Buku-buku ibarat pohon di kepala kita. Ia tumbuh dengan sendirinya bersama halaman-halaman yang kita buka. Semakin banyak buku yang telah kita habiskan, dan mengendap dalam pikiran kita, maka semakin tumbuh subur pula pohon di kepala kita.

Buah dari pohon itu tak nampak memang, tapi ia hadir dalam hidup kita seperti peta, petunjuk, semacam rambu-rambu yang ikut serta membimbing hidup kita. Ia seperti malaikat yang menyayangi dan menunjuki kita betapa berharganya hidup bersama buku.

Namun, tak setiap orang menginginkan tumbuh pohon buku di kepalanya. Mereka lebih menginginkan kepala mereka selalu segar dan ringan. Mereka tak ingin kepala mereka menjadi sarang bagi menumpuknya pikiran. Itulah mengapa orang-orang lebih senang menjauh dan tak bersinggungan dengan buku dalam kehidupan mereka.

Buku mengubah takdir hidup orang-orang. Kalimat pendek ini dituliskan oleh Carlos Maria Dominguez di novel pendeknya bertajuk Rumah Kertas (2016). Buku-buku mau tidak mau, suka atau tidak suka telah mengubah sepanjang sejarah kehidupan manusia itu sendiri.

Dari ilmu pengetahuan, tembok-tembok, gedung-gedung, hingga sekolah-sekolah dan berbagai gelar yang menempel di belakang nama kita. Semua itu ikut dipengaruhi dan dibentuk dari seberapa banyak buku tumbuh di kepala kita.

Kita terikat pada fakta kebutuhan dan pengabaian terhadap buku. Bagaimanapun juga, kehadiran buku dan fungsinya dalam kehidupan kita ditentukan oleh pemiliknya, manusianya. Manusia mengubah takdir buku. Di tangannya itu pula, manusia bisa membuat buku begitu berharga, atau sebaliknya.

Itulah mengapa seruan ke perpustakaan untuk menghabiskan waktu bersama buku seperti seruan yang tak berarti bagi sebagian orang. Orang bisa mengatakan membaca buku seperti bunuh diri pelan-pelan.

Pembaca buku itu seperti orang menjauh dari kerumunan, menemukan kesepian yang ngengat, sampai merasuk dan menyelam ke dalam rimbunan kata-kata. Orang melupakan rasa lapar dan haus dalam tubuhnya. Ia hanya ingin bercumbu, bersenggama dengan kata-kata seperti orang sedang mabuk cinta.

Waktu, dengan begitu tak selalu bisa memuaskan para pecandu buku. Karena di setiap lembar yang kita buka, di setiap spasi antar kalimat yang tercetak, selalu saja ada ruang yang luput dari pengamatan kita.

Itulah mengapa pembaca yang baik tak selalu menemukan waktu tercepat dan terbaik buat menuntaskan satu buku. Boleh jadi, selama setahun ia hanya bisa menghabiskan dan menggali satu buku semata.Barangkali karena itulah, rubrik-rubrik ulasan buku, timbangan buku perlu hadir di ruang media cetak kita.

Sartre menulis dalam bukunya Kata-Kata(2001): “buku-bukulah yang menjadi burung dan sarangku, binatang piaraanku, kandang berikut seluruh dunia pedesaanku. Perpustakaan laksana dunia yang terjerat dalam cermin;tebalnya tak terhingga, beraneka, juga tak terduga. Aku terjun dalam petualangan yang luar biasa: menaiki kursi, meja, meski dengan resiko membuat semua roboh jatuh diatasku”.

Orang-orang yang merasakan takdirnya berubah bersama buku akan menganggap buku sebagai sebuah berkah, hadiah, dan juga petunjuk bagi hidupnya. Buku adalah surganya, memberikan ia keyakinan, suluh, terang dari kegelapan, dari kebodohan, dari kekhawatiran hidup dan kegelisahan-kegelisahannya.

Di buku-buku itulah, mereka menemukan ada hutan yang luas, ada samudera tak terperi, ada langit tak berbatas. Dunia yang begitu jauh lebih luas daripada sekadar dunia yang ada di sekitar mereka. Orang yang hidup bersama buku bisa saja jauh berlari kedepan ribuan kilometer daripada orang yang menganggap buku sebagai benda mati.

Edgar Kerret di bukunya The Seven Good Years(2016) misalnya, ia tak pernah merasa yakin, tubuhnya bisa berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri lainnya. Buku-buku telah membawanya terbang dan membuat kejutan-kejutan. Seperti ketika ia merasa tenang, damai, saat Ayahnya tak percaya bahwa ia akan datang ke Indonesia, ke negeri muslim terbesar ketiga di dunia. Tapi pada saat itulah, tulisan-tulisannya telah merubah pandangan orang, telah memberi perspektif baru tentang Yahudi-non Yahudi, tentang kemanusiaan.

Kerja keras, keringat, tak pernah bisa terbayangkan ketika orang harus memerlukan ratusan tahun, puluhan tahun untuk menuntaskan menulis ribuan halaman buku-buku. Rasa takjub kita akan kerja demikian itu yang membuat buku tetap menarik, memikat dan menggoda kita untuk tetap rela merogoh kocek, rela menghabiskan mata dan waktu kita untuk membaca buku.

Namun, ada sisi lain dari kehidupan manusia yang takut terhadap buku. Buku-buku ibarat musuh yang mesti dibinasakan. Ia seperti para algojo yang siap menebang pohon-pohon buku beserta hutan-hutannya. Mereka merasa terganggu, risih, serta risau akan hadirnya buku di kehidupan mereka. Banyak orang kemudian takut dituduh komunis, takut dituduh liberal, takut dituduh “kiri”.

Ketakutan itu tumbuh kian parah dikala pemerintah pun ikut serta mendorong orang saling memberi cap negatif pada pembaca buku. Pemerintah takut sekali dengan pembaca buku. Akibatnya, ini seperti tumbuhnya ketakutan dan penyakit akut bagi tumbuh suburnya kemalasan dan kebodohan.

Penghancuran buku juga bisa disebabkan karena perang. Perang disebut sebagai fenomena pembunuhan terkejam, saat ia merobohkan perpustakaan. Ia tak hanya membunuh manusia-manusia yang menuliskan buku-buku di dalamnya, tapi ia juga telah membunuh waktu bersama dengan memori, kenangan, riwayat, serta dunia yang ada di dalam buku-buku itu sebagaimana yang ditulis Fernando Baez di bukunya Penghancuran Buku (2017).

Seperti pohon, ada orang yang ingin pohon tumbuh subur, dan berbuah banyak. Tapi di sisi lain, banyak pula orang yang ingin menebang, dan membabat sehabis-habisnya. Hal itu juga berlaku pada ‘pembaca buku’.