“Pluralisme itu nggak harus diaplikasikan dalam bentuk agama aja. Jadi, kalau kita ngomongin tentang masalah pluralisme tapi sudut pandangnya agama ya pasti akhirnya jadi berat dan jadinya bakal fanatik gitu..” salah satu kalimat dalam obrolan dari podcast Tshirttokoh.

Kalian tau ngga sih arti kata “Pluralisme”? Pluralisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti yaitu suatu keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial dan politiknya) atau bisa juga diartikan sebagai berbagai kebudayaan yang berbeda-beda dalam suatu masyarakat. Nah, lalu mengapa kebanyakan orang-orang setiap mendengar kata “Pluralisme” pasti selalu dikaitkan dengan agama saja? Hmm… memang “Pluralisme” itu termasuk kata ambigu yang memiliki banyak pengertian sehingga banyak masyarakat yang pro-kontra terhadap pemahaman kata “Pluralisme” lalu muncullah konflik-konflik sosial dan lainnya.

Ada sebuah cerita singkat yang terjadi di fotokopi-an depan SMA saya. Cik Yun, itu adalah nama seorang ibu pemilik fotokopi-an depan SMA saya yang merupakan keturunan dari Cina. Kalian tau ngga sih kalau orang Cina bekerja itu kayak gimana? Behhh… tentunya sangat teliti, gesit, keras, dan sebagian besar galak sih hehe.. Nah, itu semua ada di Cik Yun. Warung fotokopi-an Cik Yun selalu ramai dikunjungi oleh murid-murid SMA dan dari orang-orang luar. Mengapa? Ya, karena Cik Yun adalah seorang yang ramah sekali. Selain itu, Cik Yun juga merupakan salah satu tipikal orang yang suka bikin orang-orang nyaman karena kehadirannya. Saya dan teman-temanku yang merupakan keturunan dari Jawa juga sangat senang bila berada didekat Cik Yun. Setiap pulang sekolah, saya dan teman-teman pasti mampir diwarung fotokopi-an milik Cik Yun walaupun hanya sekedar nongkrong atau curhat-curhat santai. Cik Yun juga sering menyuguhkan makanan untuk kami semua yang mampir diwarung fotokopi-an milik beliau untuk dimakan bareng-bareng. Ya istilahnya sepiring cilok untuk bareng-bareng pun kita juga anggap bentuk “Pluralisme” bukan?

Ada satu cerita lagi tentang tetangga saya yang berbeda keyakinan yang hendak pergi beribadah. Nah, dia ngajakin boncengan buat pergi ke tempat ibadahnya. Hal tersebut juga termasuk ke dalam “Pluralisme”. Orang itu ngga mikir kamu itu agamanya apa sih? Mau ngga sih aku boncengin? Jadi sebenernya “Pluralisme” itu hanya terkait tentang toleransi aja sih. Jadi kalau seseorang berfikir “Pluralisme” merupakan sebuah kesalahan, itu adalah orang-orang yang fanatik. Padahal seharusnya yang harus kita tangkap mengenai “Pluralisme” adalah sisi baiknya.

Jika diambil menurut survey, banyakan mana sih antara toleransi dan intoleransi? Pasti yang lebih banyak adalah toleransinya, karena itu memang akar budaya kita. Dari dahulu, kita sudah diajarkan mengenai toleransi, bagaimana cara menghargai perbedaan, bagaimana cara menanggapi perbedaan, dan bagaimana cara kita menyikapi perbedaan. Tetapi masih banyak juga masyarakat yang kurang ilmunya mengenai “Pluralisme” sehingga mereka masih belum paham betul mengenai toleransi.

Kalian pastinya kenal Gus Dur kan? Gus Dur dikenal dengan kata-katanya yang identik dengan toleransi. Gus Dur juga pernah berkata “Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin tinggi toleransinya”. Saya sangat setuju dengan pernyataan tersebut, karena kita sudah dibekali ilmu sehingga kita menjadi tahu tentang toleransi. Lalu kenapa masih banyak orang yang intoleransi? Ya karena mereka masih menganggap bahwa apa yang ia pikirkan itu benar dan ia juga tidak menggubris apa yang disekitarnya. Padahal manusia itu memiliki kedudukan yang sama, namun hanya memiliki keragaman yang berbeda. 

Lalu salah satu perkataan Gus Dur yang saya sukai adalah “Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak tanya apa agamamu.”. Dalam kata-kata tersebut, sangatlah terlihat bahwa “Pluralisme” itu sudah diajarkan sejak dahulu. Setiap kebaikan haruslah dilakukan dengan tanpa mengenal perbedaan. Ya bisa dilakukan dari hal kecil, seperti contoh ketika kamu bertemu seseorang yang tidak kamu kenal sebelumnya sedang mengalami kecelakaan dijalan raya. Pada saat kamu menolong orang tersebut, pastinya orang tersebut tidak akan menanyakan latar belakang agamamu apa. Karena pada sejatinya, setiap agama itu mengajarkan kebaikan.

Jadi pada intinya, kita sebagai manusia yang masih diberi akal dan pikiran haruslah berfikir secara jernih mengenai toleransi. Selain itu, kita sebagai pelajar yang memiliki bekal ilmu yang banyak haruslah mengimplementasikan ilmu tersebut di kehidupannya masing-masing secara baik dan tentunya sesuai dengan ajaran yang berlaku. Jadilah pelajar yang toleran dan ngga usah neko-neko. Pada sejatinya, pelajar yang budiman adalah pelajar yang mengerti akan adanya perbedaan dilingkungan sekitarnya. Dan jika kamu merasa dirimu terhormat, maka kamu juga harus bisa menghormati akan setiap keanekaragaman dilingkungannya. Bukankah indah jika adanya kerukunan dan toleransi dilingkungan kita? :)