Kurang lebih setahun yang lalu, grup K-pop idola penulis, Oh My Girl, merilis album mini kelima mereka berjudul “Secret Garden”. Seperti beberapa album sebelumnya, album “Secret Garden” menampilkan fantasi dan esoterisme khas Oh My Girl dalam masing-masing trek.

Trek utamanya, yang juga berjudul “Secret Garden”, menggambarkan seorang anak yang membangun suatu “taman rahasia” dalam imajinasinya. Taman rahasia tersebut tidak lain menggambarkan harapan, mimpi serta optimisme, tidak hanya bagi protagonis dalam lagu tersebut, namun juga bagi Oh My Girl sendiri.

Oh My Girl menggambarkan tempat itu sebagai suatu yang indah dengan semua optimisme dan harapan positif. Taman rahasia mereka adalah tempat bermain yang menyenangkan dan landasan bagi kehidupan yang lebih baik di masa depan, serta tempat di mana kita menyembunyikan sisi paling rahasia dalam perjalanan kehidupan kita.

Dalam video klip “Secret Garden”, digambarkan bahwa YooA, salah satu personil Oh My Girl, memang membawa sebuah pot berisi bunga kuning. Namun, dalam liriknya sendiri, hanya dikatakan secara tersirat bahwa “sesuatu yang hebat dan luar biasa ditanam di sana”

Berbeda dengan visualisasi pada video klip, penulis tidak mengasumsikan “sesuatu” itu sebagai suatu tanaman bunga, melainkan sebuah pohon. Bukan pohon biasa yang mereka tanam, melainkan “pohon kehidupan” (tree of life).

Terinspirasi dari kedua lagu tersebut, penulis mencoba mendalami lebih mengenai kedua arketipe tersebut, yakni pohon kehidupan dan taman rahasia, dalam tulisan ini. Dua-duanya lazim ditemukan dalam banyak kebudayaan di dunia. 

Studi mengenai dua arketipe telah menjadi pembahasan klasik dalam bidang psikologi, terutama dalam studi-studi Carl Jung. Tidak ada salahnya bagi kita untuk mengetahui sepintas tentang keduanya dalam tulisan ini.

***

Baca Juga: Pohon Kehidupan

Pohon sebagai suatu arketipe telah ditemukan dalam banyak narasi klasik di seluruh dunia. Gambaran pohon sebagai suatu yang suci dan keramat serta penuh misteri dapat ditemukan dalam berbagai kebudayaan. Kebudayaan Babilonia Kuno mengenal pohon kehidupan milik Dewa Ea yang jika dimakan buahnya akan membawa keabadian.

Dalam Islam, kita mengenal Sidrat al-Muntaha, pohon bidara di batas langit keenam dan ketujuh. Dalam mitologi Nordik, terdapat Yggdrasil, pohon raksasa yang menopang sembilan dunia. Dalam Hindu, ada Kalpataru (atau Kalpavriksha), pohon ajaib pengabul keinginan.

Kisah-kisah tentang pohon kehidupan sudah ada sejak zaman Mesopotamia Kuno. Satu bagian dari Epos Gilgamesh dari Sumeria Kuno, yang disadur dalam artikel Ronald A. Venkeer berjudul “Gilgamesh and the Magic Plant” (1981) yang dimuat dalam The Biblical Archaeologist, mengisahkan Gilgamesh yang berusaha mencari kehidupan abadi.

Kehidupan yang diinginkan Gilgamesh dapat dicapainya hanya jika ia menemukan tanaman keabadian yang digambarkan seperti “pohon gharqad dengan duri-duri seperti mawar”. Pohon ajaib yang dicari Gilgamesh itu tersembunyi di suatu tempat di bawah lautan yang dalam. 

Meski susah payah menyelam ke bawah laut dan berhasil membawa ranting-rantingnya yang berduri, usaha Gilgamesh berakhir sia-sia setelah tanamannya dimakan oleh seekor ular.

Simbol serupa juga ditemukan pada peradaban Mesopotamia yang lain, yakni Assyria Kuno. Studi Simo Parpola berjudul “The Assyrian Tree of Life: Tracing the Origins of Jewish Monotheism and Greek Philosophy” (1993) yang dimuat dalam Journal of Near Eastern Studies menemukan ukiran motif pohon pada reruntuhan istana Assyria Kuno.

Parpola berhipotesis jika pola pohon digunakan raja-raja Assyria untuk menggambarkan kedudukan mereka sebagai perwakilan dewa di bumi. Pohon melambangkan tatanan dunia yang ditetapkan oleh langit, sementara raja-raja dianggap sosok yang mewujudkan tatanan tersebut. Sehingga, pohon merupakan totalitas dari keseluruhan kuasa dewa-dewa yang disembah oleh masyarakat Assyria.

Pohon-pohon ajaib tersebut dikisahkan tersembunyi di suatu tempat tersembunyi yang sering digambarkan sebagai taman. Dalam mitologi Babilonia tempat itu bernama Eridu dan mitologi Sumeria menamakannya Dilmun. Agama-agama samawi menggambarkan surga sebagai suatu taman yang penuh kenikmatan.

Konsep tersebut muncul juga dalam Kitab Kejadian di mana terdapat pohon kehidupan dan pohon pengetahuan tentang baik dan jahat. Dalam Al Qur’an juga terdapat Sidrat al-Muntaha, pohon bidara yang memisahkan langit keenam dan ketujuh, yang berada di Jannat al-Ma’wa, taman yang menjadi tempat menetap.

