Pilkada serentak kembali akan diselenggarakan untuk menentukan pengisian jabatan Kepala Daerah, baik Gubernur dan Wakil Gubernur juga Bupati dan Wakil Bupati.  Suksesnya suatu pilkada salah satunya diukur dari tingkat partisipasi masyarakat. Salah satu bentuk partisipasi minimal adalah menggunakan hak pilihnya dalam pemungutan suara dalam Pilkada.

Segmentasi pemilih yang mempunyai jumlah terbanyak adalah segmen pemuda. Untuk itu sangat diharapkan peran nyata pemuda dalam suksesnya terselenggara pilkada. Generasi muda harus berpartsispasi dalam Pemilu lokal lebih dari sekedar menggunakan hak pilihnya.

Generasi muda atau spesifik saya tujukan ke generasi Y, yaitu  mereka yang dilahirkan antara tahun 1980-an hingga 2000-an. Mereka saat ini tumbuh dan hidup dalam era dimana aktivitas dimedia sosial tumbuh subur dalam kehidupan sehari-hari. Gaya hidup meraka sangat terpengaruh oleh internet dan gadged.

Bisa dilihat data dari Aosisasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang menunjukan bahwa pada tahun 2015 pengguna internet Indonesia mencapai angka 88,1 juta dimana 49% penggunanya adalah anak muda. Maka dapat ditarik kkesimpulan bahwa saat ini media sosial dikuasai oleh generasi Y.

Perubahan gaya hidup di era sekarang ini juga bepengaruh pada dunia politik. Dimana saat ini media sosial kerap digunakan sebagai media kampanye bagi politisi. Media sosial dianggap efektif dan efisien untuk melakukan kampanye. Disisi lain media sosial kerap digunakan sebagai black campaign dalam berkampanye. Disinilah generasi Milenial diharapkan mampu memilih dan memilah penggunaan media sosial.

Bertepatan dengan akan diselnggarakannya Pilkada pastilah kampanye di media sosial akan ramai. Mengingat lima tahun yang lalu kecanggihan Gadged belum seperti saat ini. Terlebih lagi pilkada merupakan pemilu yang faktor kedekatan dengan masyarakat begitu terasa. Tentunya yang mengambil peranan dalam perkampanyean di media sosial nanti sebagian besar adalah anak muda.

Untuk itu anak muda dalam menghadapai pilkada diharapkan  dapat memberikan partisipasi yang maksimal. Hal ini perlu dilakukan untuk ikut serta mensukseskan Pilkada. Apa saja yang dapat dilakukan oleh generasi Y ini?

Perlu diketahui dahulu seperti apa partisipasi politik itu. Menurut Bolgerini, partisipasi politik adalah segala bentuk aktivitas politik yang mempunyai tujuan untuk mempengaruhi pengambilan keputusan baik langsung dan tidak langsung juga menggunakan cara legal, konvensional, damai, ataupun memaksa.

Sedangkan Budiarjo (2009)  menuturkan bentuk-bentuk partisipasi politik secara konvensional seperti: memberikan suara dalam pemilihan umum, ‘voting’; menghadiri rapat umum, ‘campaign’; menjadi anggota suatu partai atau kelompok kepentingan; mengadakan pendekatan  atau hubungan, ‘contacting’dengan pejabat pemerintah, atau anggota parlemen dan sebagainya. Hal tersebut tentulah bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan oleh generasi muda. Dikarenakan generasi muda saat ini mempunyai banyak faktor pendukung seperti perkembangan teknologi dan informasi.

Bentuk partisipasi dalam Pilkada

Berikut ada beberapa bentuk dari partsisipasi politik dimana generasi Y dapat berperan serta:.

Pertama , mendukung aktif pasangan calon Gubernur atau Bupati. Tentu anak muda memiliki kriteria tersendiri dalam menentukan calon mana yang akan dipilih. Mereka juga menginginkan kemengangan pada calon yang dipilih. Untuk itu generasi muda perlu memberikan dukungan aktif kepada caloh pilihannya tersebut. Dukungan aktif tidak perlu dilakukan dengan jalan bergabung parpol atau mengikuti rapat umum parpol.

