Di media sosial, segala sesuatu yang berbau jodoh, perjodohan, sedang hangat-hangatnya jadi tema unggahan. Apalagi di Instagram, beragam komik atau meme tentang jodoh-perjodohan banyak berseliweran.

“Ketika sendok di tangan kanan, handphone di tangan kiri, dan jodoh tetap di tangan Tuhan.” Itu salah satu contoh yang pernah saya baca dari sebuah caption foto di Instagram.

Kalau kata Emha Ainun Nadjib—kita karib menyapanya Cak Nun, jodoh-perjodohan itu bukan semata urusan pernikahan laki dan perempuan. Menemukan sesuatu yang paling seimbang untuk diri sendiri, itulah jodoh versi Cak Nun.

Masalahnya, menemukan jodoh, menemukan yang paling seimbang dan menafakuri zaman di tengah banjirnya segala sesuatu saat ini, sama sekali bukan perkara mudah. Banjir segala sesuatu itu, ya banjir informasi, banjir ujaran kebencian, banjir unggahan-unggahan nirmakna di media sosial. Padahal, saat ini sebenarnya manusia tengah mencari patokan yang paling tepat untuk menentukan keseimbangan itu.

Seimbang, kata Cak Nun pada Kenduri Kebudayaan di Malang yang diikuti penulis tempo hari (19/1), berasal dari kesehatan yang dalam bahasa Inggris disebut health. Health berasal dari kata hole, holistic, yang berarti menyeluruh. Jadi, keseimbangan terbentuk dari kesehatan yang menyeluruh antara fisik, psikologis, mental, dan spiritual.

Goldberg (1984) menyatakan hal serupa mengenai ini. Orang sakit mental disebabkan oleh karena sakit fisiknya. Sakit fisik yang diderita disebabkan gangguan pada mentalnya. Gangguan mental dan sakit fisik saling memperparah.

Alih-alih menyetujui peribahasa lama “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”, Cak Nun malah membalik peribahasa itu. “Badan sehat tidak selalu melahirkan jiwa yang sehat. Coba saja lihat Setya Novanto. Badannya sehat, tapi bisa nabrak tiang listrik tidak bangun-bangun.” Satir.

Justru, jiwa yang sehat akan melahirkan badan yang sehat. “Tidak ada orang yang berusaha menyehatkan badan kalau jiwanya tidak sehat.”

Meresapkan makna akan keseimbangan hidup ini, Cak Nun lalu meminta sepuluh dari ribuan pengunjung Kenduri Kebudayaan “Tafakur Zaman” untuk memilih satu dari tiga pilihan kata.

Tiap orang mendapat jenis kata yang berbeda-beda. Lantas memilih satu kosakata yang pertama terlintas dari tiga kata yang diberikan Cak Nun. Mereka lalu diminta menyambungkan, korelasi apa yang terkait antara pilihan kata itu dengan keseimbangan.

Salah satu dari sepuluh orang tersebut memilih kata "cinta" dari tiga pilihan kata yang diterimanya. Ditafsirnya, cinta dan keseimbangan memiliki kesinambungan yang kuat. Sebagai kata yang amat lazim ditemui dan digunakan, segala sesuatu dalam hidup harus diawali dengan cinta. Karenanya, apa-apa yang tidak diawali dengan cinta, tak akan jadi sesuatu yang seimbang.

Jika cinta sering kali dimaknai dengan take and give, maka Cak Nun memaknai cinta lebih pada give and give. Take and give lebih bersifat transaksional. Sementara, cinta tak dapat dimaknai sedangkal urusan transaksional macam take and give. 

Cinta bukan take and give, apalagi take and take. Cinta adalah give and give. Memberi dan memberi. Apakah tidak merugikan?

Ketika tidak serius dalam mencintai, ketika memberi berharap menerima, dalam perjalanannya akan menimbulkan kekacauan dalam pikiran. Seolah-olah hidup ini hanya mencari bathi. Mengejar laba. Laba dari memberi yang berharap ganti diberi.

Dalam teori segitiga cinta Sternberg (1988), cinta memiliki tiga bentuk utama, salah satunya yakni keakraban (intimacy). Bentuk cinta yang penuh dengan keakraban salah satunya mengandung komponen untuk membagi diri dan hal-hal yang dimilikinya dengan orang yang dicintai. Give and give.

Memberi dengan tak mengharap pemberian akan menancapkan tulus kesan pada siapa pun yang diberi. Dengan begitu, secara tak sadar, akan ada keinginan yang tulus untuk ganti memberi. Itulah cinta. Cak Nun menghubungkannya dengan habit shodaqoh.

Shodaqoh berasal dari kata siddiq yang berarti benar. Benar tak semata pada perkataan, melainkan juga kesesuaian dengan perbuatan dan keyakinan. Sehingga, jika siddiq adalah benar dalam berkata dan berbuat, maka siddiq adalah keseimbangan.

Maka, kesimpulan Cak Nun bahwa shodaqoh bukan memberi. Memberi hanyalah cara. Karena tanpa memberi, manusia tak akan seimbang. Melalui shodaqoh, dengan cara memberi, manusia sejatinya sedang berproses menciptakan keseimbangan bagi dirinya.

Memang betul. Secara psikologis, manusia akan merasa lega setelah memberi sesuatu pada orang lain. Orang yang gemar memberi atau ber-shodaqoh adalah mereka yang memahami arti penting kehidupan. Dalam kajian psikologi positif, hal ini berkaitan erat dengan kebermaknaan hidup (subjective well-being). 

Shodaqoh juga menimbulkan perasaan bahagia karena telah menolong orang lain, menenangkan jiwa, dan jauh dari rasa gelisah. Tak lain hal ini karena ada sebagian hak orang lain dalam harta yang dimiliki manusia.

“... Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu...” (QS al-Hadid: 7). Maka, benar dikatakan Cak Nun, siapa memberi, keseimbangan diri akan tercapai.

Seorang lain memilih kata enak dari tiga kata: bebas, enak, dan baik. “Bebas belum tentu baik dan enak. Baik belum tentuk enak dan bebas. Enak itu bebas, tapi baik. Ini yang dinamakan seimbang. Enak adalah presisi. Enak adalah titik nol. Presisi dan titik nol ini berbeda-beda pada tiap orang.”

Lagi-lagi, merujuk pada kajian psikologi positif mengenai flow. Flow adalah keadaan saat seseorang mencapai totalitas dalam melakukan aktivitas yang pada akhirnya memunculkan sensasi holistik. Mihaly Csikszenmihalyi, seorang pakar psikologi positif menyebut flow adalah keadaan saat seseorang hanyut dalam aktivitas yang seakan-akan tak ada hal lain yang bisa mengalihkan perhatiannya. Inilah seimbang. Presisi. Titik nol.

Bukan mudah mencapai titik presisi keseimbangan diri. Ia ibarat filosofi belajar sepeda. Jika naik sepeda roda tiga, ia terlalu aman. Maka manusia akan mencari yang lebih menantang: naik sepeda roda dua.

“Seperti anak kecil yang belajar naik sepeda roda dua dan dibimbing dari belakang. Kalau pegangannya dilepas, ia akan nyungsep. Sepeda roda dua memang untuk belajar seimbang. Itulah mengapa seimbang itu susah.” Begitu Cak Nun beranalogi.

Persis seperti flow, persis seperti orang bersepeda, persis seperti itulah orang yang mencapai keseimbangan di atas ‘roda’ dan titik nolnya.