Perhelatan Piala Thomas 2021 baru saja usai. Indonesia kembali juara setelah penantian panjang sejak 2002.

Atlet-atlet kita merebut kembali Piala Thomas, lambang supremasi dunia bulu tangkis beregu putra, melalui perjuangan yang amat membanggakan dan mengharukan.

Kisah kita dengan Piala Thomas memang seringkali melibatkan emosi dan rasa haru sejak awal kiprah kita dalam kompetisi memperebutkan piala itu tahun 1958.

Beberapa kisah perjuangan kita merebut dan mempertahankan Piala Thomas, dengan nuansa emosinya masing-masing akan coba diulas penulis di bawah ini. Karena keterbatasan ruang, tidak setiap episode perhelatan dapat dibahas pada kesempatan ini.

1958  Seluruh bursa taruhan menjagokan Malaya, juara bertahan saat itu, akan kembali juara dengan mudah. Ketua federasi bulu tangkis mereka bahkan sesumbar sudah memesan anggur sampanye untuk perayaan kemenangan, di depan banyak wartawan.

Indonesia? Berangkat dengan persiapan compang camping. Menyadari kesulitan dana tim kita, majalah Star Weekly sampai berinisiatif melakukan penggalangan dana untuk memberangkatkan tim, termasuk menerbangkan salah satu atlet andalan, Ferry Sonneville yang sedang studi di Belanda, ke Singapura, tempat perhelatan kejuaraan.

Sisanya adalah sejarah. Tim Indonesia, yang berangkat naik beberapa becak ke bandara Kemayoran dengan membawa koper-koper besar, menginap di rumah warga Indonesia di Singapura karena tak punya uang untuk bayar hotel, dan harus mencuci pakaian sendiri di rumah tempat tinggal, toh akhirnya bisa juara.

Tim Indonesia membungkam mulut besar dan kesombongan Malaya di final, di depan publiknya sendiri. Sejak saat itu, perjumpaan tim bulu tangkis Indonesia dan Malaysia selalu berlangsung sengit dan panas.

1967 Kita kembali bertemu Malaysia di final di Istora Senayan. Pertemuan kali itu sarat nuansa politis. Itulah pertama kali Indonesia bertemu Malaysia sejak berakhirnya konfrontasi bersenjata di Kalimantan Utara, dengan slogan yang didengungkan Presiden Soekarno Ganyang Malaysia!

Saat itu kita akhirnya kalah. Pertandingan dihentikan karena penonton Istora dianggap sudah terlalu bising dan meneror pemain-pemain Malaysia dengan segala cara, termasuk dengan cahaya lampu kamera. Sisa pertandingan harus dilakukan di tempat netral, Selandia Baru. Indonesia menolak, dan Malaysia dinyatakan juara.

Meski Indonesia kalah, tahun itu mencatat munculnya seorang atlet fenomenal berusia tujuh belas tahun, Rudy Hartono, yang dengan permainan menyerang yang sangat atraktif menjadi bintang di final itu. Dia membuat bintang-bintang Malaysia tunggang langgang, dan selalu menang dengan angka telak.

Esoknya, koran-koran Malaysia menuliskan kekaguman pada atlet muda pendatang baru itu. Karir Rudy kemudian bersinar di tahun-tahun selanjutnya, dengan menjadi juara turnamen All England sebanyak delapan kali, rekor yang masih bertahan hingga hari ini.

1982 Indonesia kalah di final melawan kekuatan baru saat itu, Tiongkok. Kekalahan itu terasa sangat emosional bagi Indonesia, yang seakan tak punya lawan sepadan selama belasan tahun, namun harus mendapati kenyataan bahwa kita akhirnya harus kalah. Mirip  seperti final 1958 di mana kita sebagai pendatang baru yang menumbangkan kekuatan lama.

Saat itu, Indonesia kembali menurunkan bintang terbesarnya, Rudy Hartono, yang sudah tidak aktif bermain selama beberapa tahun. Rudy dan Indonesia kalah. Satu lagi bukti bahwa tidak ada yang abadi dalam olahraga.

