Barangkali ada benarnya bahwa Pilgub DKI rasa Pilpres. Mulai dari tahap pencalonan, kampanye, dan pencoblosan. Mulai dari calon, terpilih, hingga mantan presiden pun ikut serta dalam memeriahkan kembang api demokrasi di ibu kota. Bukan hanya jadi konsumsi rakyat jelata yang tak paham aksara para kyai pun juga meninggalkan meja sinaunya untuk menyaksikan lika-liku menuju kursi panas.

Banyak faktor Pilgub DKI menarik untuk diperbincangkan kalau saya boleh menyampaikan dari sudut pandang kesusastraan maka. Pertama, tokoh yang berperan dalam pentas sudah tak diragukan lagi kemampuan aktingnya.

Tentunya, masyarakat sebagai konsumen merasakan kepuasan dengan apa yang ditotalitaskan oleh sang tokoh. Sama halnya dengan dangdut, ketika kita mendengar bahwa di kampung sebelah akan ada dangdut nanti malam maka anda akan bertanya siapa artisnya, siapa biduannya?.

Kedua, karakter yang dimiliki dari masing-masing tokoh sangatlah berfariatif. Ada yang pendiam, ramah dan keras kepala. Inilah yang menjadi daya tarik penonton untuk menyaksikan adegan demi adegan. Kalau di paragraf kedua menanyakan artis atau tokohnya hal itu akan menimbulkan pertanyaan “kenapa kita suka yang ini dan yang itu?” Karena kita ingin menyaksikan goyangannya yang dapat juga disebut dalam artikel ini adalah karakternya.

Ada yang suka sama suaranya, goyangannya dan yang pasti adalah rok mininya.

Ketiga adalah latar, dari sisi waktu dan tempat yang sangat strategis menjadikan Jakarta sebagai kiblat segala perkembangan sosio-psikolgis serta ekonomi masyarakat Indonesia. Pementasan dangdut kurang menarik apabila ada di pelosok kampung karena penonton yang datang akan sedikit hal ini juga berdampak pada nilai kemeriahan. Bagaimana jika manggung di alun-alun? Tentunya suasanya akan berbeda, gadis segala usia akan ada di sana.

Masyarakat sebagai penikmat suguhan demokrasi juga tahu dimana letak klimaksnya. Karena di sinilah kesuksuksesan sebuah pertunjukan. Kita menyaksikan sebuah sinetron dari episode ke episode karena kita tidak mau ketinggalan ceritanya. Selain itu juga kita menunggu apakan tokoh idola kita mati, menang atau kehilangan wanita yang diperjuangkannya. Inilah alur politik yang disetiap adegannya menentukan nasibnya.

Seperti unsur instrinsik dalam cerpen yang digeluti anak SMP. Sekarang, apakah sajian politik di Ibu kota dapat dijadikan sejarah. Lantas jika dikatakan sejarah dapatkah diangkat dalam dunia pendidikan sebagai disiplin ilmu pengetahuan?. Kita mulai dari pengertianya sejarah terlebih dahulu agar dapat menyimpulkannya dengan ringan.

Peristiwa sejarah itu mencakup hal yang dipikirkan, dikatakan, dikerjakan, dirasakan, dan dialami oleh manusia (Kuntowijoyo, 1995:17). Sejarah sebagai cabang ilmu pengetahuan hendaknya dibahas dan dibuktikan secara ilmiah sehingga muncullah berbagai metode untuk menjawab segala persoalan mengenai sejarah. Saya sepaham jika pernak-pernik politik di ibu kota disebut peristiwa sejarah.

C.E. Berry dan York Powell sependapat bahwa sejarah adalah suatu disiplin ilmu pengetahuan. Namun yang menarik dari pernyataan Berry adalah ia mengatakan dengan tegas bahwa sejarah adalah ilmu pengetahuan, tidak kurang dan tidak lebih. Apakah ada yang kurang atau dikurang-kurangi, atau lebih dan ditambah-tambahi?

Lantas yang sekarang tengah riuh di mana-mana soal demokrasi dapat disebut ilmu pengetahuan yang dijadikan materi IPS atau Sejarah Nasional yang disampaikan Pak Oemar Bakri kepada siswa atau mahasiswanya atau kiai kepada santrinya?

Sebelum anda mengambil keputusan sedikit saya tawarkan sudut pandang yang harus dilakukan. Anda harus mematikan tvnya melepas dari si A dan si B atau si X. Karena dapat dipastikan jika anda masih ada di salah satu pihak mereka media telah mempengaruhi anda.

Tidak pelak bahwa semua tv tetangga menyaksikan tema yang sama dengan amanat yang berbeda. Walaupun dengan rumus 5W + 1H untuk menguji kebenaran berita, itu hanya kebenaran perspektif bukanlah kebenaran Tuhan dan kita menolak dan berpaling darinya.

Biarlah semua itu menjadi pengetahuan belaka untuk mengisi guyonan di warung kopi, janganlah dibawa pulang terlebih disuguhkan dalam dunia pendidikan karena demokrasi saat ini amanatnya sudah meleset dari harapan leluhur dan janganlah sekali-kali mengotori sejarah dengan segala prasangka.