Salah satu tema penting yang sering dijadikan objek penafsiran ulang (re-interpretasi) oleh para pemikir tafsir kontemporer ialah masalah poligami; kebolehan seorang laki-laki menikahi lebih dari satu wanita. Dalam hal ini, ayat yang selalu menjadi rujukan ialah QS. An-Nisa’ ayat 3.

Para pemikir tafsir kontemporer menilai bahwa penafsiran-penafsiran klasik terhadap ayat ini tidak lagi relevan dengan konteks masyarakat masa sekarang. Bagi para mufassir klasik, praktik poligami dianggap sebagai sesuatu yang mubah (boleh), bahkan ada di antara mereka yang memandang poligami sebagai suatu kewajiban yang telah disyari’atkan dalam Alquran.

Tak bisa dipungkiri memang, jika hanya melihat makna literal ayat, maka kita akan mendapati bahwa poligami merupakan suatu hal yang diperbolehkan, bahkan dianjurkan oleh agama. Tak heran pandangan ini sering dijadikan pegangan oleh masyarakat hingga saat ini, apalagi pandangan ini didukung langsung oleh praktik Nabi yang melakukan poligami di masa hidupnya.

Namun masalahnya, apakah cukup untuk memahami ayat Alquran hanya dengan melihat makna teks secara literal saja? Inilah yang menjadi kegelisahan para pemikir tafsir kontemporer.

Bagi mereka, untuk memahami Alquran tidak cukup hanya dengan melihat makna literal ayat, namun juga perlu dan penting untuk melihat konteks yang mengiringi turunnya ayat tersebut. Dengan melihat konteks, seseorang akan lebih bisa memahami pesan dan maksud dari sebuah ayat Alquran.

Dalam kasus poligami, para pemikir tafsir kontemporer mengajak kita kembali melihat sejarah kehidupan bangsa Arab pada abad ke-7 M, baik sebelum turunnya ayat poligami, maupun setelahnya.

Nasr Hamid Abu Zayd (1943 M) misalnya, ia mengatakan bahwa sebenarnya poligami ini telah dipraktekkan oleh masyarakat Arab sebelum datangnya Islam. Kaum laki-laki pada masa itu memiliki kebebasan untuk menikahi wanita semau mereka, tanpa ada batasan. Sebab, kaum wanita pada saat itu dipandang sangat rendah, sehingga bisa diperlakukan apa saja.

Namun kemudian, setelah Islam lahir -tepatnya setelah turun QS. An-Nisa’ ayat 3 ini- praktik poligami mulai berangsur-angsur berubah. Walaupun masih diperbolehkan, tetapi mulai ada pembatasan. Laki-laki hanya diperbolehkan menikahi wanita maksimal sebanyak empat orang dengan syarat harus bisa adil.

Sejalan dengan itu, Fazlur Rahman dan Abdullah Saeed menambahkan bahwa QS. An-Nisa’ ayat 3 ini turun dalam konteks peperangan, di mana ketika itu para suami banyak yang mati syahid, sehingga banyak meninggalkan anak yatim dan para janda. Maka, perintah untuk menikahi hingga empat istri dalam ayat ini dipahami sebagai upaya untuk menyelamatkan anak yatim dan para janda agar mereka tidak terlantar.

Dari penjelasan tentang konteks sosio-historis turunnya ayat ini, minimal ada tiga ideal moral –meminjam istilah Rahman- yang dapat kita pahami. Pertama, ayat tersebut harus dipahami sebagai upaya untuk mengangkat derajat wanita. Kedua, ayat tersebut harus dipahami sebagai upaya untuk menegakkan keadilan. Dan ketiga, ayat ini harus dipahami sebagai upaya untuk menyelamatkan wanita (para janda) agar tidak terlantar.

Lebih lanjut, tidak hanya melihat konteks turunnya ayat, para pemikir tafsir kontemporer juga merasa perlu untuk memperhatikan ayat secara tekstual, terutama dari aspek gramatikal bahasanya.

Dalam kasus poligami ini, Abu Zayd, Rahman, Saeed dan beberapa pemikir tafsir kontemporer lainnya selalu mengaitkan QS. An-Nisa’ ayat 3 ini dengan QS. An-Nisa’ ayat 129 yang berbicara tentang keadilan.

Ternyata, dalam QS. An-Nisa’ ayat 129 ini, dikatakan bahwa laki-laki tidak akan pernah bisa untuk berlaku adil kepada para istri-istri mereka walaupun mereka menginginkan hal itu. Jelas, dalam ayat ini digunakan kata لن (lan), yang secara gramatikal bahasa Arab berarti “tidak akan pernah sampai kapanpun”. Artinya, berlaku adil kepada banyak istri merupakan suatu kemustahilan bagi seorang laki-laki.

Berdasarkan penjelasan dari para pemikir kontemporer di atas, mulai dari penjelasan konteks sosio-historis turunnya ayat, hingga penjelasan gramatikal teks ayat, maka tentu kita dapat menilai bahwa mereka sangat tidak setuju jika QS. An-Nisa’ ayat 3 ini dijadikan sebagai dalil dan legitimasi dari praktik poligami.

Terlebih pada konteks sekarang sudah jauh berbeda dengan konteks masa lalu saat ayat ini diturunkan. Kaum wanita tidak lagi dipandang rendah layaknya dulu, bahkan sekarang mereka sudah dianggap sama derajatnya dengan kaum laki-laki.

Dengan ini, tentu ayat ini tidak lagi dipahami sebagai ayat pembolehan poligami, melainkan sebaliknya. Justru ayat ini sebenarnya mengandung perintah untuk menikahi satu wanita saja, sebab bagaimana pun laki-laki tidak akan bisa berlaku adil kepada para wanita.

Jika para laki-laki tetap memaksakan untuk melakukan poligami, sementara dikatakan bahwa mereka tidak akan pernah bisa berlaku adil, maka tentu akan bertentangan dengan tiga pesan moral dari ayat ini.

Alih-alih ingin menegakkan keadilan, mengangkat derajat wanita dan memuliakannya, justru tanpa disadari praktik poligami ini akan membuat wanita merasakan sebaliknya; merasa direndahkan, diterlantarkan, bahkan merasa ditindas akibat ketidakadilan yang dilakukan laki-laki.