***

Carl Jung mengomentari arketipe pohon dalam tulisan-tulisannya. Dalam esai “Psychological Aspects of the Mother Archetype” (1938), Jung menulis bahwa pohon adalah penghubung dua dunia yang saling bertentangan; rantingnya menyentuh langit, sementara akarnya mencengkeram bumi. 

Selain itu, pohon dihubungkan sebagai simbol tentang jalan kehidupan yang tumbuh abadi dan tidak berubah. Dengan kata lain, pohon melambangkan kehidupan manusia yang terus berkembang.

Kaitan pohon sebagai pemberi kehidupan dapat dikaitkan dengan bagaimana manusia mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan liar sebelum pertanian muncul. Selain itu, pohon secara evolusioner adalah “rumah pertama” para primata leluhur manusia yang hidup di pepohonan. 

Kedua sebab tersebut menjadikan pohon tertanam dalam ketidaksadaran kolektif manusia sebagai pusat dari dunia, rumah pertama kita dan penopang kehidupan. Dunia pertama yang kita ketahui berada di antara ranting-ranting.

Mungkin karena kaitan antara pohon dan kehidupan itu lah muncul etimologi keliru dari arti kata “sejarah”. Banyak yang mengira kata itu berasal dari kata Arab “syajaratun”, yang berarti “pohon”. 

Namun, penulis berpendapat jika “sejarah” sebenarnya penyesuaian dari kata Arab lain, “sajal”, yang berarti “catatan”. Sekalipun (mungkin) keliru secara asal usul, tapi pemaknaannya tidak sepenuhnya salah.

Sementara, taman rahasia adalah tempat di mana arketipe-arketipe kita berkumpul. Arketipe kanak-kanak kita hidup bersama dengan arketipe kebijaksanaan kita. 

Persona kita tumbuh berdampingan dengan bayangan (shadow) kita. Maskulinitas kita berdiri bersama dengan sisi feminim kita, begitu juga sebaliknya. Itulah ketidaksadaran (unconscious) yang kita miliki, tempat terdalam sekaligus yang paling rapuh dalam diri kita sebagai seorang manusia.

***

Memahami narasi pohon kehidupan sama halnya dengan memahami proses bagaimana kita menemukan siapa diri kita sebenarnya. Proses tersebut tidak pernah dan tidak akan pernah mudah. 

Untuk menjalani hidup menjadi diri kita adalah hal yang gampang, tapi untuk mengetahui diri yang menjalani kehidupan itu hal yang rumit.

Hal tersebut tampak pada kisah penyaliban Yesus. Salib juga dipandang sebagai suatu simbol pohon. Penyaliban Yesus menandai keutuhan transformasi seorang anak tukang kayu menjadi suatu Firman yang hidup. Seperti halnya lambang pohon di puing-puing istana Assyria, Yesus yang telah disalibkan berubah menjadi suatu gambaran Tuhan di muka bumi.

Transformasi serupa juga tampak pada Muhammad dalam perjalanan Mi’raj. Pohon bidara yang ditemuinya di langit keenam juga menandai transformasi Muhammad menjadi “Manusia yang Sempurna” (Insan al-Kamil). 

Ada diri Muhammad yang baru setelah pertemuan itu yang akan menjalani kehidupan yang penuh petualangan dan kemenangan, kontras dari kesukaran dan penghinaan yang diterimanya dari warga Mekkah pasca turunnya wahyu.

Menemukan pohon dalam imajinasi dan mimpi kita sama halnya dengan menemukan diri (self) kita sendiri dan menanamnya berarti menumbuhkan diri menjadi yang lebih baik seiring perjalanan hidup. Dalam menunggu hingga pohon (self) itu menjadi besar, kita harus menyiapkan taman rahasia (semua arketipe dalam ketidaksadaran) kita.

***

Untuk menjadi diri yang sempurna, kita harus menerima semua aspek kepribadian yang kita miliki, baik positif atau negatif, baik optimis atau pesimis. Inilah makna yang dapat ditangkap dari lirik “Secret Garden”: sebuah perjalanan menemukan diri yang seutuhnya, diri yang terintegrasi dan diri yang menerima sepenuhnya.

Memahami lirik “Secret Garden” dalam konteks psikologi, kita akan menemukan cerita individual dalam perjalanan mencari jati dirinya. Jati diri ini tidak semata kisah menjadi dewasa. Oh My Girl menggambarkan penerimaan diri kanak-kanak mereka dalam proses menjadi dewasa dan bayangan (shadow) di balik persona yang mereka tunjukkan.

Album dan lagu “Secret Garden” adalah gambaran bahwa personil Oh My Girl telah mengalami transformasi dari suatu grup yang tidak dikenal menjadi dikenal oleh banyak orang. 

Dari “Secret Garden” kita juga belajar bahwa kita selalu tumbuh seperti layaknya pohon adalah perjalanan jasmani yang disadari setiap orang. Dari tunas yang rapuh menjadi pohon yang kuat, itulah perjalanan hidup kita.

 Menyadari bahwa kita adalah pohon itu sendiri dan mampu melihat pohon itu dalam diri kita itulah perjalanan spiritual yang harus dilalui semua orang. Dengan menemukan pohon itu berarti kita telah melakukan perjalanan dalam menjadi diri yang utuh dan sempurna.