Bagaimana dengan kata “politik” dan kata “ibadah” dalam persepsi yang seringkali timbul dalam stigma masyarakat? Ya, ada banyak pandangan, terutama dari berbagai sudut pandang.

Ketika kita bicara suatu pengertian awam yang berkembang dalam masyarakat modern saat ini, terdengar klise akan keberanian kita menyebut bahwa “politik adalah ibadah”. Mengapa?

Setidaknya kita tahu, secara kasat mata, politik seringkali dianggap “kotor” oleh kebanyakan masyarakat era saat ini. Dan “ibadah” ialah suatu kegiatan yang baik dan agung. Maka dari itu, perlunya kajian lebih dalam dari semangat “politik adalah ibadah” perlu digencarkan.

Terlebih bagi jiwa-jiwa santri, jiwa-jiwa pelajar yang siap maju menjadi generasi penerus bangsa. Sebab politik adalah sebuah kegiatan agung jika kita mengetahui bahwa prinsipnya itu merupakan usaha bagi kemaslahatan rakyat bersama.

Menurut ahli politik di Indonesia Prof. Miriam Budiardjo, politik adalah bermacam-macam kegiatan, dari perumusan cara, pelaksanaan, hingga tercapainya suatu tujuan (Budiarjo, 2008).

Terlebih sebagai pemahaman yang hakiki akan sebuah makna politik dilihat dari sudut pandang filsafat,bahwa filsuf kenamaan Yunani Kuno bernama Plato mengatakan bahwa “politik hakikatnya adalah untuk kesejahteraan rakyat”.

Ini sejalan dengan makna “politik adalah ibadah yang disampaikan oleh Ibnu Aqil bahwa politik merupakan segala aktivitas yang membuat manusia lebih dekat dengan kebaikan dan lebih jauh dari kerusakan (Elvandi, 2011).

Terlebih manusia ialah Khalifah di bumi. Sedangkan makna “ibadah” sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu “ibadat” yang artinya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perbuatan atau pernyataan bakti terhadap Allah yang didasari oleh peraturan agama.

Secara permaknaan, politik sebagaiman cita-cita bersama bagi kemaslahatan rakyat ialah suatu ibadah yang baik. Tapi jika dilihat dari implementasi yang terkadang berbeda dari hakikatnya itu merupakan sebuah pertanggungjawaban pribadi kepada Allah dan rakyat.

Menurut hemat penulis, politik adalah ibadah ialah sebuah pernyataan klise yang seringkali banyak disetujui oleh masyarakat. Tapi politik adalah ibadah merupakan sebuah semangat yang didalamnya mengandung sebuah manfaat bagi kemaslahatan rakyat. Bagaimana lebih jauh lagi kita memandang politik adalah ibadah?

Jika pelaku politik atau aktor politik yang memegang jabatan publik merupakan para politikus yang amanah, jujur, santun, dan memegang teguh nilai-nilai kemaslahatan bersama bagi rakyat.

Terlebih seorang pejabat public, ketika sudah menjabat sebagai eksekutif dan legislative tentunya telah disumpah jabatan berdasarkan aturan agama masing-masing. Di saat itu lah, pertanggungjawaban politik langsung di hadapan Allah, rakyat, dan pemangku jabatan yang lainnya.

Politik adalah ibadah? Menurut opini penulis, ialah sebuah tolok ukur bagaimana berpolitik. Semua kebaikan ialah ibadah, bahkan senyum ialah ibadah. Bagaimana tidak perbuatan politik yang bermacam rupa dan bertujuan sebagai kebaikan banyak orang bukan lah merupakan ibadah?

Justru dengan politik, merupakan tempat aplikasi ibadah. Politik adalah sarat akan tujuan yang mulia, jika dijalankan sebagai hasil kebaikan rakyat.

Bagaimana kita menelesurinya? Ya, perlu semangat optimisme, sebab golongan apatisme akan sulit menerima, bahwa politik adalah ibadah. Mengapa? Sebab mereka melihat politik hanya dalam satu sudut pandang saja.

Politik adalah Ibadah: Cara Pandang Menjunjung Kemaslahatan Rakyat Sebagai Tujuan Mulia

Opini bahwa politik adalah ibadah merupakan suatu ungkapan klise, yang di lain sisi justru mengandung semangat, dan solusi bagi kemaslahatan bersama yaitu; pertama, pemikikiran politik sebagai ibadah akan utuh kita dapatkan jika politik memiliki tujuan yang mulia.

Sebab politik merupakan jantung kehidupan bangsa. Mengapa? Sebab dari politik lah lahir hokum, lahir kebijakan ekonomi, dan bermanfaat untuk segala aspek kehidupan. Apakah kaum apatisme melihat bahwa negara tanpa politik ibarat “society without state” (masyarakat tanpa negara).

Hidup yang tidak beraturan, kacau, dan dalam keadaan perang. Maka dari itu politik merupakan usaha, merupakan kegiatan, dan banyak hal yang dapat dilakukan oleh setiap warga negara untuk hidup berdamai, bersatu, aman, dan tenteram.

Kedua, bagaimana dengan fenomena korupsi? Saat politik digunakan sebagai dalih kesalahan bahwa anggapan yang timbul adalah “politik merupakan ajang untuk korupsi”.

