Sekolah adalah tempat belajar, miniatur kehidupan, bahkan kehidupan itu sendiri. Di dalam sekolah ada sistem atau aturan yang wajib ditaati oleh guru, siswa, kepala sekolah, staf, dan seluruh komponen di dalamnya. 

Tujuannya tentu karena ingin membentuk dan melahirkan generasi penerus bangsa yang kuat, hebat, dan berkarakter. Oleh sebab itu, manajemen sekolah mesti mengedepankan prinsip-prinsip yang berlaku di negara ini. Salah satu sistem yang belum tergantikan pamornya hingga saat ini adalah demokrasi.  

Meski sepopuler itu, wajah demokrasi masih ditakuti bila itu menyangkut politik masuk ke sekolah. Apalagi tahun ini adalah tahun politik. Beberapa provinsi, kabupaten/kota akan menggelar pemilihan kepala daerah secara serentak. 

Ini adalah momen dan peluang yang baik untuk pendidikan demokrasi bagi anak didik di sekolah khususnya sekolah-sekolah menengah atas, pun bisa sebaliknya sebagai ancaman jika dikelola dengan cara yang tidak benar. Bagaimanapun, pendidikan harus membantu demokrasi dalam menyelesaikan perkembangannya menuju kematangan berdemokrasi yang sesungguhnya. 

Meminjam narasi Plato dan Aristoteles “as is the state, so is the school, what you want in the state, you put in to school.” Narasi tersebut bisa kita maknai bahwa sebagaimana negara kita, seperti itulah sekolah, jika kita menginginkan sesuatu dalam bernegara maka sudah kewajiban pula kita menyediakannya di sekolah. 

Jika kita menginginkan bangsa ini menjadi bangsa yang demokratis, maka nilai-nilai demokratis harus ditanamkan pula pada generasi muda di sekolah.

Menanamkan Demokrasi

Kata sifat dari demokrasi adalah demokratis. Pendidikan harus mampu mewujudkan kata sifat tersebut menjadi sebuah karakater dan tradisi dalam kehidupan sekolah, jangan setengah hati. Caranya tentu perlu memperkenalkan politik secara terbuka kepada anak didik kita agar mereka paham nilai politik dan kebijakan politik penguasa. 

Politik yang dimaksud di sini merupakan upaya yang ditempuh untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Maka nilai politiknya adalah apa yang sudah tertuang dalam Ideologi bangsa Indonesia yakni, Pancasila.   

Pertama, anak didik harus memahami dan mengamalkan bahwa ketuhanan yang maha esa adalah sebuah nilai yang mengandung unsur moralitas, dan dalam berpolitik prinsip moralitas seperti menghargai perbedaan agama, berperilaku baik terhadap sesama, tidak saling menjatuhkan, dan saling bantu membantu tetap harus dikedepankan sebagai identitas politik bangsa Indonesia.  

Kedua, anak didik harus meyakini bahwa dalam berpolitik, meski berbeda pandangan, suku, dan agama, kemanusiaan tetaplah utama. Ketiga, anak didik harus dididik agar menghayati secara mendalam bahwa politik itu adalah alat untuk menyatukan perbedaan, alat untuk merangkul semua golongan, dan menanamkan di hati masing-masing siswa agar menempatkan kepentingan bersama/negara di atas kepentingan individu atau kelompok. 

Keempat, anak didik harus diberi pemahaman bahwa dalam berbangsa dan bernegara, kedaulatan itu berada di tangan rakyat, pemerintahan itu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Kelima, anak didik harus memahami dan mendalami secara khidmat bahwa dalam politik itu keadilan adalah panglima, siapapun penguasa harus bisa bersikap adil kepada seluruh masyarakat Indonesia tanpa membeda-bedakannya.

Penjabaran ini adalah penegasan terbuka, sekiranya sekolah-sekolah kita tidak boleh alergi politik, apalagi jika praktik demokrasi berjalan setengah hati. Kita tidak perlu takut membangun budaya politik demokratis di sekolah jika tujuannya sesuai dengan pesan-pesan filosofis Pancasila. 

Kartini Kartono (1996) mengatakan bahwa pendidikan politik itu adalah bentuk edukasi kepada seseorang agar terbentuk menjadi individu sadar politik serta bertanggung jawab atas tujuan bersama. Jika dilakukan, hal itu pasti akan mendorong lompatan perubahan bagi konteks demokrasi di sekolah. 

Sesungguhnya, momen pilkada serentak ini bisa menjadi ajang diskusi dan penanaman prinsip-prinsip berdemokrasi yang baik dan benar. Kenapa demikian? Contohnya nyata dan sangat terasa, dari golongan paling tua hingga golongan paling muda terkena dampak narasi politik yang sedang berkembang di luar sekolah. Kesempatan ini tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja.

Sekolah Demokratis Menuju Bangsa Demokratis

Seperti ungkapkan Plato dan Aristoteles sebelumnya bahwa "sebagaimana negara, seperti itulah sekolah," jika kita hendak membangun peradaban bangsa yang benar-benar demokratis, berbudaya luhur, dan dihormati oleh bangsa lain maka saat ini, detik ini pula tanamkan sedini mungkin nilai-nilai demokrasi Pancasila di benak masing-masing anak didik. 

Sekolah hari ini adalah cerminan bangsa di masa yang akan datang. Jadi, jika di sekolah saja demokrasinya hancur maka jangan harap masa depan demokrasi Indonesia bisa matang seperti harapan kita semua. 

Anggap demokrasi itu tongkat estafet, maka sangat disayangkan kalau tongkat yang diberikan dari generasi ke generasi adalah tongkat patah dan rapuh. Agar tidak demikian, sekolah harus belajar menerima politik dan demokrasi sebagai sesuatu yang integral dengan sistem dan manajemen sekolah.

Untuk mendukung semua itu, proses politik atau aktivitas politik disekolah harus dimainkan secara demokratis. Misalnya, kepala sekolah wajib melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan, meningkatkan partisipasi siswa dalam ajang pemilihan ketua organisasi baik intra maupun ekstra, dan memberikan kesempatan kepada siswa agar mampu mengimplementasikan demokrasi di kelas, forum organisasi, dan di masyarakat. 

Cara ini ditempuh tidak lain untuk mendidik siswa menjadi manusia yang memahami dengan baik hak dan kewajibannya sebagai warga negara Indonesia. Hari ini generasi muda banyak salah arah dan hancur karena penanaman demokrasi dan pancasila di sekolah setengah hati.

Anak-anak inilah yang nantinya akan mengisi ruang-ruang pemerintahan, ruang politik, industri, dan komponen lain bangsa ini. Mereka akan mengisi masanya sendiri dengan bekal yang sudah kita berikan hari ini. Jika hari ini di hati anak didik kita tanamkan demokrasi yang penuh nilai luhur Pancasila, maka hasilnya pasti Negara Demokrasi Pancasila. 

Jika hari ini kita tanamkan karakter dan budi pekerti yang luhur, maka dimasa depan akan tampil pemimpin-pemimpin jujur, santun, berani, dan berintegritas. Dengan begitu, kita akan tampil sebagai negara Indonesia yang benar-benar berideologi Pancasila.