Aquarium

Izinkan aku menyerupai ikan yang berenang dalam ruang tidak terbatas. Menyisir kedalaman samudra, mengelinding di atas karang lalu mencari pakan di dasar kubangan dunia.

Tempat ini memenjara, napasku seperti tersengal, kematian sebentar lagi menjemput apabila rotasiku terbelenggu.

Di sini, aku diam mengikuti segala warna, senyap hati sunyi tampa suara berarti.

Izinkan aku terbebas. Lepaskan, pintaku. Lihatlah mataku redup membuih kesedihan, telah bersemayam selaksa angan dan ingin.

Jendela

Menderai hujan di balik jendala yang menganga. Lolongan malam t'lah menabur segala pekik yang melengking tinggi.

Aku masih terjaga dalam pekat malam. Merenungi jauh renungku. Tatapan mataku berpendar mencari arti dari segala yang tercipta. Apakah ini berarti? Sungguh, aku ingin bertanya pada langit yang diam.

Dalam hanyut pikiran, simfoni mengajakku bernyanyi melawan sepi dari deru angin yang menghadang imaji.

Ku coba bertahan, menggapai khayal yang tersisa terendap waktu. Adakah embun datang sebentar saja memeluk jawaban di ujung muka jendela?

Kota

Cahaya kota kembali pulih dari ancaman kematian. Walau kembali normal dan meredam ketakutan yang bersarang, akankah aku tetap di sini melawan mati?

Tetapi naluriku berkata, menyerahlah sampai batas waktu tak terkira, ataukah pergi membuang segala gelisah yang mendekam.

Mungkin ini permainan alam tuk menguji keteguhan manusia saat tangan telah berbuat. Aku berupaya mengerti dari segala tanda yang ada.

Rindu

Aku teringat pada suatu waktu, dimana hadirmu datang membawa gejala rasa.

Aku belum menemukan getaran sehebat ini. Sejak perkenalan terjadi, malamku selalu di rampas bayangmu.

Apakah kau mengerti rindu? Duniaku telah menjadi milikmu, hanya milikmu.

Jangan hentikan rinduku merambah segala sejuk matamu.

Percayalah, aku ingin kembali memutar waktu dan berada di sisimu. Dan kita saling mengenggam kata "aku milikmu".

Mimpi Bidadari Surga

Semua akan berpaling dari ini, tempat di mana doa-doa di panjatkan di hela nafas yang merayu belas kasih.

Kelak, seluruh perjalan menjadi saksi pada mulut yang membisu. Hanyalah karunia Tuhan menjadi lentera pada malam-malam yang panjang.

Lalu kemudian, aku hendak berlari dari rasa sesal yang tampak nyata. Berharap, dapat melewati lidah api tampa terluka sedikitpun.

Ada perbedaan terlihat di seberang tempat bernama surga. Aku pun datang setelah Tuhan mengizinkan, mataku melihat segala kebaikan hadir tampa ada lagi keluh kesah mendera.

"Kekal-lah bersamaku, agar tak  ada lagi sepi," ucap bidadari seputih marjan itu. Kemudian melangkah pergi menudukkan pandangan menuju sebuah dipan di taman surga.

Aku tertegun mendengar kata itu, ku tampar diriku sendiri. Benarkah ini nyata? Warna jingga di balik fikiranku hilang makna dalam balutan semerbaknya. 

Aku segera berlari mengejarnya hingga nafasku nyaris habis. Entah dari mana asalnya, suara tiba- tiba menggema;

"Hai.. anak manusia, ketahuilah, belum saat engkau tiba, masih  panjang perjalananmu untuk tiba di tempat ini. Kembalilah mencari hati yang teduhkan jiwamu. Bukan dia. Temukan kembali hangat peluk kekasihmu di dunia. Tempat ini masih tertutup untukmu, walau ingatan mengganggumu, kan kusediakan ruang untuk cintamu yang mati". 

Dalam perjalanan pulang, aku mengarungi titian alunan luka dan, mencoba tuk membunuh asmara dalam taman surga.

Rembulan Telah Pergi.

Hujan malam menyelimuti waktu. Wajah rembulan tak lagi nampak menghidupkan fatamorgana. Di ambang pintu, sesak dadaku menanti gelap itu menjelang punah.

Sebuah ragu enggan bertanya tentang berapa lama keadaan ini tercipta. Rasakan hatiku, saat gelap mulai terjatuh, sendu sukmaku tersayat bingkai ingatan.

Dalam kesendirian yang mencekam, nestapa menyeruak dalam rintih masa silam. Di atas selaksa peristiwa, aku menuntun ingatan berjalan tampa cahaya penerang walau mataku sesungguhnya terpejam. 

Bulan telah bersembunyi entah sampai kapan, terangnya takkan mampu merobek gumpalan awan yang berarak. 

Harapan akan hadirnya adalah penantian. Angin membujuk tubuhku agar menghentikan tanya yang menyudutkan.

Tertinggal Sendiri

Ku tinggal bait-bait kata pada kota suratmu. Selepas terbangun esok pagi, bacalah dengan teliti agar jejak bersamaku tetap terpatri.

Lewati hari-harimu sekuat mungkin, jangan ada rindu meratap pilu jika langkahku tak berbalik arah.

Hidupkan cintamu di tempat berbeda, tempat dimana senyummu kembali manis seperti madu.

Biarlah Kata pernah tercatat  pada dinding hati kita yang tak lekang waktu.

Desa  "Terasa"

Setapak Jalan basah akrab menyapa. Realita menyayat hati, menghujat penguasa.

Teduh wacana merebak kala pergantian tahun tiba; aspal hitam akan segera melilit gunung.

Dengan bijak, retorika penyejuk hati terlontar di bawah pemangku kebijakan, menyasar kerumunan orang.

Ku kan mengigat kembali seperlunya, di mana terbentang  tinta merah menghadang. Apakah mungkin menunggu api berkobar lalu sulit tuk di padamkan?

Pukul 22.24 

Lampu minyak di gubuk petani itu telah padam. Di atas rajutan bekas kain terigu, mereka terkapar lelah.

Seharian penuh aku menyaksikan mereka turun ke sawah membawa serta anak dan istrinya. Hari kemarin ia menyatakan kekwatirannya tentang harga pupuk yang melambung tinggi . 

Hanyalah mengandalkan induk ayam terjual agar tidak menyaksikan tanaman padi itu kerdil lalu mati.