“A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way.”--John C. Maxwell

Sayup-sayup bergemuruh memenuhi lapangan. Teriakan berdatangan dari kiri dan kanan. Anak kecil berumur kurang dari setahun terlihat bingung dengan semua itu. Apa gerangan yang terjadi waktu itu? Nun jauh di sana, terlihat pria berjas hitam dengan peci hitam khas nusantara bercakap-cakap tentang banyak hal, mulai dari yang nyata hingga ke yang absurd. 

Lautan manusia dibuat hening tak bersuara, bahkan seorang pria rela untuk menahan agar ia tak terbatuk di depan khalayak. Seakan-akan kata demi kata yang keluar dari pria di depan sana tak boleh lewat dengan percuma. Ya, itulah daya magis dari salah seorang pejuang kemerdekaan negeri ini. Banyak orang menyebutnya sebagai bapak proklamator, bapak revolusi, hingga bapak pendiri bangsa ini. Soekarno. Itulah namanya. Tak mudah baginya untuk berjuang melawan penjajahan, belajar di atas sulitnya akses pendidikan. 

Kegigihannya dalam belajar walau dengan kondisi yang memprihatinkan berbuah manis dengan jasanya yang tak lekang oleh zaman. Sulit rasanya membayangkan jika ada seorang pelajar di negeri ini tak kenal dengannya. Namanya sudah melintasi batas geografi yang memisahkan pulau-pulau dalam negeri, bahkan menembus batas-batas antar benua yang memisahkan negara-negara di dunia.

            Tujuh puluh tahun lebih sejak negara ini mendapat pengakuan resmi dari dunia internasional. Mengalami asam garam sebagai kesatuan negara yang mengandung kesepakatan antar ras dan budaya untuk menghargai perbedaan dan kemajemukan yang ada. Entah pendiri bangsa ini dulu benar-benar serius atau tidak, namun Indonesia telah lahir dan menempuh perjalanan hidupnya. 

Beragam peristiwa dan fenomena telah terjadi dan menghiasi. Mulai dari potret keserakahan manusia dalam diri Soeharto hingga gambaran pencitraan diri yang berlebihan dalam diri Soesilo Bambang Yudhoyono. Permasalahan pendidikan yang tak pernah diurus dengan serius hingga masalah kesehatan yang dijadikan komoditi perdagangan. Penajajahan baru atas nama ekonomi hingga tak kunjung dewasanya para politisi yang menghiasi koran dan televisi.

            Ada beberapa catatan menarik tentang pemimpin di beberapa daerah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sepanjang tahun 2018, tidak kurang dari 21 kepala daerah yang tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Jika dirata-rata, ada satu pejabat yang ditangkap oleh lembaga antirasuah tersebut dalam setiap 17 hari dalam satu tahun. Mengawali catatan buruk tersebut, Bupati Hulu Sungai Tengah ditangkap oleh KPK pada awal januari karena ia menerima uang fee terkait proyek pembangunan Rumah Sakit Damanhuri Baranai. Selanjutnya, Jombang, kota yang terkenal dengan berbagai pesantren besar nan masyhur, juga harus menerima bahwa bupatinya terlibat kasus suap oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang agar ia diangkat sebagai kepala dinas kesehatan definitif. 

Tak ketinggalan, Bupati Purbalingga juga terkena kasus korupsi dalam urusan yang sebenarnya sangat memalukan untuk dijadikan sarana mengeruk uang, yaitu pembangunan Islamic Centre di kabupaten tersebut. Menyusul yang lainnya, Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) ternyata harus mengakui bahwa ia terlibat dalam praktik kotor korupsi karena terbukti meminta uang sejumlah 1,5 miliar kepada seorang bupati di salah satu daerah NAD demi kelancaran pembangunan infrastruktur disana. Yang terbaru dan mungkin terakhir di tahun ini, Bupati Cianjur tertangkap tangan melakukan transaksi uang suap mobil dinas dengan pejabat di Dinas Pendidikan pada 21 Desember lalu.

            Podium memang selalu menarik hati, tak terkecuali bagi penduduk negeri ini. Geliat kepemimpinan terus berputar dan berjalan. Ada yang berkata itu fitrah yang diberikan Tuhan bagi setiap insan. Yang lain berpendapat memimpin sejatinya adalah melayani rakyat dan sarana mengabdi pada negeri tempat kita dilahirkan. 

Dari jauh ada seorang berkelakar bahwa kepemimpinan adalah tentang melepaskan ego diri demi mengedepankan kepentingan yang membawa maslahat bagi umat. Diskursus tentang kepemimpinan pasti akan selalu relevan dan menjadi perbincangan di berbagai ruang kehidupan, mulai dari angkringan, perkantoran, hingga tempat peribadatan. 

Mungkin ada daya tarik yang kuat pada seorang pejabat, khususnya pemimpin daerah atau wakil rakyat, sehingga banyak orang rela melakukan apa saja untuk meraih posisi itu, tak peduli apakah cara-cara yang dia gunakan telah menghilangkan martabatnya sebagai seorang manusia.

Bukan kebetulan tahun ini adalah waktu untuk menentukan siapa sosok yang akan meneruskan estafet kepemimpinan negeri ini. Bukan hanya presiden, para wakil rakyat juga akan segera mengetahui apakah mereka akan tetap duduk di kursi parlemen atau tidak. Yang jelas, podium kepemimpinan, dalam lingkup terbesar hingga paling kecil, akan selalu menjadi perhatian dan mungkin menjadi pertempuran bagi beberapa orang untuk mendapatkannya. 

Satu pertanyaan mendasar bagi siapa pun yang akan menjadi calon pemimpin, sudahkah kita selesai dengan diri sendiri sebelum memutuskan untuk mengurus kehidupan orang lain? Seberapa baik manajemen kepemimpinan diri sendiri, mulai kepala hingga kaki, sehingga kita merasa layak menjadi wakil dari sekumpulan masyarakat di luar sana? Dan benarkah tujuan kita mengikuti kontestasi ini sebagai jalan pengabdian kepada Tuhan ataukah malah menjadi tempat kita mengeruk harta kekayaan dan menimbun kemaksiatan?