Kampanye “Bupati Lalaki” atau Bupati Lelaki Jimmy patut disayangkan. Ia bermasalah sejak awal sebab dua hal, pertama menunjukkan watak politiknya yang partisan dan memecah-belah, dan kedua menanggung nilai edukasi politik yang buruk dan bertentangan dengan asas-asas kesetaraan gender yang telah lama diperjuangkan oleh banyak tokoh dan pahlawan nasional. 

Ini belum lagi jika kita harus hitung, dengan narasi keislaman yang ia bawa-bawa selama ini. Seolah Islam tidak pernah memberikan ruang bagi perempuan untuk memimpin.

Hal ini berkebalikan dengan yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang juga Kiyai, yakni Gusdur. Saat Gus Dur terpilih sebagai Presiden RI ke 4, sambil memegang tangan Megawati Soekarnoputri, ia menyatakan ‘kemerdekaan’nya yang kedua setelah kemerdekaan pertama pada tanggal 17 Agustus 1945, kemerdakaan dari rezim yang menempatkan perempuan sebagai golongan kedua.

Saat ini, ketika dunia masuk era modern, terjadi perubahan pandangan terhadap kedudukan perempuan, dampaknya ada banyak sekali pemimpin-pemimpin dunia yang perempuan. Dan mereka tak kalah cakapnya dari pemimpin-pemimpin yang notabene laki-laki.

Saat dunia semakin maju pesat, perempuan yang mendapat mandat kepemimpinan kian meroket kuantitas dan kualitasnya, masih saja ada politisi sesenior (dan konon kaum santri pula) yang mereduksi pencapaian itu dengan kampanye politiknya yang murahan.

Bagaimapun sangat aneh jika Jimmy masih berpijak pada model komunikasi politiknya dengan pandangan yang menyudutkan kaum Hawa sebagai kaum lemah alias tak layak memimpin. 

Lagi-lagi watak politik demikian bertentangan dengan negara demokrasi seperti Indonesia, yang secara konstitusional menjamin adanya hak-hak yang rata bagi setiap warga negaranya.

Mengenal Misoginisme dalam Politik 

Istilah misogini (mysogyny) secara etimologi berasal dari kata misogynia (Yunani) yaitu miso (benci) dan gyne (wanita) yang berarti a hatred of women, yang berkembang menjadi Misoginisme (mysogynism), yang bermakna suatu ideologi yang membenci wanita. 

Kamus Ilmiah Populer menyebutkan, terdapat tiga ungkapan berkaitan dengan istilah tersebut, yaitu misogin artinya benci akan perempuan, misogini artinya perasaan benci akan perempuan, misoginis artinya laki-laki yang benci pada perempuan.

Ringkasnya, istilah misoginis digunakan untuk doktrin-doktrin maupun tindakan dari pemikiran yang secara zahir memojokkan dan merendahkan derajat perempuan. 

Dalam politik, kita mengenal banyak model kampanye. Dari yang paling bersih dan luhur, sampai yang paling jorok dan kotor. Dari yang paling adil dan cerdas, sampai yang paling tak adil dan bodoh.

Lalu di mana kita letakkan jargon politik “Bupati Lalaki” atau #KRWButuhBupatiLalaki ini? 

Saya kira Anda terlalu cerdas untuk diberitahu oleh saya yang cuma mahasiswa dari universitas lokal ini.

Islam dan Misoginisme

Islam diyakini oleh para pemeluknya sebagai rahmatan Li al-alamin. Salah satu bentuk dari rahmat itu adalah pengakuan Islam terhadap keutuhan kemanusiaan perempuan setara dengan laki-laki.

Dalam al-Quran tidak ada ayat yang misoginis, atau secara spesifik mengutarakan kebenciannya, ketaklayakannya, pada perempuan. Dalam AL-quran semua hamba Allah Swt mempunyai potensi yang sama untuk mengerjakan amal saleh sebagai hamba. Liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amalaa.

Memang sebelum turun AL-Quran, sejak lama perempuan dipandang tidak sebagai manusia yang utuh, tidak punya posisi-posisi yang penting bagi masyarakat, kemudian islam datang dan perlahan kultur itu terhapuskan, Jimmy yang juga tahu sejarah Islam saya kira tahu betul soal ini.

Pada masa jahiliyah, memiliki anak perempuan adalah hal yang sangat memalukan dan menurunkan kehormatan (pride) mereka, sehingga banyak yang mengubur anak perempuannya hidup-hidup.

Motifnya sering kali konyol, seperti ketakutan jika keturunan perempuan akan menambah beban ekonomi; dan  ketakutan akan kehinaan yang sering kali disebabkan karena para gadis yang ditawan oleh suku musuh dan selanjutnya menimbulkan kebanggaan penculiknya di hadapan orang tua dan saudara laki-lakinya.

Secara betahap Islam hadir mengembalikan hak-hak perempuan sebagai manusia merdeka. Perempuan dalam Islam terus diberikan kelonggaran dalam mengakses hak-haknya di ruang publik. Perempuan berhak menyuarakan keyakinannya, berhak mengaktualisasikan karyanya, dan berhak memiliki harta benda, juga nilai-nilia kontribusi lainnya yang memungkinkan mereka diakui peran dan kemanfaatannya oleh masyarakat.

Hari ini, masa Jahiliyah (kebodohan) telah berlalu, tapi watak jahiliyah itu rupanya masih di situ-situ saja. JIka di masa jahiliyah, perempuan direndahkan karena takut tak bis makan, kali ini perempuan direndahkan karena takut apa? Tidak kebagian makan juga?

Gaya komunikasi politik H. Ahmad "Jimmi" Zamakhsyari ini bukan saja ketinggalan zaman, tapi juga bisa disebut anti political-correctness (kepatutan dalam politik), juga bertentangan dengan bvisi rahmatan lil-alamin. Jika terus tak kunjug mengoreksi kesalahannya ini bakal punya dampak  yang buruk, sebab akan menjadikan pendidikan politik yang buruk masyarakat.

Saat banyak pemikir dan politisi modern mengajukan pentingnya memberikan "ruang aman dan nyaman" bagi perempuan untuk berkontribusi di masyarakat, ini malah menutup progres tersebut dengan model kampanye politik yang tak patut.

Jika dalam komunikasi politik saja sudah mencerminkan watak-watak tipikal seperti ini, kita bisa tebak bakal seperti apa nanti model-model kebijakannya.

Sumber bacaan: