Waspada! Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Universitas Madura (PMII UNIRA) Cabang Pamekasan, adakan sekolah gerakan yang dikemas dengan temu kultur.

Acara itu dihadiri oleh seluruh Alumni PMII Unira Dari berbagai angkatan pengkaderan. Diadakannya sekolah gerakan ini untuk mengurangi problematika yang sering melanda mahasiswa dalam berorganisasi.

Problematika yang sering terjadi adalah perpecahan dari para kader PMII sendiri. Berdasarkan problem inilah mungkin, sekolah gerakan yang dikemas dengan temu kultur ini diadakan pertama kali di Madura. Tepatnya oleh Komisariat PMII Unira.

Hal ini diharpkan agar senioritas mampu menyumbangkan pemikiran untuk meminimalisir perpecahan bagi para tunas-tunas PMII itu sendiri.

Akan tetapi, berdasarkan fakta di lapangan. Para kader PMII di Universitas Madura, seringkali benar-benar tampak bahwa mereka adalah kader pergerakan yang ditandai dengan Kemampuan berdiskusi yang luar biasa. Sehingga hal inilah pemicu semua problem di tubuh PMII Unira sendiri.

Entah kemampuan berdiskusi yang luar biasa itu adalah seksesnya pengkaderan yang dilakukan oleh pengurus komisariat, atau kegagalan para pengurus karena tidak mampu mengontrol para kadernya dalam gerakan individu yang selalu ingin unjuk gigi.

Dari itulah sekolah gerakan ini pun akan menimbulkan tanda tanya.

Akankah kader menjadi lebih baik atau akan saling unjuk gigi dan melupakan pergerakan yang menjadi tujuan dari organisasi mereka.

Sebenarnya sekolah gerakan seperti ini akan lebih baik dilakukan di setiap kajian mingguan. Untuk membina dan membimbing para kader agar lebih solid.

Namun acara temu kultur, memungkinkan para kader dapat mengetahui wajah para senior yang tidak pernah dijumpai sama sekali.

Dengan pertemuan itulah, hubungan antara senior dan seluruh kader akan terbina. Sehingga setiap gerakan-gerakan yang berpotensi membuat perpecahan bisa dicegah karena senior juga ikut mengontrol para kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.