Padahal masih satu tahun lagi pelaksanaan Pemilu Legislatif 2019. Namun, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menyelesaikan pendaftaran untuk calon anggota legislatif DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. 

Ternyata pada pesta politik 2019 ini, masih saja terselip tradisi lama, di mana ada nama selebritis Indonesia yang terdaftar menjadi bakal calon legislatif. Tercatat ada 54 artis yang menjadi calon legislatif dipemilu tahun 2019.

Para artis nyaleg Tanah Air ini mendaftar melalui beberapa partai yang terdaftar di KPU. Di antara 54 artis nyaleg yang tercatat tersebut, ada banyak artis yang baru kali pertama terjun ke dunia politik. 

Lagi-lagi hal ini membuktikan, bahwa kepercayaan partai politik kepada artis masih tergolong besar. Kursi panas dewan legislatif kembali diperebutkan bak lowongan kerja baru ketika omset pekerjaan lama sudah mulai meredup. Ironisnya, masih ada saja paham kolot yang meyakini bahwa popularitas dapat menarik kuantitas suara untuk kursi anggota dewan dan partai politik. 

Hari ini, popularitas menjadi penting karena anggapan bahwa kualitas sulit untuk dikenali secara luas dalam waktu yang terbatas. Tapi ingat, popularitas belum tentu punya kualitas, meskipun kualitas juga belum tentu punya popularitas dan fans club

Eksistensi artis yang perlahan meredup dan tergantikan seolah menjadi isu miring yang berkembang di tengah masyarakat ketika mendengar banyak artis yang nyaleg. Bermanufer ke arah politik seolah-olah adalah jalan akhir ketika tidak mampu lagi bersaing di dunia hiburan tanah air. 

Bukan maksud hati ingin pesimis, jika artis menjadi wakil rakyat. Tapi mau sampai kapan tradisi lama ini dipertahankan? popularitas lebih penting di banding kualitas. Apakah harus menjadi artis terlebih dahulu agar mulus jalanya menjadi wakil rakyat? 

Artis yang nyaleg tidak boleh bertopang penuh pada popularitas, tapi juga harus memiliki kualitas sebagai wakil rakyat yang siap dan mumpuni. Hal yang perlu ditekankan bahwa kursi dewan bukan tempat mencari pengalaman, tapi tempat untuk mencari celah ketidakadilan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan tentang suatu bidang yang menjadi ekspert orang tersebut dan mengisi celah tersebut dengan keadilan yang berpihak pada rakyat dan bukan kepada kepentingan golongan. 

Belum lagi kita menilik kepada background dari nama-nama artis yang menjadi calon legislatif pada pemilu legislatif tahun 2019 nanti, baik dari background pendidikan maupun sosial. Jika diperhatikan baik-baik, kebanyakan dari mereka berasal dari kalangan pesinetron, atlet olahraga, dan pemusik.

Jangan hanya karna terkenal, tetapi kita sebagai pemilih juga perlu memperhatikan dan mempertimbangkan, nantinya mereka akan masuk komisi berapa dan bidang apa di anggota dewan jika terpilih? Apakah mereka mengetahui fakta-fakta hukum dan norma secara mendalam dalam bidang komisi tersebut? dan Apakah mereka akan berani berargumen malawan politisi senior untuk mengindari kontrol pemain lama? dan Apakah mereka berani melawan korupsi?

Siapa pun yang terpilih menjadi anggota dewan, jangan sampai hanya menjadi politisi D4 (datang, duduk, dengar dan diam). Baik dari kalangan artis maupun tidak, anggota dewan harus punya argumen yang menjadi masukan penting yang juga berpengaruh dalam menjalankan fungsi legislatif, yaitu fungsi legislasi (pembuat undang-undang), fungsi anggaran (menetapkan APBN) dan Fungsi Pengawasan terhadap pemerintah yang menjalankan undang-undang.

Kursi dewan wakil rakyat bukanlah sekadar tempat untuk belajar, bukan sekadar tempat untuk uji keberuntungan, dan bukan juga sekedar melayani masyarakat, tetapi memperjuangkan hak dan kepentingan rakyat. Kursi dewan adalah kursi yang kerangkanya tersusun dari pondasi suara dan kepercayaan rakyat. Maka, ketika terpilih, mereka harus langsung bekerja dan memanfaatkan periode waktu 5 tahun untuk sebesar-besarnya keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan rakyat. 

Tidak ada waktu lagi untuk belajar, belajar harus dilakukan sebelum dirinya terpilih sebagai wakil rakyat, dan bukan pada saat menjabat. Partai Politik harus bekerja keras mendidik calon anggota dewan yang diusungnya, terlebih kepada artis yang baru saja terjun ke politik. Literasi politik, lingkungan politik, dan atmosfer politik didalamnya harus benar-benar dipahami semua calon anggota legislatif supaya mereka bisa langsung adaptasi dan bekerja setelah terpilih.

Perhatikan baik-baik, kebanyakan artis calon legislatif pada pemilu legislatif 2019 berasal dari kalangan pesinetron dan pemusik (musisi dan penyanyi). Semoga saja nantinya jika banyak dari mereka yang terpilih dan menjabat sebagai anggota dewan tidak menjadikan politik kita menjadi politik yang melankolis dan penuh drama bak sinetron. 

Politik melankolis dalam arti politik yang lamban, diam, sayu dan menjadi pengangguk atas semua keputusan yang diusulkan oleh kepentingan golongan tanpa memikirkan kehidupan rakyat. Serta penuh drama dalam arti penuh dengan sandiwara dan topeng kebaikan. Baik dari kalangan artis maupun tidak, mereka yang terpilih nantinya adalah pilihan kita bersama hasil pesta demokrasi kerakyatan yang patut kita support dan kritisi atas amanat yang kita berikan kepadanya.

Semoga siapa pun yang terpilih sebagai anggota legislatif dalam pemilu legislatif tahun 2019 adalah wakil rakyat yang terbaik dari antara yang terbaik, terjujur dari antara yang terjujur, beriman dari antara yang beriman, kompeten dari antara yang paling kompeten, terpercaya dari antara yang terpercaya dan yang paling tulus berniat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Semoga, Amin.