Mengobrol adalah salah satu aktifitas yang menyenangkan. Setidaknya dengan mengobrol kita tidak menyia-nyiakan salah satu organ tubuh yang diberikan Tuhan kepada kita. Dalam hal ini maksud saya sebuah obrolan yang positif bukan ngegosip yang menimbulkan fitnah satu sama lain.

Setiap wilayah tentunya punya beragam kultur dalam mengobrol. Jawa, Madura, dan Sunda atau bahkan tempat-tempat yang paling jauh dari Negri kita. Jika saya sedang berkumpul dengan teman-teman, ada saja obrolan yang menjadi lelucon. Sehingga mengobrol menjadi sebuah budaya perekat persahabatan. Namun dari semenjak saya mulai memasuki fase Pubertas, timbul beragam keinginan liar yang saya pikir ini terlalu khayali. Dari banyaknya antrean keinginan. ada satu keinginan yang belum kesampaian. Jujur, ini adalah keinginan yang lahir dari lubuk hati yang paling dalam.

Kawan-kawan yang budiman...

Saya ingin sekali mengobrol dengan Maudy Ayunda pada sebuah senja di sebuah Cafe ditemani dua minuman merk teh gelas lalu di luar terlihat air hujan menetes pelan-pelan ke bumi, indah bukan. Yang jelas, saya akan mengobrol banyak hal padanya, berbagi pengalaman dengannya dan saling tukar pandangan mengenai “kehendak bebas manusia di dunia”. Semoga kelak.

Saya memang suka mengobrol, pada saat mengobrol ada saja ide yang melompat-lompat di kepala.

Bulan Agustus waktu lalu, Pernah sekali saya berdiri di bibir pantai Kuta, matahari bersinar begitu cerah, saya melihat lima anak muda dari negri yang jauh sedang duduk dengan beberapa botol bir yang hampir habis. Jika dilihat dari penampilannya mereka adalah para Backpacker muda Eropa yang keranjingan tempat-tempat wisata Asia. tiba-tiba salah satu dari mereka memanggil saya, “hi my friend, may I ask you question?”, saya jawab “, yes, please. “ what’s goin’ on overthere?, dengan bahasa Inggris logat Italia sambil menunjuk sebuah tempat yang begitu ramai. Saya jelaskan bahwa hari ini adalah hari kemerdekaan Republik Indonesia, jadi seluruh masyarakat Indonesia merayakan kemerdekaan”, kemudian saya duduk melanjutkan obrolan dengan mereka. Mereka berasal dari Italia. Mereka berlima ternyata adalah Mahasiswa kedokteran Universitas Milan, salah satu Universitas terbesar di Italia.

Saya tidak banyak tau tentang Negara Italia. Deskripsi tentang Italia bagi orang Indonesia seperti saya adalah sebuah Negara dengan euforia sepakbolanya. Mengenal kota nya pun dari beberapa klub sepakbola yang hanya disaksikan di layar kaca. Ac Milan, As Roma, Palermo hingga Napoli. Atau barangkali bagi sebagian orang, Italia menjadi semacam jembatan pada satu ingatan purbawi tentang kisah romantika dua anak manusia yang terlampau idealis, yakni kisah cinta Romeo dan Juliet yang diabadikan dalam novel karangan William Shakespeare. Hanya itu. Padahal jika kita menelanjangi sejarah, ada banyak kisah tragedi di sana dan juga hal-hal yang luput dari pandangan kita.

Saya cermati para Backpacker Eropa memang adalah orang-orang yang penuh perhitungan, tidak tergesa-gesa, mereka sopan. Kami mengobrol banyak hal, saling tukar informasi. dari Pizza, Pasta, hingga Mafia.

Saya melihat salah satu dari mereka membawa sebuah buku yang sudah mulai kusam berbaring telanjang di atas pasir depan mereka duduk, saya menduga mungkin buku itu selalu dibawa kemana-kemana atau mungkin seringnya di bolak balik halamannya. Mereka menyukai literatur, kulihat bukunya berjudul “the time of indifference” karangan Alberto Moravia penulis novel klasik Italia. Dari mereka saya mendapat banyak informasi terkait literatur Italia.

Saya suka mengobrol dengan mereka, mereka punya wawasan luas dan begitu terbuka. Pada obrolan terakhir sebelum kami berpisah, saya bertanya, “my friend, simple question, what is Mafia?”

Salah satu dari mereka menjelaskan, bahwa Mafia adalah sekelompok orang yang melakukan kejahatan yang terorganisir, orang Italia menyebutnya “Mafioso”. Sejarah awal Mafia berdiri di sebuah pulau di selatan Italia, namanya pulau Sisilia, kalau ingin tau lebih lengkap secara historis silahkan baca novelnya “The Sicilian” karangan Mario Puzo, 1984.

Jika kita mendengar kata Mafia maka yang terbayang dalam otak kita adalah penjahat kelas kakap, pembuat onar, atau segala hal keji melekat padanya. Namun kata dia Mafia di Italia saat ini tidak hanya pada sebatas itu, tidak hanya berupa kejahatan secara fisik. Saat ini di Italia ada semacam transformasi identitas pada sistem kerja Mafia di di sana. Para Mafia di Italia saat ini sudah masuk pada setiap elemen Birokrasi, Olahraga, Pemerintahan, Ekonomi dan bahkan sektor-sektor lembaga kemanusiaan. Mereka adalah orang-orang yang cerdik dalam melakukan kejahatan, aksinya begitu halus hingga ujung-ujungnya Negara tiba-tiba menjadi miskin. Dengan transformasi Mafia saat ini, Italia mengalami keterpurukan di berbagai sektor. Menyedihkan katanya.

Mendengar penjelasannya saya jadi teringat orang-orang begundal negri ini yang memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya dirinya sendiri, atau para koruptor-koruptor ulung yang terus tumbuh menghantui  kesejahteraan orang-orang kecil negri ini.

Sebelum beranjak pergi salah satu backpacker Italia itu berpesan pada saya, katanya ”jika kamu bertemu orang Italia, jangan pernah ucapkan Mafioso”. Kemudian mereka pamit untuk kembali ke hotelnya.

***

Kemarin sekali saya bertemu pria asal Italia, dia masih muda. Penampilannya janggal, celana pendeknya begitu ketat, kepalanya diikat dengan slayer ala-ala anak muda jaman sekarang, cara jalannya lembut gemulai, seperti cacing kepanasan. Mungkin dia yang disebut “ladyboy” dalam kultur orang-orang barat. Saya tanya dari mana asalnya”. Dia jawab dengan suara pelan bernada feminim, “Italia”. Mendengarnya saya merinding lalu saya bilang “owh Mafioso”, tiba-tiba dia melotot pandangi saya dengan mimik muka kesal, posisi bibirnya miring sebelah dan tiba-tiba menciut pergi dari hadapan saya.