Dalam drama singkat “Huis Clos” (Pintu yang Tertutup), Jean Paul Sartre menggambarkan dengan jelas konflik yang terjadi antarmanusia. Di dalam drama singkat tersebut, tiga orang dikumpulkan di sebuah ruangan yang pintunya terkunci. Ketiga orang itu diceritakan sudah meninggal, bertanya satu sama lain, “Di manakah neraka? Jika ruangan ini neraka, di manakah siksaannya?”

Sejenak kemudian, mereka bertiga menyadari bahwa siksaan tersebut ada di depan mata mereka sendiri: orang lain. Ungkapan Sartre, “Orang lain adalah neraka” sangat cocok untuk menggambarkan keseluruhan drama ini. Bagi Sartre, tidak mungkin seseorang yang berkomunitas bebas dari konflik. Hubungan antarmanusia selalu mendatangkan konflik, dan tidak mungkin bebas dari konflik.

Sikap pesimis Sartre ini pada ujungnya mengandaikan manusia hidup sendiri, sebagai makhluk yang otentik, daripada harus berhadapan dengan konflik-konflik yang tidak berkesudahan antarmanusia. Sartre menutup pintu bagi relasi antarmanusia.

Memang, di satu sisi, pemikiran Sartre ini ada benarnya. Tidak ada hubungan antarmanusia yang bebas dari konflik. Manusia adalah makhluk rasional, yang memiliki kehendak dan keinginan yang berbeda satu sama lain. Terkadang ketika seseorang ingin mengaplikasikan kehendak bebasnya, secara tidak sadar ia sedang mengganggu kebebasan orang lain.

Selain itu, manusia juga memiliki pondasi berpikir (worldview) yang berbeda-beda. Pondasi berpikir ini dibentuk oleh lingkungan, agama, pendidikan, dan tingkat kedewasaan. Jika orang-orang yang memiliki pondasi berpikir yang berbeda bertemu, dan masing-masing mengklaim dirinya sebagai yang paling benar, maka semua itu akan berujung konflik.

Tetapi pertanyaannya kembali lagi, apakah benar solusi Sartre untuk lari dari komunitas adalah solusi satu-satunya untuk meredam konflik antarmanusia? Haruskah, untuk menghindari konflik, kita menutup pintu-pintu relasi sosial?

Masalahnya, mungkinkah manusia bisa hidup sendiri tanpa orang lain? Hal yang tidak dapat dihindari adalah manusia merupakan makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain, walaupun ia sendiri menyadari bahwa setiap hubungan berpotensi mendatangkan konflik.

Bukti otentiknya adalah, manusia tetap ingin menikah walaupun mengetahui bahwa pernikahan adalah ladang dari konflik sehari-hari. Manusia tetap rindu untuk memiliki sahabat, walaupun ia mengerti bahwa persahabatan juga sering berujung dengan konflik.

Jadi kalau begitu, apa solusi yang terbaik untuk meredam konflik antarmanusia? Menurut hemat penulis, konflik antarmanusia bisa diredam saat manusia telah mencapai tahapan yang tertinggi dari eksistensinya. Soren Kierkegaard, seorang filsuf, pernah memberikan tiga tahapan eksistensi manusia.

Tahap pertama adalah tahapan estetis. Tahap estetis menggambarkan manusia yang tidak mempedulikan moralitas baik atau jahat. Apa yang ia lakukan adalah memenuhi keinginannya sendiri. Ia tidak berusaha menahan diri, melainkan memenuhi setiap hasrat pribadinya, tanpa peduli dengan konsekuensi yang dihasilkan.

Di tahapan pertama ini, manusia akan menjadi pemicu konflik. Mungkin di dunia nyata kita sering menemui manusia-manusia dengan tahapan ini. Mereka yang egois, seenaknya sendiri dan mengklaim dirinya sebagai yang paling benar. Mereka yang menghalalkan kekerasan untuk membela pondasi berpikirnya.

Pejabat yang mengkorupsi uang rakyat. Pengusaha yang mengeksploitasi hasil bumi dan pekerja-pekerjanya sendiri. Orang-orang inilah yang menyebabkan terjadinya banyak konflik.

Oleh sebab itu, untuk meredam konflik, orang-orang tersebut harus naik ke tahapan berikutnya, yaitu tahapan etis. Tahapan etis adalah tahapan di mana manusia sudah mempedulikan nilai-nilai etis, moralitas baik-jahat. Orang-orang ini tidak lagi melakukan segala sesuatu sesuai keinginan pribadinya, tetapi ia akan mulai menggunakan akal sehat dan rasionya untuk mempertimbangkan baik buruknya suatu perbuatan.

Orang dalam tahapan etis mulai jarang memicu konflik, bahkan mereka berpotensi meredam konflik. Mereka memahami pentingnya toleransi demi menjaga perdamaian. Sisi negatifnya, orang-orang dalam tahap ini cenderung mudah untuk menjadi orang yang munafik dan legalistik. Apa yang dilakukannya sekadar untuk menghindari konflik, dan bukan berasal dari hasrat dan keinginan sendiri.

Namun, di atas tahapan etis, masih ada tahapan yang paling tinggi, yaitu tahapan religius. Di tahap ini, seseorang telah menyatu dengan Sang Khalik, dalam arti mereka sudah tidak memikirkan diri mereka sendiri, tetapi mengikuti kehendak Penciptanya.

Mereka berbuat baik dan mengorbankan diri sendiri demi orang lain, bukan untuk menghindar dari konflik saja, tetapi memang mereka melakukan hal tersebut dari lubuk hati mereka sendiri, karena mereka sedang mencoba mengimitasi Sang Khalik.

Jika memperhatikan tiga tahapan Kierkegaard ini, sebenarnya untuk meredam konflik, manusia hanya perlu sampai ke tahap etis. Di tahap etis, manusia akan belajar untuk menghindari konflik karena menyadari bahwa konflik adalah hal yang tidak baik. Tetapi alangkah baiknya jika seseorang mampu mencapai tahap religius, sehingga konflik bukan hanya dihindari, melainkan diselesaikan.

Tetapi pertanyaannya adalah, bagaimana untuk membawa orang-orang di tahap estetis, yang sering memicu konflik naik ke tahapan etis bahkan religius? Kierkegaard menyebutnya dengan “penetapan nilai” (value judgment). Seseorang harus dimampukan untuk melihat dan menyadari dengan jelas bahwa ada nilai-nilai yang lebih tinggi dari nilai estetis, yaitu nilai etis.

Lalu selanjutnya ada yang lebih tinggi dari nilai etis, yaitu nilai religius. Kesadaran ini akan menegasi dan merelatifkan nilai-nilai yang sebelumnya ia pegang, sehingga membawa seseorang itu naik ke tahap selanjutnya.

Di sini diperlukan peran edukasi yang memadai. Edukasi yang baik dalam hal moral, etika, dan agama, diharapkan membuat seseorang dalam tahap estetis mampu menyadari bahwa ada yang lebih tinggi dari tahap estetis. Dengan demikian, seseorang mampu menanggalkan keegoisan yang membawa kepada konflik dan menuju pada moralitas, bahkan hati nurani yang bersih.

Akhir kata, edukasi seharusnya menjadi sebuah pintu yang terbuka bagi orang-orang yang pikirannya masih ada di tahapan estetis. Kita tidak perlu, seperti kata Sartre, menutup pintu bagi pemicu-pemicu konflik. Sebaliknya, kita terus menjadikan diri kita pintu-pintu yang terbuka untuk menyadarkan dan mengedukasi manusia akan pentingnya perdamaian, etika, moral, dan toleransi.