1984 Di final yang diadakan di Kuala Lumpur, mayoritas penonton mendukung Tiongkok, yang kembali menjadi lawan kita. Hal itu sudah diperkirakan, mengingat publik pendukung Malaysia, yang sudah tersisih sebelumnya, sepertinya tidak keberatan siapapun yang menang, asal saja bukan Indonesia.

Adu strategi di antara kedua tim, dengan kedua tim baru mengumumkan nama para pemain yang akan diturunkan satu jam sebelum final, mempertemukan Hastomo Arbi dengan Han Jian, yang selalu mengalahkan Hastomo dengan mudah dalam tiga pertemuan sebelumnya. 

Hari itu, keajaiban terjadi. Hastomo menang, dan Indonesia menang tipis. Piala Thomas kembali ke Indonesia.

1992 Di final, Indonesia kembali berjumpa Malaysia, yang saat itu menjadi tuan rumah. Seperti sudah diduga, tim Indonesia diteror habis-habisan oleh penonton tuan rumah yang sepertinya memang selalu menyimpan dendam kesumat terhadap tim bulu tangkis Indonesia.

Beberapa spanduk yang dibawa pendukung tuan rumah bertuliskan kata-kata yang menyakitkan seperti Indon, balik kampung! Indon adalah julukan yang menghina dari warga Malaysia kepada pekerja migran dari Indonesia, yang banyak bekerja di sektor informal seperti menjadi pembantu rumah tangga dan kuli bangunan.

Ada juga spanduk dengan kalimat menyakitkan lainnya Garuda falls today!  Yang artinya Garuda (lambang Indonesia) akan jatuh hari itu. Indonesia kalah di final hari itu.

1994 Pada final yang gantian diadakan di Jakarta, Indonesia lagi-lagi bertemu Malaysia di final. Indonesia unggul telak sampai angka 3-0 dan sudah dipastikan juara. Penonton Istora terus mengamuk meneror tim Malaysia.

Mereka bersahutan meneriakkan slogan Ganyang Malaysia! Saat situasi semakin tak terkendali dan para penonton terus melemparkan barang-barang ke lapangan, final dihentikan setelah partai ketiga. Indonesia kembali juara.

1994 adalah final yang amat manis, karena pada tahun itu, Indonesia berhasil menyandingkan Piala Thomas dengan Piala Uber, lambang supremasi bulu tangkis beregu putri.

1998 Inilah salah satu final yang tidak akan terlupakan. Tim Piala Thomas Indonesia kembali juara dengan, lagi-lagi mengalahkan Malaysia di final. Namun, yang lebih diingat daripada hasil pertandingan adalah bahwa saat itu keadaan negeri sedang dilanda krisis ekonomi dan rasial yang amat memilukan.

Saat mereka bertanding nun jauh di Hong Kong, terjadi kerusuhan rasial yang menyasar warga keturunan. Beberapa pemain Indonesia yang berasal dari warga keturunan bertanding dengan rasa kuatir dan cemas akan keselamatan keluarga mereka di tanah air.

Saat itulah para atlet dan pimpinan tim berdoa bersama sebelum final, dan seluruh anggota tim yang bukan warga keturunan menguatkan teman-teman warga keturunan. All for one and one for all! Persaudaraan yang sungguh amat mengharukan dan menguatkan tim.

Tahun itu adalah satu-satunya tahun di mana tim diberangkatkan dan disambut oleh dua kepala negara yang berbeda. Mereka diberangkatkan Presiden Soeharto, dan pulang disambut Presiden Habibie.

2021 Kita juara lagi setelah penantian amat panjang, 19 tahun! Kita mengalahkan Tiongkok di final. Para anggota tim seperti Anthony Ginting dan Jonathan Chritie masih sangat kecil saat Indonesia juara terakhir kali tahun 2002. Bahkan anggota tim yang paling senior, Hendra Setiawan, baru bisa memegang Piala Thomas saat sudah berusia 37 tahun

Saat ini, anak bernama Piala Thomas itu sedang singgah di bumi pertiwi. Kita tidak tahu berapa lama dia akan singgah. Dua tahun lagi, kita akan kembali memperjuangkan hak untuk menyimpannya kembali, dan melanjutkan sejarah kita bersamanya.

Tangerang, Oktober 2021.