Politik itu ibarat pisau. Jadi orang yang menggunakan pisau itulah yang menjadi soal. Istilahnya, the man behind the gun; kalau yang memegang pisau itu orang beriman, tentu yang dipotong leher ayam; namun kalau yang memegang orang sadis, yang dipotong, ya leher temannya sendiri. Biasanya seperti itu politik. Karena itu politik, harus dilandasi dengan moral. Tanpa moral, ia akan menjadi sadis.

Kalau begitu, apakah perlu penjabaran arti politik yang jelas dalam situasi sekarang? Ya, politik dalam arti yang praktis bukan eranya lagi. Namun politik sebagai strategi untuk mencapai power yang positif, apakah pendidikan, ekonomi, itu diperlukan. Hal ini bisa berkaitan dengan silaturahmi yang intinya adalah ukhuwah. Kalau nilai ukhuwah ini sudah melembaga, maka akan menjadi jamaah dan jamaah itu sudah merupakan suatu power. Sekali lagi, power dalam arti yang positif.

Sebab kalau kita bicara power, gambaran orang seakan-akan sedang menyusun kekuatan. Kekuatan fisik bukan mengarah ke sana, tapi katakanlah poleksosbud. Dari situ berarti, selama ini potensi umat Islam belum terorganisasi secara baik. Karena itu, kita menginginkan jamaah nonsektoral. Kita coba mencari terobosan yang jamaahnya bersifat kafah, universal. Jadi, bagaimana kita bisa program minded, bukan organisation minded. 

Karena itu, kalau mereka di NU, jangan lantas fanatik dengan NU-nya. Begitu juga yang di Muhammadiyah. Setiap sektor tentu punya misi sendiri-sendiri, itu biarkan saja. Namun ketika mencuat ke permukaan, kita satu warna.

Mengenai golput, hal itu berkaitan dengan sikap politik seseorang. Orang melakukan sesuatu tentu ada motivasinya. Bila dia tidak mendapat motivasi, tentu dia tidak akan melakukan pilihan. Itu merupakan hak asasi yang harus dihormati. Namun hak itu tidak boleh dikampanyekan pada orang lain. Mengajak orang lain bergolput, itu hal yang tidak benar.

Buat saya, pemilu adalah satu sarana di mana kita menikmati kehidupan demokrasi. Bahwa ada yang kita rasa kurang puas, itu saya kira merupakan proses ke arah yang kita harapkan. Sebagai orang Sunni, sikap kepada politik dasarnya akomodatif. Dengan sikap ini tidak kehilangan daya kritis. Politik Sunni adalah mementingkan mashalihul-ammah (kemaslahatan umum) atau dalam bahasa lain bisa disebut sebagai konsensus.

Terhadap umat Islam, saya berharap dapat mengikuti dengan baik, walau di sana-sini masih banyak kekurangan dan umat Islam tidak golput serta dapat menggunakan hak pilihnya dalam pesta demokrasi. Perkara di sana-sini masih banyak kekurangan, itu hal yang wajar, karena pada saat ini Indonesia masih dalam tahap pertumbuhan dan proses, bukan bentuknya tapi idealnya. 

Saya kira bentuk Pancasila itu sudah final dan proses ke arah itu sedang kita jalani. Amerika saja perlu 200 tahun untuk menjadi suatu negara yang mapan..

Walaupun golput merupakan hak asasi, sebaiknya umat Islam jangan golput. Andaikan golput, jangan mengajak kawannya. Kemudian kepada pemerintah sendiri sebagai penyelenggara sekaligus wasit, ia harus berlaku adil (moderasi). 

Masyarakat kita memang sedang berproses. Proses ini bukan titik final dari idealisme. Namun sampai kapan kita akan mencapai pendewasaan politik? Berapa tahunnya, itu relatif. Yang jelas tidak drastis seperti yang kita harapkan, proses kita masih panjang.

Demokrasi masih lemah. Ya, ini sebetulnya tergantung sumber daya manusianya. Kalau kita lihat lembaga DPR saja, mereka kan masih merasa sebagai pegawai negeri. Dari segi ini saja sesungguhnya mereka sudah tidak aspiratif. Dalam keseharian, mereka juga bukan orang yang dekat dengan rakyat. Belum lagi adanya budaya recall, adanya tata tertib yang ketat, dan sebagainya.

Mereka memang berangkat dengan segenap idealisme untuk menjadi wakil rakyat. Tapi, sampai saatnya ia akan terbentur dengan bermacam aturan tata tertib. Ini kendala, sehingga lembaga ini nyaris tidak pernah menggunakan hak inisiatif. Sepenuhnya datang dari eksekutif, pemerintah. Jika ada sinyalemen DPR hanyalah stempel rakyat, itu tidak sepenuhnya salah. Karena itu, demokratisasi lalu perlu dipacu.

Saya mengibaratkan kehidupan politik di negara kita seperti bunga dalam jambangan, dipertahankan keberadaannya, dirawat, dan disirami. Tapi dijaga jangan sampai tumbuh terlalu besar. Akarnya tak boleh mengakar dalam. Ini kan tidak ideal. 

Tetapi saya juga punya asumsi bahwa ini hanya temporer, karena demokrasi itu sendiri proses. Umumnya para penguasa di dunia ini cenderung mempertahankan kekuasaannya. Seninya yang berbeda. Ada yang kasar, ada yang halus. Tapi sama-sama tirani. Apalagi kalau kekuasaan itu jangan dipaksakan.