga pada era pasca-kebenaran ini, antara realitas dan fantasi, antara fakta dan juga imajinasi, terlihat bercampur, seperti tidak ada border line-nya. Pencampuran inilah yang menyebabkan terjadinya post-truth.

Kita sudah sering melihat kejadian yang mana masyarakat pada umumnya mengedepankan emosinya daripada akal sehatnya. Kebenaran objektif menjadi tunduk terhadap kebenaran subjektif. 

Einstein pernah berkata bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Inilah yang terkadang menjadi kesalahan pada masyarakat umumnya. Perkataan ini ditunggangi oleh faktor politik, agama, bahkan etnik atau apa pun yang bisa memanipulasi pikiran dengan data yang berserakan. 

Ambil contohnya ketika seorang otoriter lengser, pengikutnya merasa sedih dan pemberontaknya merasa menang. Kalau sang otoriter menang dan tidak jadi lengser, maka pencitraan yang digunakan di media massa yang dikuasainya sehingga kebohongan pun tampak akan menjadi kebenaran yang universal. 

Ketika orang mengalami suatu bencana, banyak orang ikut bersedih dengannya. Akan tetapi, cara menanggapinya berbeda-beda. Politisi memanfaatkannya untuk pencitraan; agamawan mengaitkannya dengan hukuman dari tuhan; pengusaha-pengusaha menggunakannya dalam bentuk solidaritas; dan lain sebagainya. 

Pada dasarnya, penderitaannya sama tapi sumber informasinya yang berdea-beda. Dan kebanyakan post-truth ini dipakai untuk “populisme” atau keberpihakan terhadap sebagian besar rakyat kecil. 

Suatu isu atau informasi dibungkus oleh baju-baju politik dan agama. Dua hal ini memang yang sangat bergantung terhadap era pasca-kebenaran ini. Kita lihat bahkan tagar saja bisa menarik jutaan massa.

Seperti apa yang telah kita singgung sebelumnya, pada era ini memang sulit untuk membendung suatu informasi yang dipublikasikan di media sosial. Sikap kritis kita sudah kalah jumlah dengan banyaknya berita yang kita baca, itupun jika dibaca sepenuhnya. 

Terkadang kata-kata izin share menjadi kata-kata ajaib seperti sim salabim. Mengubah persepsi orang semudah mengucapkan kata itu. yang terpenting bagaimana kita bisa mengolah informasi dan juga bisa mengkritisi isi informasi tersebut, tidak hanya melihat dari judul suatu berita lalu kita ikut meramaikannya. Karena bisa dibilang suatu berita pada zaman sekarang ini too good to be truth, selayaknya juga era post-truth ini, di mana kebenaran objektif hanya menjadi suatu utopia belaka.