Siapa yang tak ingin tinggal di negara yang tenang? Setiap orang tentu menginginkannya. 

Tahun ini, ketenangan publik agak diusik lantaran pesta akbar politik. Masing-masing parpol tengah berbenah diri demi menuai prestasi. Rakyat pun turut memilih bakal calon pemimpin negeri.

Sementara itu, beberapa politikus justru sibuk membuat informasi yang menakutkan publik dan membawa nada pesimisme. Seolah, sudah tak ada harapan lagi untuk kemajuan negeri ini. Seolah, semua politikus itu rakus layaknya tikus.

Sayangnya lagi, tahun politik ini agaknya diwarnai carut-marut berita bohong, politik SARA dan ujaran kebencian. Alih-alih kontestasi gagasan, banyak parpol justru sibuk mencetak berita palsu yang menjegal partai lawan. 

Parahnya, rakyat dibuat takut dengan masifnya berita palsu yang kian kisut. Seolah, negeri ini sudah tak ada harapan untuk masa depan yang mapan.

Inilah yang membuat rakyat muak dengan dunia politik. Bahkan, politik dianggap kotor dan tabu karena penuh dengan intrik. Segala cara dilakukan demi mendapat dukungan, termasuk “membodohi” rakyat. 

Tak heran, banyak rakyat menjadi pesimis menyambut tahun politik ini. Seakan, tahun ini menjadi sumber persoalan yang membawa perpecahan.

Inilah keculasan sikap yang pernah yang dilakukan kaum Sofis pada masa Yunani kuno, yakni membangun pesimisme publik dalam hidup bersama. 

Dalam pesimisme ini, rakyat masih harus menerima kenyataan bahwa muncul politik yang “menakut-nakuti”. Kemunduran roda ekonomi, banyaknya bencana, dan masifnya kejahatan dikait-kaitkan dengan ideologi politis yang sering kali mengadu-domba rakyat dan pemerintah.

Malangnya, tahun ini diwarnai dengan aksi politisi yang memutarbalikkan akal sehat. Tuhan dijadikan tameng untuk bertahan. Agama dijadikan senjata untuk berkuasa. Bukan pengabdian publik yang diupayakan, tapi malah kepentingan golongan. 

Orang baik disingkirkan dan “disulap” menjadi penjahat. Sementara itu, orang jahat semakin menipu rakyat dengan embel-embel ganjaran surga.

Tak heran, rakyat resisten terhadap politik. Bahkan, rakyat menjadi apatis terhadap sepak terjang dan drama politik. 

Politik pun dianggap buang-buang waktu karena menjadi tempat perkumpulan para penjahat rakyat. Muaranya adalah sikap rakyat yang anti politik dan menjadi golput dalam pemilu mendatang.

Politik Optimis

Padahal, makna sejati politik bukan sekadar tempat perebutan kuasa. Politik adalah sarana tatanan kuasa demi menciptakan kebaikan bersama. 

Seorang filsuf akbar, Plato menyebut bahwa setiap orang wajib berpartisipasi dalam membangun politik negara demi kebaikan bersama. Artinya, tahun politik adalah saat ketika rakyat menentukan pilihan untuk calon pemimpinnya. Tahun ini adalah momen untuk rakyat mengevaluasi dan meresolusi harapan di masa yang akan datang. 

Ini adalah saat yang perlu disambut dengan optimis, bukan pesimis. Cita-cita, euforia, dan semangat inilah yang perlu dikembangkan di tahun politik, bahwa ada titik cerah dalam setiap calon pemimpin.

Politik optimis ini juga memiliki daya penggerak rakyat untuk bekerja sama dalam membangun kebaikan bersama. Pasalnya, kebaikan bersama ini tak akan tercipta apabila rakyat apatis, hanya meringkuk dalam ketakutannya atau sibuk menjatuhkan lawan politik.

Politik optimis seyogianya merekonsiliasi kesalahan di masa yang telah lalu. Inilah saat untuk mengevaluasi kinerja. Inilah saat untuk membangun visi ke depan dan menuntaskan persoalan. Lantas, kontestasi gagasan perlu diimbangi dengan kontestasi kinerja nyata, bukan dengan perang ujaran kebencian.

Di sini, politik optimis mampu membangkitkan semangat dan harapan untuk visi ke depan. Politik hendaknya melihat peluang ini sebagai kesempatan untuk berlomba-lomba menguji kelayakan pemimpin. Biarpun persoalan terus melanda negeri, namun usaha untuk maju tak boleh berhenti.

Negara yang sejahtera tak bisa dimulai dari umpatan dalam kemalasan. Negara yang optimis juga tak akan tercipta hanya lewat ujaran kebencian di media sosial. Semua rakyat harus memulainya dengan optimis. 

Hal sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan cermat mengamati para calon pemimpin negeri. Lebih dari itu, rakyat perlu berpartisipasi lewat pesta demokrasi ini.

Daripada mengeluhkan kegelapan, lebih baik menyalakan terang untuk diri sendiri dan sesama. Pepatah ini tepat menggambarkan optimisme dalam pesta politik tahun ini. 

Mengeluh dan mengkritik saja tak akan cukup untuk memajukan negara ini. Sebaliknya, antusiasme hendaknya dihidupkan dalam pesta demokrasi kali ini. Bukankah pesta ini adalah pesta seluruh rakyat?

Kini, rakyat boleh menilai bakal calon pemimpin yang layak. Rakyat seyogianya tak mudah dikendalikan oleh sentimen sesaat yang menggelapkan akal sehat. Hendaknya, masing-masing kubuh pendukung paslon tak lagi saling mengumbar kebencian yang memantik perpecahan. Di sisi lain, pemerintah perlu tegas dalam menjamin kampanye yang sehat.

Akhirnya, rakyat memang tak selamanya sepakat dalam berpendapat. Kenyataan ini harus diterima dengan lapang dada. Pasalnya, di dunia ini tak ada suatupun yang sungguh-sungguh sama. 

Perbedaan pendapat ini harus diterima dan dihargai, asalkan dituntun dengan akal sehat. Spe et facere! Berharap dan lakukanlah! Niscaya, cita-cita kebaikan bersama akan menjadi nyata.