Hari Selasa tiba. Lagu Sweat Child O Mine dari Gun’s and Roses membagunkan Aku dari tidur. Lagu tersebut memang menjadi bunyi alarm favoritku. Aku lihat jam di Gawaiku sudah pukul 05.30 kiranya. Langsung aku meloncat dari ranjang dan ku ambil handuk yang tergantung lalu langsung masuk ke kamar mandi.

Selesai dengan mandi, aku langsung memakai baju sekolah. Tanpa sarapan langsung saja aku bergegas menghidupkan mesin motor. Sambil menunggu mesin motor panas aku melihat jarum penunjuk ketersedian bahan bakar motor ternyata menipis.

“ Ah. Ini motor bensinnya lupa aku isi. Kalau aku isi di SPBU pasti akan antri. Baikalah di eceran saja”. Gumamku

Setelah selesai mengisi bensin satu liter dieceran, langsung tancap gas menuju sekolah. Selang beberapa menit aku merasa ada yang tidak beres dengan motorku. Terutama bagian ban.

“ Waduh kempes kiranya. Tapi tidak apa-apalah. Aku akan lebih pelan lagi membawa motornya”. Begitu pikirku.

Pelan-pelan motor iniaku kendarai. Tidak lebih dari 20km/jam. Sekolah ku semakin dekat. Namun aku harus melewati jalan jelek nan berlubang karna itu jalan paling dekat untuk tiba kesekolah. Aku arahkan motor ini dengan lembut dan penuh kasih sayang. Namun tiba-tiba motor yang aku kendarai naik-turun. Aku benrhentikan laju motor. Dan malapetaka pun datang. Bannya bocor. Padahal sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai. Kuberanikan diri melihat arloji ditangan kiri. Dan astagah! 5 menit lagi.

Aku cemas sekali akan terlambat datang waktu itu. Bayangkan saja pada hari itu akan dilaksanakan Ujian Harian pelajaran Geografi. Sementara kini aku masih sibuk memperhatikan ban motor yang tampak lesu tak bertenaga seperti orang yang tidak makan dua hari.

Aku ingat-ingat siapa kiranya temanku yang tinggal didaerah sekitar sini. Tapi itu hanya ingatan sesaat. Berpikir aku sejenak, ada dua hal yang bisa aku kerjakan sekarang. Pertama kutinggalkan motor ini ditempat yang aman, lalu pergi kesekolah dengan angkot. Kedua Aku dorong terus motor ini dan mencari tambal ban.

Baik. Aku putuskan memilih cara yang pertama. Aku akan tinggalkan motor ini ditempat yang aman. Namun, dimana tempat yang aman untuk menitipkan motor ?.

Terlintas dalam pikiranKu warung. Iya Warung!. Aku harus mencari warung. Kalau tidak salah dipengkolan jalan itu ada warung. Aku dorong motorku hingga kepengkolan itu. Dan betul saja warungnya sudah terbuka.

*

Begitulah setelah menitipkan motor, Aku berangkat dengan angkot menuju sekolah. Dan untung saja pagar sekolah belum sepenuhnya tertutup. Disamping pagar tersebut masih berdiri Bapak Wakil Kesiswaan dengan tangan kanan memegang pagar dan tangan kiri memengan buku kasus (buku ini untuk mencatat setiap pelanggaran yang kerjakan oleh siswa/siswi).

Dengan suara yang keras Bapak itu menyuruh siswa untuk mempercepat langkahnya.

“Cepat-cepat sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai”.

Murid-murid di parkiran dan dijalanan berlarian tunggang-langgang. Dan aku yang termasuk yang berlari itu. Ketika telah melewati pagar persaanKu sunggu lega.

“ Untuk tidak terlambat”.

Aku lihat dari kejahuan ternyata guru belum masuk kelas. Namun ketika berjalan menuju kelas dan melewati ruang majelis guru, Buk Eti Guru Geografi ku keluar dan berjalan didepan ku. Sebari senyum aku menyapanya.

Sesampai dikelas, bersaman aku masuk dengan Buk Guru Eti langusng menyuruh ketua kelas untuk memimpin doa. Kebetulan sang ketua kelas teman sebangku Ku.

Selesai dengan berdoa, Buk Guru Eti menyuruh para murud untuk mengumpulkan semua buku catatan dan buku latihan diatas meja beliau. Setelah itu dimulailah ujian harian Geografi.

**

Begitu ujian selesai dan Buk Guru Eti keluar kelas aku melihat jam menunjukkan pukul 08.30. dan masih ada satu mata pelajaran lagi menjelang istirahat. Setelah menunggu beberapa saat kami sekelas mendapat kabr bahwa Guru yang mengampu mata pelajaran tersebut tidak hadir hari ini lantaran beliau sedang sakit.

Langsung terlintas dibenakku untuk mengambil motor yang tadi Aku titipkan diwarung pinggir jalan. Memanfaatkan waktu yang ada aku akan izin kepada penjaga sekolah dan ajak teman sebangku ku sang ketua kelas untuk menemani. Orang biasa memanggilnya “ Odoi”.

“Odoi! Bisa temenin aku ngk?’’

“ Tolong apa?” Odoi masih sibuk dengan Game diGawainya.

“ Begini, tadi motorku bannya bocor ketika dalam perjalanan menuju sekolah. Sekarang motor itu aku titip diwarung pinggir jalan”.

“ Loh. Lalu tadi kamu berangkat kesekolah pakai apa?”.

“ Angkot”

“Oo yasudahlah. Dengan apa kita pergi?”.

“ Dengan motormu lah. Kau punya SIM kan?”.

“ okeoke. Tentu saja aku punya SIM”.

“ Baik, kita berangkat!.