Kita pahami bahwa generasi y mengahabiskan sebagian besar waktunya didalam ruangan. Mereka lebih suka aktivitas seperti menonton TV, bermain game, bermain Gadged dan asyik mengobrol di media sosial. Mereka akan lebih suka mengupload foto pasangan calon Gubernur atau Bupati yang mereka pilih, kemudian tinggal diberi caption yang berisi dukungan ataupun pujian.

Kedua , melakukan pengawasan trhadap jalanya tahapan pilkada.. walaupun kita mempunyai pilihan dan mendukung calon tertentu namun kita juga harus menjaga agar Pilkada terselnggara dengan bersih dan adil. Hal ini menjadi paling penting, percuma pilihan kita menang namun Demokrasi tercederai. Ikut mengawasi tahap-tahap Pilkada, kemudian melaporkan jika menemukan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. Menurut saya ini bentuk sikap heroik generasi muda yang mengedepankan objektivitas dan nasionalisme.

Ketiga, memberikan pemahaman tahapan pilkada kepada masyarakat yang marginal. Generasi Y juga di identikan dengan generasi terpelajar. Maka dari itu mereka seharusnya memberikan pendidikan politik kepada kelompok-kelompok marginal.

Kelompok marginal yang dimaksudkan adalah mereka yang tidak mempunyai atau kesulitan  akses informasi terhadap Pilkada . sehingga mereka minim informasi terkait Pilkada. Contohnya adalah kelompok difable, masyarakat miskin, masyarakat terpencil dan terpelosok juga kelompok perempuan.

Generasi muda diharapakan mampu memberi pengetahuan sampai tingkat teknis. Seperti bagaimana cara memilih, bagaiaman jika tidak terdaftar di DPT (daftar Pemilih tetap), sampai mengenalkan siapa saja calon yang maju di Pilkada.

Keempat, menggunakan Hak Pilih. Hal ini menjadi semacam wajib jika kita telah memilih sistem demokrasi yang menggunakan pemilu sebagai jalan memperoleh pemimpin. Walaupun angka Golput di Pemilu tahun 2017 masih tergolong tingggi, namun sudah mengalami perbaiakn daripada pemilu sebelumnya.

Selain menggunakan hak pilihnya generasi muda harus juga ikut mengkampanyekan anti golput. Karena bagaimanapun satu suara yang kita berikan akan sangat beharga. Satu suara yang kita berikan merupakan bentuk dari rasa nasionalisme, cinta tanah air dan juga kepedulian kita terhadap masa depan.

Politik Asyik

Jalan politik yang ditempuh oleh generasi Y pastilah berbeda dengan politik konvensional yang selama ini ada. Mereka akan lebih memilih menggunakan cara-cara baru dan kreatif. Akun-akaun media sosial seperti FB, BBM, WA, Twitter, Instagram dan Youtube akan menjadi media dakwah politik yang asyik bagi mereka. Dengan akun tersebut mereka bisa berkampanye melalui gambar-gambar meme, share link, menggunakan video berdurasi singkat juga tulisan-tulisan singkat. Jadi pastilah nanti terjadi fenomena serupa dalam pilkada . Seperti memberikan dukungan calon Kepala Daerah dengan membuat gambar meme, video pendek atau bahkan lagu singkat.

Generasi Milenial yang identik dengan multitasking akan melakukan kampanye sambil bekerja, sambil mengikuti pelajaran dikelas dan aktivitas keseharian lainnya. Bahkan mereka melakukan aktivitas politik sambil mengenakan celna kolor lalu duduk di teras rumah dengan tangan kanan memegang gadged kemudian sesekali tangan kiri mengambil secangkir kopi untuk dinikmati. Cara berpolitik yang elegan bukan.?

#LombaEsaiPolitik