Setidaknya secara simpel kita dapat berpikir, jika ruang politik diisi oleh semua orang berperilaku duniawi, koruptif, tidak tegas, dan mencari keuntungan diri-sendiri atau pun golongan.

Bagaimana dengan orang-orang yang masih memegang teguh nilai kebaikan, represensi dari cerminan masyarakat yang beragama, yang takut akan Tuhan untuk ikut serta dalam politik, untuk mengerjakan kegiatan yang bertujuan mulia.

Sebagai usaha menempuh kemaslahatan bersama? Mari cukup terbuka, melihat politik sebagai ibadah. Melihat politik sebagai sarana beribadah. Melihat politik untuk memberikan solusi. Dan melihat politik sebagai esensi Khalifah di bumi ini.

Ketiga, bagaimana dengan fenomena kecurangan dalam politik? Baik itu dalam kampanye negatif, kampanye hitam?

Setidaknya bagi jiwa yang memiliki dasar bahwa politik adalah ibadah tidak akan melakukan cara-cara kotor untuk melakukan pencitraan dan menggait perhatian dan suara masyarakat. Jika setiap calon eksekutif atau pimpinan, dan legislatif atau anggota dewan memiliki jiwa bahwa politik adalah ibadah. Tentunya Indonesia akan sejahtera, damai, aman, dan makmur.

Mengapa? Karena rekruitmen politik didasarkan pilihan yang terbaik, dengan proses yang jujur, dan terpilih aktor politik yang memang baik pula.

Dari sini kita dapat memahami, bahwa nilai “politik adalah ibadah” merupakan nilai luhur yang harus dimiliki oleh setiap aktor politik, pemangku kepentingan, bahkan warga negara untuk hidup berbangsa dan bernegara.

Keempat, sebuah solusi kaderisasi kepemimpinan politik yang baik. Segala persoalan perpolitikan yang merupakan kegiatan buruk untuk bertujuan korupsi dan tidak baik dapat diberikan satu solusi memang. Apa itu?

Jika nilai politik adalah ibadah dimiliki oleh setiap orang. Maka perlu memang, menanamkan nilai-nilai bahwa politik adalah ibadah kepada semua generasi, termasuk generasi santri dan pelajar.

Nilai bahwa politik adalah ibadah merupakan sebuah aplikasi kaderisasi yang secara tidak langsung dalam kurun waktu tertentu akan menghasilkan para pemimpin-pemimpin yang amanah.

Mengapa? Jika saat ini pemangku kepentingan terus gencar menanamkan nilai politik adalah ibadah, maka akan terbentuk jiwa-jiwa patriotik yang berlandaskan nilai-nilai agama yang baik dan penuh perdamaian dari para peserta didik, santri, dan pelajar.

Jika mereka saat ini terus memiliki sikap bahwa politik adalah ibadah, tunggu saja saat rotasi kepemimpinan itu terjadi. Maka akan terpilih sosok-sosok yang unggul dan berbudi pekerti baik pula.

Deposisi Permenungan: Sumbangsih Bagi Indonesia, Menjadikan Politik Sebagai Ibadah

Terbukanya pemikiran kita akan fenomena nyata berkaitan dengan politik adalah ibadah merupakan suatu hal yang baru dan mendasar. PKB merupakan sebuah manifestasi Partai Politik sebagai tujuan kemaslahatan bersama misalnya saat mengajak masyarakat untuk memperbaiki sarana umum, itu merupakan suatu ibadah yang berfungsi sebagai kegiatan berbangsa.

Kemudian saat PKB melakukan kegiatan yang bertujuan untuk menumbuhkan partisipasi para pemuda, santri, dan pelajar melalui berbagai lomba, itu merupakan suatu kegiatan yang bermanfaat. Mengapa? Karena melalui literasi, anak bangsa dapat secara langsung menyalurkan idenya bagi Indonesia.

Melalui literasi pula, anak bangsa dapat terasah kecerdasan dan kepekaannya bagi fenomena bangsa dan negara, termasuk politik. Selain hal itu masih banyak lagi implementasi politik sebagai kegiatan ibadah.

Kini tinggal bagaimana kita memaknai, menjalankan, dan menanamkan nilai-nilai politik. Wajah politik akan terus buruk oleh stigma dan kegiatan kotor atau kah wajah politik akan mulai bersemi dengan implementasi politik sebagai ibadah.

Jika politik digunakan sebagai sarana beribadah, tentunya akan memiliki tujuan yang mulia, termasuk untuk kemaslahatan rakyat.

Termasuk sebagai semangat kaderisasi politik untuk menciptakan generasi penerus dari para santri dan pelajar yang memiliki daya juang, sifat amanah, jujur, dan komitmen memperbaiki negeri. Apa tujuan kita hidup?

Sebagai pelaku korupsi, pemecah-belah rakyat, membawa kehancuran? Atau justru menjadi Khalifah dan hamba Tuhan yang berbakti, membawa kebaikan, dan menjadi solusi bagi sesama? Generasi penerus, Indonesia sejahtera menunggu kita dalam aplikasi sikap politik adalah ibadah (?)

Daftar Pustaka

Budiardo, Miriam. 2008. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Elvandi, Muhammad. 2011. Inilah Politikku. Solo: PT. Era Adicitra Intermedia.

#LombaEsaiPolitik